- - -
Awan mendung mulai menghiasi Kota Jakarta di pagi hari ini, karena semalam langit cerah terlihat di langit, membuat siapapun yang menatap langit akan dengan mudah juga melihat bulan dan bintang-bintang yang bertaburan.
Gadis berambut panjang, tergerai berlari tergesa-gesa kedalam kelas 8D, kelas sahabatnya, saat tiba di ambang pintu dia menahan lengan salah seorang siswi kelas 8D kemudian bertanya, "Ka, Ziah udah Dateng?"
"Belum." Rika Menjawab cepat, kemudian berjalan duluan ke lapangan upacara bersama teman-temannya yang lain. Diapun tak ingin lama-lama berada disana karena upacara akan segera dimulai.
"Ngeselin banget sih bocah, tau-an hari Senin tapi Dateng terlambat Mulu.. jadi gak bisa baris paling depan lagi kan.." Alisha mendumel sepanjang kakinya melangkah di Koridor menuju lapangan upacara.
Saat sampai di lapangan dia pun ikut masuk kedalam barisan kelas 8 yang bersampingan dengan anak kelas 9 laki-laki, di samping kanannya.
"Mudah-mudahan masih keliatan dari sini." Alisha berdoa dalam hati.
Upacara sudah masuk kedalam bagian, Amanat pembina upacara. Pemberi amanat itu terus saja membicarakan hal yang menurut para murid SMP Gemilang kurang penting. Sementara awan Mendung pagi tadi sudah berganti dengan teriknya matahari. Membuat hampir semua murid SMP Gemilang mendumelkan guru itu, karena kegerahan.
Sementara itu, dilain sisi, Alisha malah senang karena Guru itu lama memberi amanat, tak peduli keringat yang mulai membasahi dahinya. karena dia bisa melihat Laki-laki yang berdiri ditengah lapangan dengan keringat yang mulai mengucur di ujung pelipisnya. Namanya Nava, Nava Razhan Abigail, kelas 9A. Ekskul Paskibra. hanya itu yang Alisha ketahui, selebihnya tidak.
Saat Laki-laki bernama Nava itu berkata tegas "Siap Grakk!!" pembina upacara telah selesai memberikan amanat nya, Alisha mulai tersadar dari lamunan nya yang sedang memikirkan Nava.
_ _ _
Hai! Jangan lupa Vote dan comment nya ya..
Beri kritik dan sarannya juga tentang cerita ini...
YOU ARE READING
Little Secret
Short StoryDia itu hebat di mataku. Tapi, setelah tahu yang sebenarnya, apakah dia masih yang terhebat di mataku?
