1

35 5 0
                                        


Sepasang manik mata hazel milik Orchid perlahan menutup bersamaan dengan ditariknya pisau yang semula menancap di perutnya.

Cairan merah pekat itu pun ikut mengucur memaksa keluar dari tubuh mungil gadis malang itu. Sementara lelaki yang baru saja menusuk sekaligus menarik kembali pisaunya di tubuh Orchid perlahan menampakkan seringaiannya, merasa puas dengan tindakannya tadi. Seolah kejadian yang diperbuatnya tadi hanyalah sebuah mainan baru yang menyenangkan baginya.

Lelaki itu menyeret tubuh Orchid dengan santai menuju sebuah peti. Dengan keadaan tubuh masih terbalut seragam SMA lengkap dengan noda darah yang masih terlihat jelas disana, pria itu menyedekapkan tangan Orchid, kemudian menutup peti itu dengan perlahan. Bahkan ia belum -atau mungkin memang tidak ada niatan- untuk memastikan apakah gadis itu masih bernyawa atau tidak. Ia hanya ingin korbannya kali ini dapat langsung beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan-nya dalam keadaan 'kotor' tentunya.

"Pukul 12.00 malam, Orchidia Celline, meninggal karena ditikam. Rest in Peace, sweet girl" ucap lelaki itu di samping peti tempat Orchid terbaring kaku.

Dengan langkah santai, ia meninggalkan rumah tua yang jauh dari kota itu dengan 'bersih', tak menyisakan setitik bekas sekalipun.

Drrt... Drrt... Drrt...

Ponsel lelaki itu berbunyi menandakan ada telepon masuk. Setelah mengetahui nama peneleponnya, ia segera menerima panggilan telepon tersebut.

"Kerja bagus, boy! Aku suka aksimu saat menikamnya tadi. Kali ini aku akan membayarmu lebih atas hobi luar biasamu itu" terdengar suara dari seberang sana.

"Bukan masalah, aku memang suka melakukannya. Omong-omong, korban yang kau pesan tadi berbeda. Ia cukup... menarik" ucap lelaki itu tersenyum miring.

"Wow, wow, wow! Sejak kapan pembunuh kita ini suka meperhatikan fisik sang korban? Atau mungkin aku yang tak pernah menyadarinya?" goda sang penelepon pada lelaki tersebut.

"Bodoh, aku hanya menganggapnya menarik. Lagi pula ia sudah mati, dan aku tak tertarik pada mayat" ucap lelaki itu sebelum akhirnya memutuskan panggilan secara sepihak.

Jujur, mengobrol dengan atasannya yang satu itu memang harus memiliki kesabaran ekstra. Sikapnya yang tak banyak bicara berbanding terbalik dengan sikap sang atasan yang lebih easy going. Namun keduanya memiliki kesamaaan yaitu memiliki tingkat kewaspadaan yang tidak diragukan lagi.

Mengetikkan sesuatu pada ponsel nya, kemudian ia meletakkan ponselnya ke dalam saku celananya dan berlalu dari tempat yang menjadi saksi bisu saksi pembunuhan yang baru saja beberapa saat lalu terjadi itu.

[by: Mr.  X]

[Transfer uangnya besok, dan aku akan menjalankan misi selanjutnya darimu dengan cepat.] 

[Sent to Mr. Jeff]

The Fallen OrchidStories to obsess over. Discover now