Gua hidup di masa dimana orang-orang mulai terlalu peduli akan diri mereka sendiri. Entah siapapun mereka, mereka hanya memperdulikan dirinya dan dirinya. Tapi disini gua mulai tau bahwa kehidupan itu dilihat ga hanya dilihat dari sisi ini, tapi dari banyak sisi yang belum sempat gua lihat.
Pagi itu, pagi yang sebenernya sangat gua benci pagi yang paling gua gasuka iya itu pagi dihari setelah minggu. Bunyi alarm yang daritadi bunyi membisingkan kamar gua, gua abaikan hingga gua pun jenuh sendiri akan bunyi alarm khas dari hp gua. Entah apa yang harus gua perbuat semuanya hening sekarang tak ada bunyi satupun kecuali nafas gua yang se dari tadi tak henti bernafas. Duduk hening tanpa melakukan apapun itu yang biasa gua lakukan sesaat gua tersadar dari mimpi buruk yang menghantui gua, iya mimpi itu mimpi itu.
el.... el.... el.... teriakkan yang tak samar lagi ditelingaku, iya itu suara bibi yang sedaritadi memanggilku untuk segera sarapan. "iyaa bi, aku dah bangun" ucap gua beranjak dari kasur dimana gua selalu bermimpi itu. "ini el sarapannya, kamu sarapan dulu yah" saut bibi menyajikan sarapan setalah aku duduk di meja makan, iya seperti biasanya pagi yang dimulai hanya sendiri menatap kosong ke depan mata. Kami keluarga kecil yang hanya terdiri dari gua, adik, bunda dan ayah. Dan pagi ini dimulai seperti biasanya, ya seperti biasanya seperti saat aku duduk di bangku smp dulu. Ya semua ini baru saja di mulai. That is my life.
YOU ARE READING
Matahari
Teen Fictionkisah anak muda yang mencoba maju dari dirinya yang selalu ter ngiang-ngiang akan masa lalu, maju ke depan sampe akhirnya dia menemukan sang matahari, matahari yang kembali menyinari dari kegelapan yg menyelimuti dirinya
