Prolog

13 2 0
                                        

"Nama gue Emyga Merisma. Kalian boleh panggil Emy atau Myga. Tapi lebih banyak yang panggil Emy. Semoga kita bisa berteman baik!"

Naik kelas memang membuat kita harus berkenalan dengan teman baru lagi dan lagi. Menyulitkan sekali kenaikan kelas bagi Emy, karena ia sendiri tak suka menyebut nama panjangnya dan bertele-tele memperkenalkan diri. Tapi itu memang harus dilakukannya bukan? Atau ia akan terus sendirian dan tak menemukan teman yang bisa memanggilnya di kelas.

"Panggil Emy aja deh.. lebih enak!"

Emy mendengus kesal karena teman-teman sekelasnya yang baru masih saja membahas namanya. Emy sebenarnya juga suka dipanggil 'Emy' tapi bagaimanapun ibunyalah yang juga memberikan panggilan Myga untuknya, jadi tidak salah kan menyebutkan dua nama itu?

"Gak lah Myga lebih enak.. kan jadi inget iga!"

Emy menggembungkan pipinya mendengar penuturan salah satu anak yang berada di belakang. Apakah ia terlihat seperti iga sampai anak itu menyebutnya iga? Entahlah biarkan anak itu menyimpan jawabannya sendiri.

"Lahh sudah-sudah!  Kalian ini gimana? Malah bahas iga. Tuh Emy udah marah!"

Emy semakin kesal karena sekarang ia malah diperhatikan.  Bolehkah ia pingsan sekarang? Emy paling tidak suka jadi pusat perhatian.

"Ya. Jadi, kita udah kenalan semua kan? Ibu mau nentuin satu hal nih. Kita bakal atur tempat duduk dulu. Sebelumnya, siapa yang disini punya rabun mata?"

Beberapa anak mengangkat tangannya, ada yang pasti dan beberapa ragu-ragu. Emy mengutuk dalam hati, dia sudah rela datang pagi-pagi dan berkeliling mencari kelasnya hanya untuk dibarisan depan. Dan ia tak ingat kalau matanya masih sehat wal afiat. Maka ia yakin akan tergeser beberapa langkah kebelakang 'lagi'.

"Emy, Ria, Clara, kalian bisa pindah kebelakang supaya teman kalian yang rabun bisa duduk di depan."

Nadanya terdengar memerintah, dan Emy sudah meramalnya. Ia tak bisa menolak maupun menerima, jadi yang ia lakukan hanyalah berdiri sambil menenteng tasnya.

"Emy, kenapa kamu belum pindah?"

Emy menatap wali kelasnya dalam, sampai-sampai wali kelasnya memalingkan wajah untuk menghindari tatapan Emy yang memang jleb itu.

"Maaf bu, Emy tidak mau duduk di belakang. Setidaknya berikan saya barisan dua atau tiga. Ibu tahu? Saya sudah duduk di tempat ini dari saat matahari baru terbit."

Ucapan Emy barusan membuat gurunya menelan ludah. Entah kenapa ucapannya dalam sekali. Sampai terdengar seperti ancaman dari seorang teroris yang ingin membungkam. Tapi, seorang anak laki-laki yang duduk barisan empat malah menyambut ucapan Emy dengan gelak tawa yang nyaring, dan di ikuti tawa anak yang lainnya.

"Laah.. gue baru bangun tuh jam segitu Em."

Emy meremas roknya karena kesal. Apa yang salah dari ucapannya? Emy berdehem dan membuat kelas kembali tenang. Entahlah, tapi Emy memang menakutkan.

"Baik.. kamu bisa duduk di barisan ketiga didepan Yudha. "

Emy menatap setiap anak yang duduk dibarisan empat, berharap menemukan anak yang bernama Yudha. Tak tahu bagaimana, gurunya dapat begitu cepat menghafal nama siswa kelasnya. Seorang anak laki-laki melambai dan menunjuk tempat duduk kosong di depannya. Memang, bukan hanya satu melainkan ada tiga tempat duduk kosong di barisan tiga yang membuat Emy bingung mana kursi yang ditunjuk gurunya.

"Lo Yudha?"

Suara Emy terdengar agak serak. Emy berjalan ke kursi yang ditunjukkan meletakkan tasnya disana. Emy kembali fokus pada guru didepan sampai ada yang mengetuk kursinya si belakang.

"Bawa pensil lebih nggak?"

EmygaStories to obsess over. Discover now