Disebarang jalan kota yang tak pernah terdengar sepi ini terdapat sebuah hotel dengan lampu neon yang menghiasi papan nama bertuliskan “Tatum Hotel”. Hotel yang tak berbintang yang sudah di ulas buruk dengan beberapa traveller yang pernah menginap disana. Hanya disana Ben bisa beristirahat setelah dia mabuk dengan beberapa temannya yang meninggalkannya disebrang jalan dengan keadaan mabuk berat. Tak mungkin baginya untuk pulang ke rumah dengan keadaan yang menjijikan seperti ini. Muntah muntahan nya terserap di kemeja putihnya yang penuh keringat setelah berkerja lembur di kantornya yang tak jauh dari Tatum Hotel.
Ben menyabrang dengan keadaan mabuk. Beberapa klakson mobil berbunyi ketika ia menyebrang jalan dengan oleng. Matanya mengarah ke pintu berputar Hotel. Akhirnya kaki nya sampai ke torotoar dengan keadaan lunglai. tak sadar dengan keadaan semabuk itu, Ben menolak panggilan istrinya dengan voicemail yang dia rekam ketika ada di bar. Ben sampai ketempat seharusnya iya berada sekarang, kamar hotel. Tak tauhu apakah dia check-in atau belum, seorang wanita bertubuh sangat kurus mengenakan celemek hitam, berbaik hati mengantarnya ke kamar yang bahkan belum iya pesan.
Wanita paruh baya itu mengantarkan ben hanya sampai di depan pintu kamar yang tak tahu berangka berapa, sangat terlihat bagaimana mereka pihak hotel menyembunyikan kamar ini. Pintu kamar ini diasingkan dengan meletakannya diujung koridor. Pintunya berwarna pink pastel tanpa angka, jika kalian berdiri di depan pintu ini, kalian bisa melihat nomor kamar yang sudah di coret dan lubang tempat biasa orang mengintip pengunjung kamar di cat rata dengan pintu kamar ini.
Ben melihat ke sekitar kamar dengan tatapan kagum dengan lukisan-lukisan yang dipajang dengan rapih di dinding kamar. Buat orang yang sadar, sejujurnya lukisan itu sangat menakutkan karena tatapan orang dalam lukisan itu sangat mengerikan. Tak lama, Ben akhirnya tertidur tengan pulas di karpet tanpa ia sadari. Malam itu panjang baginya, hanya karena rekan kerjanya yang mengundang dia mabuk-mabukan disebuah bar dan yang lebih parah, mereka meninggalkan ben di sana yang jauh lebih mabuk dari mereka.
Dan dihari itu juga dia terbangun. “arhhhh, tadi malam aku mabuk lagi?!” gumamnya pada dirinya sendiri. Kamar itu terang dengan sendirinya dari jendela jendela berbingkai coklat di dinding hotel. Butuh beberapa saat untuk dirinya bangkit dari posisi baringnya dilantai. Seluruh bagian tubuhnya terasa pegal seperti habis dicabik-cabik. Pelan-pelan memorinya pulih tentang kejadian tadi malam. Bar, mabuk, pelayan dan yang terakhir dia mengigat soal lukisan. Pelan pelan iya terheran dengan dinding hotel itu. Lukisan orang-orang marah itu berubah menjadi jendela-jendela.
H
Badannya bangkit seketika. Mengingat perlahan lukisan seorang perempuan tua perbaju pink yang seharusnya berada tepat depan kasur. Dia membisu, memikirkan jikalau lukisan yang iya lihat ada lah, orang yang sedang mengintip nya melalui jendela hotel. Tanpa rasa takut ben mendekati jendela dimana ia melihat perempuan tua itu. Tepat dari lantai enam dirinya melihat warga kota mendekati TKP yang entah apa. Polisi banyak berhamburan. Ben melihat Dirinya sedang di masukan ke dalam kantung mayat bewarna kuning. Beberapa kali ia berusaha berpikir logis, namun orang yang iya lihat di TKP memakai kemeja biru muda dengan dasi merah, sama seperti yang iya kenakan sekarang.
Welcome. Welcome. Nantikan part 2 nya yah. Pokoe sero.
ZIDAN😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Heartbreak Hotel
Hororprolog Hotel. Tempat yang kamu tinggali ketika sedang berpergian. Tapi, taukah kamu siapa orang-orang yang tinggal disana sebelum kamu?. Apa yang pernah terjadi di ruang yang kamu sewa sebagai tempat peristirahatan mu sementara. Apa yang akan...
