Awal mula pada saat sekolah menengah atas aku mulai mengenal rasa bernama suka. Dan dari situlah semua di uji. Perkara mempertahankan predikat juara sampai mempertahankan kesan baik yg amat menjengkelkan. Aku merasa hidup ku tidak sebebas manusia lain. Aku terkungkung oleh ilusi untuk menjadi seseorang yg bernomor satu. Menurutku itu keren kelihatannya tapi tidak bagi hati kecilku. Aku terlahir dengan kemampuan mengolah kata, bukan mengolah angka. Soal urusan trigonometri itu termasuk hal yg rumit. Tapi soal memproduksi puisi aku yakin aku bisa untuk melakukannya.
Pada sebuah kondisi dimana kita harus bertahan pada suatu keyakinan pada saat itulah niat kita akan di uji oleh sang maha perkasa entah melalui orang tua, sanak saudara, atau bahkan orang terkasih yaitu pacar bagi sebagian orang. Aku berusaha meyakinkan bahwa angka bukanlah tujuan hidupku, tapi kata adalah pilihan untuk aku melanjutkan hidup. Dari kata aku belajar mengungkapkan, dari kata aku belajar mengutarakan, dan dari kata aku belajar mengkondisikan.
Pada titik ini, titik dimana aku akan dihadapkan pada pilihan lagi, pilihan kehilangan mimpi bersama kata.
Aku meyakinkan kedua orang tua ku lagi soal masalah kata ini.
Akhirnya mereka luluh. Bukankah anak diciptakan sesuai dengan bakat nya sendiri ? Jika kalian setuju, itu secara tidak langsung kalian telah mendukung ku meraih asa ku.
Dan pada bagian ini aku dihadapkan pada rasa syukur yg teramat sangat. Rasa syukur yg begitu hebat. Di fase ini aku berhasil bertahan pada pilihan pertama ku.
YOU ARE READING
Suara Aksara
Short StoryTerimakasih untuk Tuhan Yang Maha Esa, atas ridho nya aku dapat menyatakan niat ku untuk kembali menulis. teruntuk malaikat penjaga ku, ayah dan ibu ku terimakasih atas doa kalian. dan untuk seluruh teman, dan musuh sekalipun dari kalian aku lebih m...
