Prolog

3.9K 236 92
                                        

"HARRY ...!"

Lengkingan suara bak alarm yang sangat cempreng dan begitu memekakkan telinga terdengar ketika aku sedang tidur. Mau tidak mau mataku terbuka, senyumku mengembang. Aku sudah hapal suara itu, dia adalah Jeanny tetangga depan rumahku sekaligus temanku sejak satu bulan yang lalu. Beranjak dari ranjang, aku melihatnya dari jendela kamar. Dia menunggu di depan pagar dengan tidak sabar. Sejurus kemudian ia berlari memasuki halaman rumahku ketika pintu pagar dibuka oleh ibuku.

Dengan pakaian ala putri kerajaan serta mahkota di kepala dan tongkat di tangannya, dia terlihat menawan ---kupikir.

"Harry, bangunlah sayang, Jeanny mencarimu!" teriak ibuku.

"Yes, Mom," sahutku bersemangat.

Aku menyambar gantungan kunci berbentuk boneka kelinci di atas meja belajar. Aku membelinya semalam, saat pergi dengan ibu ke Supermarket. Sebenarnya ibuku yang membelinya aku hanya sedikit merengek agar beliau mau membelinya.

Apa yang bisa kulakukan selain itu? Aku tidak punya uang, tapi ingin memberi hadiah untuk Jeanny.

Dengan bersemangat, aku membuka pintu belakang mencarinya karena ia pasti langsung ke sana. Kusembunyikan gantungan kelinci itu di belakang tubuh.

"Jeanny, aku bahkan belum sarapan, tapi kau sudah datang." Aku sedikit mengeraskan suara karena jarak kami cukup jauh. Namun, Jeanny tidak menanggapiku, ia berjongkok di dalam kandang kelinci. Sebenarnya tidak berbentuk kandang, hanya sudut halaman yang diberi pagar kayu berbentuk segi empat. Ayahku yang membuatkannya untuk kami sebelum ia meninggal 3 minggu yang lalu.

Aku berlari kecil menghampirinya dan dia membalik badan ke arahku. Dia sesenggukan.

"Why are you crying?" tanyaku bingung.

"Harrold mati." Jeanny merengek seraya mengusap air matanya yang mengalir. Aku masuk ke kandang untuk melihatnya.

"Bagaimana bisa? Dia masih melompat-lompat saat aku melihatnya semalam."

Jeanny semakin keras menangis, itu membuatku tambah kebingungan.

"MOM ...!" teriakku kencang.

"Ada apa, Honey?" sahut ibuku yang baru keluar dari rumah. "Harry, kau membuat Jeanny menangis?"

"No, i'm not! Look!" Aku menunjuk kelinci berwarna putih yang tergeletak kaku di atas rumput sementara satu kelinci lainnya berada di dekatnya.

"Oh ... Dear."

Ibuku melangkahi pintu kandang dengan mudahnya menyusul kami.

"Ini harus segera dikubur." Ibuku menatap Jeanny yang masih menangis.

"Kita akan membeli kelinci yang baru lagi Jean, jangan menangis sayang," tuturnya lembut sambil menghapus air mata Jeanny.

Aku dan Jeanny menatap kuburan Harrold yang ada di bawah pohon dekat kandangnya sementara ibuku sudah kembali ke rumah. Jeanny masih sesenggukan dan aku tidak menyukai ketika dia seperti itu karena aku selalu teringat ibuku yang selalu menangis setiap malam setelah ayahku meninggal. Awalnya aku tidak tahu apa itu meninggal, karena kupikir ayahku hanya tertidur dan orang-orang membawanya pergi. Namun, ketika berhari-hari aku menunggunya pulang untuk bermain denganku, ia tidak pernah kembali. Sejak saat itu aku berpikir jika seseorang meninggal, maka ia tidak akan pernah kembali lagi.

"Bagaimana dengan Jenny? Dia akan sendiri," ujarnya terisak.

"Apa kau tidak mendengar jika kita bisa membeli nanti?!" Suaraku meninggi, Jeanny semakin keras menangis.

"Jeanny, berhentilah menangis jika tidak aku akan pergi!" seruku kesal.

Jeanny menatapku dengan kedua matanya yang basah. "Kau juga akan meninggalkanku? Kenapa semua yang kusayangi meninggalkanku?!"

"Aku tidak suka melihatmu menangis, berhentilah menangis maka aku akan tinggal!"

Jeanny mengangguk, lalu menghapus air matanya sambil berusaha menahan isaknya.

"Aku punya ini untukmu sebagai pengganti Harrold." Aku menyerahkan gantungan kelinci berwarna putih yang sejak tadi masih kubawa.

"This is so cute. Thank you, Harry." Jeanny berhambur memelukku. Sangat erat.

"Jangan menangis lagi! Jika kau menangis, aku tidak mau bermain denganmu lagi."

Kurasakan Jeanny mengangguk menuruti perkataanku. Dia melepas pelukannya kemudian menatapku.

"Aku tidak akan menangis lagi. Aku tidak ingin kau meninggalkanku Harry, aku berjanji." Dia mengusap air mata dan sisa ingus di hidungnya.

"Good." Aku tersenyum secara rahasia mendengar janjinya.

"Ayo kita bermain," ajakku seraya menggandeng tangannya.

Kami menaiki anak tangga yang terbuat dari balok kayu menuju rumah pohon di atas kami.

"Aku jadi putri dan kau jadi pangeran yang dikutuk menjadi kelinci, bagaimana?"

Aku memutar mataku malas, selalu saja seperti itu. "Apa kau tidak merasa bosan bermain itu?"

"Tidak, aku senang menjadi putri kemudian menikah dengan pengeran yang tampan dan mempunyai anak yang tampan serta cantik lalu hidup bahagia selamanya." Jeanny memeluk boneka kelinci dengan senyum mengembang.

"Baiklah, Tuan Putri."


Harry Styles as Him Self.
Barbara Palvin as Jeanny Baker.

Apa kabar Harbara Shipper?

Rencana mau diubah dikit 😊

Remember MeStories to obsess over. Discover now