Entah sudah berapa lama ia terus berlari bersama seorang pria yang tengah menarik tangannya isyarat agar mempercepat larinya. Dengan beberapa luka lebam di pipi, pelipis dan bahunya belum lagi sang pria yang satu jemarinya nyaris patah akibat injakan dengan darah yang mengalir disudut bibirnya.
Sekelompok orang dengan berbagai senjata turut ikut andil dalam pengejaran ini, beruntung saja tidak seorang pun yang memakai pistol. Benarkah mereka beruntung?.
"Itu mereka!!!" Teriak seorang pria dengan sebuah balok kayu kecil ditangannya namun terlihat mematikan. Mendengar teriakan itu "mereka" pun mempercepat larinya menelusuri jembatan Gwangan.
Hanya sedikit kendaraan melintas karena waktu menunjukan tengah malam. Dengan kondisi yang sudah kacau, sepatu stiletto yang dipakai wanita itu tadi pagi sudah tidak nampak lagi dikakinya.
Di depan, mereka dihadang oleh beberapa komplotan lainnya, memaksa mereka berhenti. Dengan bingung ia berjalan mundur dengan perlahan.
Tidak ada jalan keluar.
"Mau kemana lagi kalian?!" tanya pria yang membungkuk sambil memegangi kedua lutut dengan nafas yang terengah-engah dan sebuah tongkat besi di tangannya yang ia lemparkan ke sembarang tempat.
"Hyung, kita harus membawa mereka hidup-hidup." Ucap salah satu pria yang lebih muda dari lelaki tadi.
"Aku juga tau, brengsek!" Umpatnya sambil menampar wajah pria yang lebih muda darinya itu.
"Tidak ada jalan lagi." Lirih perempuan dengan suara yang terdengar sangat pasrah.
"Kau percaya padaku.." Ucap si pria sambil mempererat genggaman tangan wanita disampingnya.
"Tangkap mereka!" Teriak si pria yang baru saja menampar temannya itu, secara bersamaan yang dia sebut 'mereka' berlari
menuju pembatas jembatan
dan melompat.
P.s : maafkan kalau kurang jelas hehe :v.
YOU ARE READING
Could it be
Fanfiction"Bodohnya aku yang terus percaya padamu Mino-ssi..." "Kau yang menciumku duluan saat di toilet pria Soyeon-ssi" "Jebal hyung, hentikan semua ini! Aku mencintainya! Aku yang mencintainya!" "Yang ku butuhkan hanya tanda tangan atau cap jariny...
