Senin, 28 Juni 20xx
07.10am
Seorang gadis berjalan gontai di koridor kelas X. Ia berjalan seperti tak ada jiwa dalam tubuhnya seraya menatap malas keadaan sekitarnya. Dia berjalan sendirian dengan tangan menggenggam tali tasnya, tak bisa dielakkan lagi dia terkenal sebagai tubuh tanpa jiwa atau mayat hidup yang membuatnya tidak memiliki teman seorang pun. Ya, bisa dikatakan dia gadis terdiam dan teraneh di SMA Satyanegara ini. Bisa dibilang dia adalah murid yang berprestasi tapi tetap tak terelakkan kalau ia adalah murid yang aneh.
Gadis tersebut berjalan menuju tangga rooftop. Dia termenung seraya melihat kebawah, tasnya ia letakan disamping tubuhnya. Melihat orang orang bermain basket, futsal dan bercanda ria membuat dirinya iri, dan merasa tertekan, gadis itu lemah dan butuh penyemangat. Netranya menatap sekumpulan gadis yang sedang bercanda ria dibawah pohon rindang dekat dengan lapangan, bibirnya tertarik sedikit membentuk senyuman tipis seraya bergumam.
"Andai aku mempunyai teman, mungkin aku tidak akan kesepian seperti ini dan tertawa bersama teman teman ku." Gumamnya pelan.
Fokusnya pecah saat dia mendengar bel bunyi masuk. Kembali ia menggendong tasnya dan Ia segera pergi kembali ke kelas nya meninggalkan rooftop dan kembali menjadi gadis yang pendiam seolah tak terjadi apa-apa.
Sesampainya dikelas, lagi-lagi ia dikucilkan. Tak ada yang menyapanya, jangankan menyapa, menatap dan menganggap dirinya ada saja tidak ada. Ia kemudian menghela nafas pelan dan kembali berjalan menuju kursinya, dipojok ruangan. Kutekankan sekali lagi, bahwa ia SENDIRIAN. Ya, dia duduk sendiri dipojok kiri kelas bagian belakang. Teman didepannya hanya menatap datar sekilas lalu kembali fokus pada bukunya. Ia dianggap angin lalu oleh semua orang, SEMUA ORANG. Guru-guru, teman-teman kelasnya teman-teman sekolahnya, bahkan orang-orang kantin, dia selalu menjadi yang terakhir dilayani dan tidak diprioritaskan. Keadaan itu membuatnya tak lagi pergi kekantin pada jam istirahat, melainkan ke rooftop. Dia selalu ke rooftop, karena menurutnya rooftop adalah tempat ternyaman kedua setelah rumahnya.
Pelajaran pertama dimulai, gurunya pun masuk. Pelajaran ini adalah salah satu yang ia sukai yaitu, Math. Ia pandai dalam hitung-hitungan dan penghapalan rumus otaknya dapat langsung sinkron dengan apa yang dijelaskan oleh gurunya. Tak elak, kemampuan itu membuat teman-temannya menjadi iri dan semakin tidak ingin berteman dengannya. Ia terus fokus dan menyimak apa yang disampaikan oleh gurunya, tidak seperti teman-teman kelasnya yang bercanda saat guru itu menerangkan. Berjam-jam telah ia lalui dengan lancar serta fokus yang tinggi sampai tak sadar bahwa bel istirahat berbunyi. Semua teman-temannya keluar menuju ke kantin, ada yang berdua berlima ataupun bertujuh. Lagi-lagi ia tersenyum miris dalam hati dan berandai-andai jika ia sama seperti temannya.
Kemudian ia membereskan buku-bukunya dan berdiri dari tempat duduknya, berjalan keluar kelas dengan langkah yang malas. Ia berjalan kearah tangga rooftop, dengan tatapan kosong seolah ada pikiran yang membebaninya. Semua orang di koridor kelas X melihatnya dengan tatapan jijik, iri, denki, sedih dan beragam ekspresi lainnya yang tak bisa ditebak. Ia sadar ditatap seperti itu, ia tau konsekuensi jika ia membalas tatapan mereka, ia tau semuanya namun mereka tak tau dirinya. Tak ada yang lebih mengenal dirinya selain dirinya sendiri. Ia menaiki tangga satu persatu, hingga sampai pada pintu rooftop lalu ia membukanya dan berjalan sampai pada pagar pembatas rooftop. Lagi-lagi ia menatap kebawah dan tersenyum pedih, pemandangan yang tak pernah membuatnya bosan dan selalu berandai jika ia ada disana. Namun, kenyataan pahit kembali menyadarkannya.
"Haha, Tuhan. Apa salahku? Mengapa ini terjadi padaku? Aku ingin seperti mereka.. tak adakah dari mereka yang paham dengan diriku?" Gumamnya kecil, persis seperti suara cicitan.
Bel kembali menyadarkannya dari imagine yang ia buat. Ia mengambil langkah memutar balik dan agak berlari sambil menyentuh dadanya yang terasa sakit menahan sesak yang kian bertambah.
Kegiatan belajar-mengajar yang ia lewati selama berjam-jam itupun akhirnya berakhir. Kembali ia membereskan buku-bukunya dan bersiap untuk pulang. Ketika guru nya keluar, semua temannya mulai berebut untuk keluar kelas seolah olah ingin menghindari sesuatu dan lagi-lagi ia tersadar bahwa sikap itu ditunjukan untuk dirinya. Ia pun keluar saat keadaan kelas sudah sepi, ia berjalan bukan kearah pintu gerbang sekolah nya melainkan ketangga rooftop yang sering ia kunjungi. Sesampainya dirooftop, ia menaruh tasnya pada kursi yang tersedia disana dan berjalan menuju pagar pembatas.
Menatap sayu teman-teman sekolahnya yang ramai sembari tertawa bersama. Ia kemudian meringis, "ini cukup menyiksa ku" ucapnya spontan.
Ia kembali menatap kebawah, menatap seorang gadis yang tengah memeluk ayahnya yang bersedia menjemputnya pulang sekolah. Lagi-lagi ia memegang dadanya yang terasa nyeri mendadak. Ia tersenyum, senyum yang bagi orang lain adalah senyum yang manis -mungkin- , justru kebalikannya. Itu senyum kepedihan, tangan yang tersisa memijat kepalanya. Tiba-tiba pening datang menyerangnya, sekilas memori-memori masa lampau kembali menyerang titik lemahnya. Tekanan batin yang ia tahan bertahun-tahun seakan meledak saat ini. Ia menangis, menangis sejadi-jadinya. Semua tekanan yang ia tahan semuanya tumpah lewat tangisan yang sangat memilukan bagi yang mendengarnya. Ia menangis sambil meraung-raung, meneriakan seluruh bebanya. Tak ada yang sadar, bahkan satpam sekolah pun tak sadar.
"Kau kuat Tari! Kau kuat! Berhentilah menangis dan menjadi anak cengeng! Orangtuamu percaya padamu, kau kuat seperti mereka! Hiks.."
Ia berhenti menangis saat matahari ingin meninggalkan siang. Ia mengusap kasar air yang membekas di pipinya, lalu mengambil tasnya dan mulai berjalan meninggalkan rooftop. Ia tak sadar, bahwa sedari tadi ada mata merah tajam yang memperhatikannya. Sosok berwujud hitam bermata merah tersebut kemudian menarik ujung bibirnya membentuk seringaian tajam seraya menatap remeh gadis yang sudah keluar dari sekolah ini.
"Hm, menarik."
~~~~~~
Tenang, bukan tentang Korea:3
Persahabatan kok..
Semoga dapet feel nya:0
KAMU SEDANG MEMBACA
Jihan(?)
Acak'Oh gitu?' 'meeooww' 'takk tak takk' 'dukk duk dukk' 'pzzzt pzzt pzzt' 'tess tes tess' 'Sret srett sret' Creathor ; septianidwi154 Inspired by ; - Rahmanda Rizke Fitriana S. - Sabina Nurzahrani - Alfira Risma Perwitasari - Jihan Julia Putri L. - Put...
