Sebuah awal

9 1 0
                                        


Seorang pria berkemeja putih memasuki sebuah tempat hiburan malam. Ditengah hiruk pikuknya suasana disana, pria itu sama sekali tidak terpengaruh untuk ikut berbaur bersama mereka. Bahkan saat ada wanita bergaun merah menggodanya, pria itu acuh tak acuh. Namun tanpa sepengetahuan pria itu, saat si wanita gaun merah tengah memegang dadanya, terdengar suara jepretan kamera.

Pria itu, Azel Rahardya menghampiri temannya yang tak lain pemilik bar. Dia komplain karena musik yang diputarnya terdengar bising. Melihat ke meja DJ, tak ada seorang pun yang ada disana. Azel mengaku pernah bermain-main dengan seorang DJ, jadi dia mau mencobanya. Temannya agak ragu dengan kemampuan Azel.

Seorang wanita berpakaian formal dengan kacamata besar yang menghiasi matanya serta pakaian panjangnya masuk ke bar yang sama. Dia, Briana Yuriuna biasa dipanggil Ana berjalan menghampiri teman-temannya yang sudah berkumpul. Temannya heran, apa Ana itu Malaikat Pencabut Nyawa? Dia benar-benar datang ke klub menggunakan pakaian seperti itu?

“Aku barusan ikut wawancara kerja.” Aku Ana

Azel mulai memainkan musiknya. Musik bising yang barusan diputar diubahnya menjadi musik yang enak untuk berjoget. Teman-teman Ana memutuskan untuk turun dan menari. Namun Ana tetap bersikukuh duduk di kursinya. Dia hanya memperhatikan keasyikan temannya sambil terus menenggak bir.

Auh, aku seharusnya tidak datang. Aku seharusnya tidak ke klub. Ah, Tidak apa-apa. Aku yakin aku bisa lolos wawancaranya. Suasananya seru. Banyak cewek cantik disini. Minumannya juga enak. Semuanya bagus kecuali aku.” Batin .Ana

Ana kini benar-benar sudah mabuk. Baiklah, dia memutuskan untuk menari sekarang. Ana segera melepaskan kacamata serta ikat rambutnya. Mengibaskan rambutnya dengan manja dan berjalan penuh percaya diri. Ia berjoget di tengah kerumunan dan seorang pria tampan menemaninya.

Oppss, tapi itu cuma khayalan Ana aja. Pada kenyataannya, dia berjalan sempoyongan dan berjoget gaje sambil meracau tidak jelas sampai orang lain melihatnya dengan aneh. Seorang pria menghampirinya, tapi bukan pria tampan melainkan pria lemah gemulai yang langsung meliuk-liuk menemani Ana. Ana ngeri dan langsung kabur dan berjalan sempoyongan untuk ke toilet.

Namun saat dia mau ke toilet, ia malah melihat pasangan yang tengah mesra-mesraan di pojokan. Kontan Ana memperhatikan mereka dan kepikiran dengan novel yang baru dibacanya, pria di novel itu memegang dagu pasangannya kemudian berkata “Mata, hidung, dan bibirmu sangat sempurna.”

Tapi realitanya, Azel tengah berbicara pada gadis dihadapannya dengan nyinyir “Kau mengoperasi matamu, hidungmu dan kau mengecilkan pipimu.”

Ana tak tahan lagi melihat kemesraan mereka. Dia buru-buru menutup mata dan berlari melewati mereka berdua.

Azel hanya melirik ke arah Ana dengan heran. Dia pamit pada wanita dihadapannya, dia sedang buru-buru. Wanita itu menahan Azel dan menyudutkannya ke tembok, ia mengajaknya untuk bermain-main dulu. Bersamaan dengan itu, terdengar beberapa kali suara jepretan kamera yang tak lain paparazzi tengah memotretnya.

Namun Azel sama sekali tidak terpengaruh dengan rayuan wanita tadi, dia harus pergi memberi makan kucingnya. Kontan wanita dihadapannya berteriak kaget, apa? Kucing?

* * *

Keesokan paginya, Azel dipanggil Ayahnya karena berita yang baru di rilis wartawan “Pewaris Grup Rahardya dan Selingkuhannya tengah bercumbu di salah satu diskotik”. Apa tidak cukup dia menghabiskan uangnya dan sekarang malah merusak nama baik Ayahnya?

“Yah, peringkat kekayaan Ayah juga pada akhirnya tidak akan terkalahkan walau dengan salah satu berita itu.” Enteng Azel.

Sontak Bayu ayahnya menggebrak mejanya dengan marah, dia menyuruh Azel mengemasi barangnya dan pergi ke salah satu Resortsnya untuk belajar mengelola perusahaan. Azel pun  menolaknya dengan keras. Sementara Bayu enteng memanggil sekuriti untuk menyeret Azel keluar. Azel segera menghentikan Ayahnya, Ayah tidak perlu mempermalukannya. Dia mau pergi kok. Memangnya dimana?

Di tempat lain Ana pergi ke tempat kursus memasaknya. Tapi dia memang super parah dalam hal memasak. Buktinya belum apa-apa dia sudah menggosongkan masakannya. Pengajar memasak menghampirinya dengan geram, tidak sekalian di bakar sekalian sampai habis masakannya? Sudah empat atau tiga kali dia gagal menyelesaikan masakannya?

“Tiga.”

Pengajar menyuruh Ana untuk keluar saja kalau sampai gagal lagi. Mungkin tempat kursusnya memang tidak cocok dengannya. Mengapa tidak pikirkan pekerjaan selain memasak yang cocok untuknya?

Ana berjalan ke tempat kontrakannya. Dia sudah dapat note didepan pintu memberitahukan jika kontraknya habis dalam 30 hari. Ana menerima telepon dari Ibunya, dia tegas menolak untuk datang ke tempat pernikahan Ibunya. Siapa suruh dia melakukan resepsi di Resort Braya yang letaknya jauh dari kosannya?

Dia pun memutus sambungan teleponnya. Tapi saat dia mau masuk ke rumahnya, Ana melihat undangan pernikahan Ibunya yang sudah terselip di pintu.

Senmentara Azel merengek menolak untuk naik bus. Dia kan punya mobil, buat apa pula harus naik bus. Sekretarisnya membentak menirukan ucapan Tuan Rahardya,
Anak itu masih perlu banyak belajar! Jangan berikan dia uang blokir kartu kreditnya dan juga mobilnya! Semua yang dia punya! Itu yang tuan katakan.”

Azel masih terus protes dan meminta kunci mobilnya. Namun Sekretaris Prabu tetap menolak dengan alasan apapun. Dengan paksa, dia meraih koper Azel dan memasukkannya ke bagasi bus. Disaat itu Azel benar-benar marah, jangan mendekat atau dia akan membunuhnya. Sekretaris Prabu tidak perduli, dia menyeret Azel untuk masuk ke bus.

Disaat yang bersamaan Ana masuk ke bus yang sama sambil membopong kopernya. Dia kebingungan mencari tempat duduk kosong. Tanpa sengaja, koper yang dibopongnya mengenai kepala seorang pemuda, Azel. Kontan Azel kesal dan memanggilnya dengan sinis. Ana menoleh dan melihat kursi kosong disamping pemuda tersebut, dikiranya Azel  memanggilnya untuk memberitahukan kursi kosong itu. Ia pun mengucapkan terimakasih.

"Permisi apakah saya bisa duduk di sebelah anda? " ucap membenarkan kaca matanya.

"Ehm " berdehem mengiyakan

Ana meletakkan kopernya di bagian atas bus itu. Tanpa sengaja buku yang ada ditangannya jatuh ke wajah Azel. Sontak Azel mendesis dengan kesalnya, dia makin sinis melihat judul buku milik gadis itu “Selera Tersembunyi Si Bos”.

Ana melipir duduk dikursi sebelah Azel. Bertepatan saat itu, tiba-tiba bus-nya jalan sehingga Ana oleng dan jatuh tepat di pangkuan Azel. Azel melemparkan tatapan mengerikan.

"Apakah nona bisa menyingkir dari hadapan saya" ucapnya dingin

"Ah.. Ma. Af" ucapnya kikuk
Ia pun bergegas turun dari pangkuannya. Azel tambah geregetan bukan kepalang.

*********

Jangan lupa vote nya and komentarnya ✌✌✌✌✌✌

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 23, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BrianaWhere stories live. Discover now