1

8 1 0
                                        


Pagi ini, aku menyeret kardus besar di sudut kamarku dengan langkah gontai. Kemudian, aku menatap rak penuh buku di hadapanku.

"Huh, Aku harus segera merapikannya,"

Aku mulai memisahkan buku-buku yang sudah tidak terpakai saat sebuah foto terjatuh ke lantai. Aku memungutnya. Foto ini. Foto yang mengingatkanku akan kenangan masa lalu. Foto yang mengingatkanku tentang diriku tiga tahun lalu.

---

Tiga tahun yang lalu.

Aku benci dia

Mengapa semua ini terasa tidak adil bagiku?

Kalimat-kalimat itu lagi-lagi menghiasi buku harianku.

Apa salahku? Mengapa orang tuaku melakukan ini padaku? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepalaku. Mencoba untuk mencari sebuah jawaban. Kubiarkan rasa benci ini menguasai diriku sekali lagi. Membiarkan air mata kembali membasahi wajahku.

Dia adalah adikku, saudara kandungku,Neo. Seseorang yang seharusnya menjadi orang terdekatku. Namun, dia mengambil segala milikku, merenggut dengan semua hakku, kasih sayang, dan perhatian orang tuaku.

Aku benci. Aku benci saat tak ada lagi yang mendengarkan ceritaku. Aku benci ketika aku harus selalu dibandingkan dengannya. Aku benci ketika tak ada lagi yang memperhatikanku. Aku benci ketika lagi-lagi aku harus menangis karenanya.

Sejak kehadirannya, ceritaku seakan tenggelam oleh ceritanya. Diriku selalu dinilai lebih buruk daripada dirinya. Kehadiranku seakan tak ada artinya.Seperti kala itu, aku mengayuh sepeda dengan kencang, ingin segera pulang usai sekolah. Saking cepatnya aku mengayuh sepeda, aku terjatuh. Lutut dan sikuku penuh luka, darah menetes dari keduanya. Siang itu, aku pulang ke rumah dengan berjalan menyeret kakiku sambil menuntun sepeda. Sesampainya di rumah,aku melihat Mama berlari ke arahku dengan wajah khawatir. Aku tersenyum, mengira bahwa Mama memperhatikanku dan mau mengobati lukaku. Namun, ternyata itu hanya sebatas perkiraan. Setelah berada di hadapanku, Mama justru memintaku segera kembali keluar, membeli obat merah untuk mengobati luka kecil di jari Neo. Mau tak mau, aku mengikuti perintah Mama, berbalik badan dan kembali berjalan terseok. Saat itu, rasanya seperti diterbangkan hingga menembus awan lalu dijatuhkan dari ketinggian ke palung terdalam. Sakit. Hari itu, luka di tubuhku tak lebih menyakitkan daripada luka di hatiku.

Tak hanya itu, pernah suatu ketika, aku sedang asyik membaca buku di ruang tamu, sedangkan Neo sedang bermain di kamarnya. Saat Mama dan Papa tiba di rumah. Setelah mengucap salam, bukannya menanyakan kabarku yang sudah jelas ada di depan mata mereka, Mama dan Papa justru menanyakan keberadaan Neo.

"Adik mana, Shei?"

Aku yang saat itu ingin bercerita panjang lebar kembali mengalihkan perhatian pada buku di hadapanku dan mengangkat kedua bahuku, acuh. Sebegitu tidak pentingnyakah diriku? Apakah mereka akan mencariku juga bila Neo yang ada di posisiku? Aku rasa tidak.

---

Seperti biasa, aku melangkahkan kaki di sepanjang koridor sekolah, meniatkan hati untuk menuntut ilmu sekaligus melupakan sejenak segala kejadian yang kualami di rumah. Pagi itu, aku melihat sekelompok siswa di depan papan pengumuman. Penasaran, aku mendekat. Disana aku melihat Cika, teman sebangkuku.

"Cie,Selamat ya, Shei," katanya tiba-tiba. Aku mengerutkan dahi. Seakan bisa membaca pikiranku, Cika menunjuk kertas yang sekarang menjadi pusat perhatian. Disana tertulis "Pemenang English Contest, story telling:SHEINA DEVANATA PUTRI". Setelah membacanya, aku melompat kegirangan.

"Shei, denger-denger semua pemenang bakalan disuruh tampil di acara pensi akbar lusa, lo tampil kan?" tanya Cika.

"Pensi akbar?"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 18, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PAINStories to obsess over. Discover now