Ini tahun kelima aku tinggal di London, tapi tak pernah sekalipun aku berminat untuk pulang.
Namun malam itu aku berubah pikiran setelah Umi menelepon sambil menangis, mengabarkan bahwa Nini, nenekku, sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit. Aku yang saat itu sedang lembur menyelesaikan naskah untuk penerbitan minggu depan, hanya diam terpaku menatap hampa barisan tulisan yang ada di layar komputer. Emosiku mendadak campur aduk. Mendengar nama Nini mengingatkanku saat beliau mendongeng tentang kancil sebelum tidur dan tangisanku di peluknya karena kedua orangtuaku harus pergi merantau ke kota tanpa diriku.
Dari sela-sela isaknya Umi bercerita mengenai Nini yang terpeleset dan pingsan di depan kamar mandi karena tak sengaja menginjak keset yang masih basah hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Beberapa kali dalam tidurnya beliau mengigau menyebut namaku. Seiring berjalannya waktu, kondisi Nini semakin menurun. Bahkan dokter tak tahu pasti apakah Nini akan pergi menghadap Tuhan atau masih diberi kesempatan untuk melihat dunia. Maka, sebelum terjadi hal yang akan disesali seumur hidup, Umi berinisiatif menelepon dan menyuruhku pulang.
"Jia," sahut Umi. Suaranya terdengar cemas karena sedari tadi aku hanya diam. "Umi tahu kamu sibuk..." Kalimatnya menggantung seperti ragu. "Tapi kamu tidak pernah pulang semenjak pergi ke London. Ini sudah lima tahun. Sekarang Nini membutuhkan kamu, Nak. Bukankah dia yang sudah merawat kamu sejak kecil saat Abi dan Umi pergi?"
Aku memang selalu beralasan sibuk tiap kali Umi menanyakan kapan aku pulang. Hubungan kami—aku, Umi, dan Abi—tidak berjalan begitu baik semenjak mereka menitipkanku pada Nini. Tapi alasan yang sama tidak bisa menolongku kali ini. Maka aku pun menghela napas sebelum berkata, "Setelah dapat ijin, besok pagi Jia akan terbang ke Jakarta. Tolong, Umi kasih tau saja dimana rumah sakitnya. Jia langsung kesana."
Kudengar selintas Umi menghembuskan napas lega. Tapi sebelum Umi sempat berkata lagi, aku buru-buru menambahkan, "Ini hanya demi Nini."
Umi sempat diam tapi dia mengucapkan terimakasih. Setelah sambungan telepon terputus, aku langsung mengontak atasanku untuk meminta cuti dan siap berkemas. Ijin cuti adalah yang paling sulit mengingat aku bekerja di industri penerbitan yang menuntut tenggat yang cukup ketat. Tapi kuyakinkan atasanku bahwa teknologi sekarang memungkinkan pengiriman naskah dari ujung dunia sekalipun dan tidak perlu lagi menggunakan merpati pos. Akhirnya dia mengijinkan. Lebih karena aku keras kepala daripada kasihan.
Setibanya di Jakarta, aku langsung menyewa mobil dan sopir untuk membawaku ke daerah Bandung. Surel dari Umi menyebutkan salah satu lokasi rumah sakit di daerah itu. Sepanjang perjalanan, pikiranku risau. Sudah bertahun-tahun aku tidak pulang, pasti banyak yang berubah. Kudengar Umi kembali ke rumah Nini di desa beberapa bulan setelah aku pergi. Sedangkan Abi masih bekerja di kota dan sesekali pulang menjenguk. Kata Umi di suatu percakapan telepon, Nini sering sakit-sakitan dan tak ada yang mengurus selain dirinya. Tapi begitu kutanyakan langsung pada Nini, beliau mengelak dan menyuruhku untuk tidak khawatir.
"Nini sudah tua. Kalau sekali dua sakit ya masih wajar. Memang kamu sendiri tidak pernah sakit?"
Akhirnya aku tidak bisa membantah. Sifat keras kepalaku menjadi lumer hanya ketika berhadapan dengannya. Pun saat aku memikirkan untuk memilih meniti karier di Indonesia, Nini juga tidak setuju. "Kamu sekolah dan bekerja keras untuk mendapatkan semua itu. Lantas mau kamu tinggalkan begitu saja hanya untuk Nini? Jangan bodoh, Jia. Orang-orang sana lebih menghargai upaya dan prestasimu daripada di sini. Nini akan merasa sangat bersalah jika kamu memutuskan pulang, hidupmu malah jadi berantakan. Sudahlah! Lebih baik kamu ceritakan pada Nini, bagaimana hidup di sana? Katanya ada salju, ya?"
Lalu tanpa sadar fokusku beralih menceritakan kehidupan baruku di negeri orang. Semua kuceritakan pada Nini, tentang pekerjaanku sebagai editor, tentang atasanku yang cerewet dan perfeksionis luar biasa, kawan-kawanku yang bergaul bebas namun tetap menghargaiku sebagai pendatang, tentang cuaca, tentang salju. Nini tak memotong sedikitpun dan tetap khidmat mendengarkan. Meskipun nanti aku harus membayar tagihan telepon lebih mahal tapi aku rela.
YOU ARE READING
Warisan Nini
General Fiction"Jia," sahut Umi. Suaranya terdengar cemas karena sedari tadi aku hanya diam. "Umi tahu kamu sibuk..." Kalimatnya menggantung seperti ragu. "Tapi kamu tidak pernah pulang semenjak pergi ke London. Ini sudah lima tahun. Sekarang Nini membutuhkan kamu...
