Andrea menyesap cappuccino yang masih mengepul. Sore ini cukup indah untuk ukuran Jakarta. Langit jingga yang mulai temaram di ufuk barat berpadu serasi dengan awan putih yang berarak tipis di kejauhan. Diliriknya Guess di tangan kiri. Hampir pukul 5 sore. Sialan. Batinnya. Waktu seakan berlari, sementara Andrea masih punya seabreg tugas yang belum selesai.
"Yaelah, pantes aja dipanggil-panggil nggak denger. Lha wong orangnya ada di sini." Sebuah suara cempreng disertai tepukan di pundak Andrea mengejutkannya.
"Anjiir! Lu ngagetin aja sih?" semprot Andrea sambil mendelik.
"Lagian lu ngapain di sini sih? Dicariin big boss tuh," balas Lusi sambil merebut cangkir dari tangan Andrea.
"Ups. Ah, kebiasaan lu. Bikin ndiri napa?"
"Udah buruan gih ke aquarium, ntar keburu arwananya ngamuk loh!" Lusi terkekeh lalu membalik tubuh mungil Andrea dan mendorongnya ke arah pintu keluar pantry. Andrea memutar bola matanya sambil memonyongkan bibir.
"Tunggu pembalasan gue ya!" ancam Andrea sesaat sebelum benar-benar keluar dari pantry. Lusi tertawa lebih lebar sambil meringis mengayunkan cangkir di tangannya. "Ati-ati, say!" balas Lusi terkekeh.
Pembawaan Lusi memang selalu ceria. Meski sering bawel, hal itu justru menjadi salah satu kelebihannya. Berbeda dengan Andrea yang lebih lembut dan tertutup. Lusi bisa bicara berjam-jam tanpa sekalipun menurunkan intonasinya. Sedangkan Andrea lebih suka menjadi pendengar yang baik. Anehnya, perbedaan sifat itu justru menjadikan mereka dekat dan saling melengkapi. Mereka bahkan mengontrak rumah yang sama.
Mbak Laras melambaikan tangannya saat Andrea sampai di depan pintu kaca. Ruangan big boss –begitu ia biasa disapa – ini memang sengaja didesain tembus pandang. Hampir semua sisinya dibatasi dengan dinding kaca transparan. Benar-benar mirip aquarium.
"Mbak Laras manggil aku?" tanya Andrea sambil melongokkan kepalanya.
"Bentar, aku lagi on call ya," bisik Mbak Laras sambil mengangguk dan memberi isyarat Andrea untuk masuk.
Mbak Laras berbicara sekilas pada lawan bicaranya. Sesekali kepalanya mengangguk dan tersenyum. Andrea duduk pelan-pelan di kursi depan Mbak Laras. Diam-diam memperhatikan gerak-gerik bosnya. Pasti klien penting. Batinnya. Mbak Laras bukan tipe orang yang pelit bicara. Kalau sampai dia bicara pendek-pendek seperti ini artinya ada sesuatu yang urgent. Andrea bisa melihat gesture Mbak Laras sepertinya kurang nyaman, bahkan setelah menutup telepon.
"Kenapa Mbak?" tanya Andrea hati-hati.
"Oh, well... sori Re, biasalah ada klien resek. Baru mau kerjasama aja ampuuun deh. Maunya banyak banget." Mbak Laras meletakkan handphone ke meja dan meregangkan kepalanya. Perempuan itu terlihat lelah.
"Ok, jadi gini Re, kita akan punya klien penting for the next few months. Namanya Wilson, yang barusan nelepon tuh. Doi dari perusahaan properti Sky Land Group. Tahu kan artinya apa? Kelas kakaaaap! And you know, klien kayak mereka nggak pernah salah. It means, kita harus bisa melayani mereka dengan super duper the best. Got my point?" cerocos Mba Laras yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Andrea.
"Absolutely understood, Mbak. So, apa yang harus aku kerjain?"
"Aku mau kamu handle project ini. Mulai minggu depan, kamu –"
"Wo, wo wo... aku?" potong Andrea sambil menunjuk hidung mancungnya, "tapi aku kan lagi pegang project-nya Agnes. Itu juga tinggal dua bulan lagi kan? Kenapa nggak nunjuk yang lain aja, Mbak?"
CZYTASZ
The One -Karena Cinta Tak Pernah Pergi-
RomansAndrea tak pernah menyangka, pertemuannya secara tak sengaja dengan Jonathan membuatnya terjebak dalam hubungan yang rumit. Tak hanya harus memilih, Andrea pun harus merelakan dirinya menembus lorong waktu yang membuat serpihan-serpihan kenangan yan...
