Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Episode 1

2.5K 464 15
                                        

Malam di awal musim gugur selalu datang dengan cara yang berbeda.


Ia tidak terburu-buru menelan langit, tidak pula menghadirkan gelap yang mengintimidasi. Malam hanya turun perlahan, seperti seseorang yang memahami bahwa sebagian manusia membutuhkan keheningan lebih banyak daripada cahaya.

Di sebuah kota kecil di negara bagian Baden-Württemberg, Jerman, jalan-jalan telah lama kehilangan keramaiannya. Deretan rumah bergaya klasik dengan dinding berwarna krem dan putih berdiri rapi di kedua sisi jalan berbatu. Lampu-lampu taman memancarkan cahaya kekuningan yang lembut, memantul pada dedaunan maple yang mulai mengering, sementara angin musim gugur berembus perlahan, menggiring beberapa helai daun jatuh ke trotoar dalam keheningan yang nyaris sempurna.

Tidak terdengar suara kendaraan.

Tidak ada tawa anak-anak.

Tidak ada musik dari rumah tetangga.

Hanya sesekali lonceng gereja tua di pusat kota berdentang pelan, suaranya memecah kesunyian seperti ingatan yang datang tanpa pernah diminta.

Di kota itu, malam selalu tampak damai.

Begitu damai hingga siapa pun akan mengira tidak ada seorang pun yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri.

Namun ketenangan sebuah tempat tidak pernah menjamin ketenangan seseorang yang tinggal di dalamnya.

Di ujung sebuah jalan yang sedikit menanjak, berdirilah sebuah rumah dua lantai yang telah berusia puluhan tahun. Halaman depannya ditumbuhi rerumputan yang dipotong rapi, dengan pagar kayu putih yang mulai memudar dimakan waktu. Sebatang pohon apel berdiri di samping rumah, ranting-rantingnya bergoyang pelan diterpa angin malam.

Rumah itu tampak hangat dari luar.

Jendelanya memancarkan cahaya.

Pot bunga masih tertata di teras.

Tidak ada satu pun yang terlihat salah.

Akan tetapi, beberapa rumah memang pandai menyembunyikan kenyataan.

Sebab rumah itu sudah terlalu lama kehilangan suara.

Tidak ada aroma masakan yang memenuhi dapur.

Tidak ada percakapan makan malam.

Tidak ada seseorang yang saling mengucapkan selamat tidur.

Rumah itu tetap berdiri sebagaimana mestinya.

Tetapi sejak dua orang dewasa memilih berpisah dan membawa ego mereka masing-masing keluar dari pintu depan, bangunan itu perlahan kehilangan makna sebagai rumah.

Kini hanya ada satu penghuni yang tersisa.

Seorang remaja laki-laki berusia enam belas tahun.

Alaric Schneider.

Lampu di kamar lantai dua masih menyala.

Di balik jendela yang sedikit terbuka, Alaric duduk seorang diri di depan meja belajar yang menghadap langsung ke halaman belakang. Sebuah meja kayu sederhana dipenuhi buku pelajaran, lembar tugas, kamus Bahasa Inggris, kalkulator, dan beberapa buku psikologi yang usianya bahkan lebih tua daripada dirinya.

Ia bersekolah di sebuah sekolah swasta bergengsi di kotanya.

Nilainya selalu baik.

Guru-gurunya mengenalnya sebagai murid yang tenang.

Teman-temannya mengenalnya sebagai anak yang jarang berbicara.

Tak seorang pun pernah benar-benar mengenalnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 17 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Detachment | 2017 √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang