Sore itu, dengan sedikit cuitan suara damar yang mulai perlahan terdengar mulai samar.
"Kemarin aku makan apa yah".
begitu gumam si ucup. sang kapten penebar rindu.yang tangan nya terlihat mulai menggerangi bagian perutnya yang terasa agak mules.
Tiba-tiba...
Lantai bergoyang, memalingkan otak kiri si kapten yang dari tadi di paksa mengingat.
seolah ingin bicara ada cubitan kecil di kabin kapal yang nampaknya akan mengganggu perjalanan si kapten.
"Naikan tirai!!"
teriak kapten dari ujung kapal sambil mengeluarkan tangan kirinya yang sedari tadi berada di area kantung semarnya.
matanya mencipit. seolah hendak terlihat seperti Jacky chan.
Mungkin akan terlihat sama jika saat itu kapal berhasil lepas lalu dari gertakan si ombak yang mulai terasa memeluk mereka itu.
tapi kali ini sepertinya ombak hendak ingin lebih dekat, ingin ikut nimbrung dengan mereka yang saat itu sedang bercakap cakap sore itu.
Dan mencoba mengecipakan air ke dinding kapal yang rongsok termakan lumut itu, sebagai salah satu cara genit yang biasa ombak berikan kepada kapal yang ia dekati.
Kapal pun tergoda.
Ia semakin goyah. Isi kapal pun mulai sedikit panik.
seluruh kuncai (sebutan untuk anak kapal) terlihat risau akan apa yang akan terjadi. andai bisa terdengar mungkin degupan jantung mereka bak bedug maghrib yang dipukul kala berbuka puasa.
Agak kencang.
Tak biasanya, mereka merasa seperti ada firasat kelam yang akan datang.
Di sudut kapal kapten terlihat tenang dengan dayuh tubuhnya yang ikut bergoyang digoncang gemulainya Ombak. Sesekali beberapa helai kumis tipisnya itu pun ikut menari dirayu desisan sang angin.
"kapal karam !! kapal karam!!".
teriak salah seorang kuncai dari belakang kapal.
Tapi kapten terlihat masih tetap tenang dengan topi bajak laut pemberian Kakeknya itu.
Dagu nya pun mengkerut, seperti sedang mencari strategi untuk menghadapi si ombak yang mulai agak nakal itu.
Hempasan air mulai mengeciprat kedalam kapal. sebagiań sisi terlihat terisi air.
Kapal basah.
Terasa semakin kuat mengguncang, seolah begitu menantang untuk beradu raga dengan si kapten.
Jiwanya mulai menggema.
akhirnya sang kapten ambil gerakan. Ia berlari kearah tiang layar. merampas tali dari angin yang sejak tadi mengawang awangkanya. sambil menggenggam seraya melompat bak tarzan afrika. dia mengayunkan tali itu ke arah dimana matahari tergelincir sore itu.
terlihat tiang pun ikut berputar. tapi angin memberontak seolah berpihak pada si ombak.
menahan tirai usang yang penuh jahitan itu untuk ikut berputar.
Para kuncai yang tadinya berselimut kepanikan berubah menjadi setengah berani, ketika melihat kapten yang mulai kewalahan di hajar angin. kuncai kuncai pun berhimpun satu ke arah tiang kapal mencoba menggapai tali yang sedari tadi mengayun ayun kan kapten.
Haap!!Tali tertangkap. Mereka berduyun duyun dan saling memegangi satu sama lain berteriak sambil berlari ke arah barat mencoba melakukan apa yang kapten gagal lakukan tadi. kapten memanjat lebih tinggi ke atas tali. mencoba memberi beban di bagian tengah tali agar menuruti niat keras para kuncai yang memaksanya ikut berputar ke arah barat. tiang pun berputar sekali lagi. Untuk kali ini angin tak berdaya. Yang akhirnya menuruti kapal yang ingin mengubah haluanya.
Tapi dari kejauhan terlihat badai bergemul di papan langit yang siap menghampiri kapal malang yang masih berjuang itu. Bak seolah bersekongkol dengan si ombak.
"Keroyokan yah". Gumel si Kapten yang melihat ke arah badai sambil terseyum kecil. Seolah tak takuti apa yang akan mendatanginya.
Kapal pun berputar haluan. Memecah sisi ombak yg sedari tadi menampar nampar dinding bawah kapal. Kapten tau mereka akan terus terikut tarian si ombak jika mereka tak bergerak.
ceTaassss!!!!
Kapal terhantam.
Ombak nakal itu terbelah. Seisi kapal keguyuran air garam.
Mereka kuyub.
Tapi itu belum selesai, yang ditakutkan pun baru akan tiba. Sang penantang keras.
Para komplotan serdadu hitam dengan panglima petir nya datang menyerang, menerpa tanpa salam. Sembari menumpahkan seisi yang dia bawa. Bak jutaan anak panah. Gulir gulir bening itu berjatuhan dari atas arena duel.
Pertempuran memanas.
Di saat yang bersamaan kepanikan melanda seisi kapal. dalam kekalutan yang tak mampu menyusun strategi ulang untuk kembali berperang. Dan keminiman sumber daya tenaga. Menjadi faktor akan diterimanya kekalahan.
Tapi waktu berkata lain.
Bak mendapatkan kartu joker.
Disaat yang bersamaan pula. Hadir angin muson yang berduyun cukup keras datang ke arah mereka, yang malah mengarahkan mereka menjauh dari ombak nakal itu.
Mendorong Kapal menungging ke atas seolah hampir tersugkur menuruni gundukan ombak yang sudah dipastikan bakal kehilangan lauk makan malam nya itu.
Lalu kapal pun bergerak pelan di dorong angin yang berduyun menjauhi medan peperangan.
Dari atas tiang, Kapten meluncur kebawah dengan kaki yang menjepit tali yang sebagianya terlihat hampir putus itu. Dia melihat ke belakang mengadahkan kepalanya seraya menampakan gigi kuningnya itu ke arah ombak yang mulai mereka tinggalkan.
Senyum para kuncai pun akhirnya terlihat ketika mereka saling bertatap tatapan satu sama lainya.
tawa kegembiraan pun terdengar dari dada dada penuh sesaķ gelisah tersebut.
Yah...
Akhirnya, Untuk kesekian kalinya, mereka pun berhasil lolos dari situasi yang jelas tak bahagia itu.
Tapi bagaimana pun, ini baru saja dimulai.
Perjalanan masih kian jauh.
Auman jerit menakutkan masih akan terus mereka dengaŕ.
Dan daratan nan sunyi pun masih menunggu.
Tegarlah KAPTEN.
Kapal kita masih akan terus mendayuh.
To be continue......
YOU ARE READING
Legenda Kapten Ucup dan Kuncai Nya.
AdventureChapter 01 Seorang yang punya teritorial tak terbatas.
