Welcome To The HAN Kingdom

1 0 0
                                        

“Uhh…”

Kepalaku terasa berat, dan tangan kakiku terasa lemah. Aku berusaha keras membangkitkan kesadaranku. Perlahan kubuka mataku, dan kulihat sekitar.

“Merahnya…”

Sepertinya aku tersadar di sebuah hutan belantara. Aku tidak bisa ingat siapa aku, tempat asalku, latar belakangku, atau apa yang baru saja terjadi padaku. Hanya rasa sakit yang menerpa ketika kucoba mengingatnya kembali. Kuperiksa di sekitarku. Semuanya terlihat biasa saja, tidak ada yang mencurigakan.

“Ugh…”

Dengan tenaga yang tersisa, aku mendorong tubuhku yang lemah untuk bediri. Setelah bersusah payah mengangkat tubuhku, aku berdiri tegak melihat ke depanku.

“…Hitamnya…”

Meski tanpa ingatan, tetapi perasaanku mengatakan kalau aku harus pergi ke kegelapan itu. Mungkinkah ini sisa-sisa dari diriku yang sebelumnya?

“Uhh…”

Aku mencoba berjalanm walau tertatih-tatih. Mulai dari kaki kiri, lalu kaki kanan, kiri, kanan. Setelah beberapa langkah, aku dapat berjalan lebih cepat.

Langit menjadi semakin gelap, jarak pandangku semakin berkurang. Tidak hanya itu, entah kenapa keinginanku untuk berjalan ke arah yang kutuju semakin berkurang juga. Setelah lama berjalan, aku melihat sesuatu berujung lancip dari kejauhan. Setelah berjalan mendekat, ternyata itu adalah sebuah menara yang ada pada sebuah dinding pembatas.

“Berhenti!” Seseorang pria dengan baju zirah datang menghampiriku. “Siapa kamu?”

“Aku… tidak ingat.”

“Ha?” Ucapnya tidak percaya. “Apa maksudmu?”

“Ingatanku hilang, jadi aku tidak bisa tahu asal usulku.”

“Eh?” Pria baju besi itu sepertinya bingung. Ia diam sebentar, lalu ia berkata “Kalau begitu, bagaimana kamu bisa tahu kerajaan ini?”

“Entahlah. Aku kemari karena mengikuti perasaanku.”

Kurasa ia semakin bingung, terlihat dari tingkahnya yang menggaruk-garuk kepalanya padahal dia sedang pakai pelindung kepala. Ia pun kembali pada teman-temannya di belakang dan berbisik-bisik. Tak lama kemudian, pria itu menghampiriku lagi, dan kulihat sepertinya salah satu dari mereka masuk ke dalam kerajaan.

“Maaf, kami tidak bisa membiarkanmu masuk begitu saja.” Ucap pria tersebut.

“Begitu ya…” Ucapku kecewa.

“Tapi, kami sudah memanggil Ketua. Ia yang akan menentukan boleh tidaknya kamu untuk masuk.”

“Ah, oh, baiklah…”

Aku tidak menyalahkan keputusannya. Aku layak untuk dicurigai. Bahkan aku tidak percaya dengan diriku sendiri. Aku pun duduk menyandar tembok pembatas ini.

“Kamu.” Pria itu memanggilku kembali. Aku menoleh kepadanya, lalu ia berkata “Daripada duduk di situ, lebih baik kamu masuk ke sini.” Ucapnya menawarkan.

“B-baik.”

Aku pun mengikutinya masuk ke dalam gerbang tembok pembatas. Ternyata di dalam tembok ini terdapat kamar kecil dengan meja, kursi, dan dua lentera.

“Kamu bisa duduk di kursi itu.” Tawar pria itu menunjuk ke kursi di belakang meja.

“Baik, terima kasih.”

Aku pun duduk, menunggu kepastian. Penjaga keluar masuk bergantian, dengan sedikit melirik, seperti memastikan bahwa aku tidak berbuat macam-macam. Aku hanya bisa diam dan memaklumi mereka. Beberapa lama…

“Halo…”

Seorang pria datang ke mari. Ia memakai baju zirah yang lebih tipis, hanya memiliki pelindung kaki bawah dan lengan atas, dan tanpa pelindung kepala. Sepertinya ia seorang yang sering bertarung dari belakang atau orang yang mementingkan kecepatan menyerang.

“Apa kamu orang yang lupa ingatan itu?” Tanyanya.

“Iya, itu aku.” Ucapku mengiyakan.

Pria itu duduk di hadapanku. Mata jingganya menatapku dengan tajam.

“Ahahaha… maaf ya, menunggu lama.” Ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Habisnya jarang sekali kejadian ini terjadi.” Lanjutnya.

“Ah, eh… tidak masalah.”

“Namaku Roxas, Kepala Ksatria dari Kerajaan Han.” Ucap pria itu memperkenalkan dirinya. Lalu ia mengeluarkan secarik kertas. Ia pun mengeluarkan sebuah balok kecil dengan ujung lancip.

“Itu apa?” Tanyaku menunjuk benda aneh yang baru kulihat itu.

“Pensil.” Jawabnya, “untuk menulis keterangan tentangmu.” Lanjutnya.

Aku mengangguk mengerti.

LANJUT BAGIAN 2

The GuardianStories to obsess over. Discover now