Setelah masa-masa orientasi kampus berakhir, BEM mengadakan open rekrutment.
"Aku rasa aku harus berperan aktif untuk kampus, setelah capaianku di SMA. Kita ikut oprek yu buat jadi panitia" kata Tristan kepada Angga.
"Engga ah, cape. Orang-orang organisasi itu hanya menginginkan popularitas. Mending kita banyak hunting foto lumayan bisa jadi duit wkwk" jawab Angga dengan santai. "Yah, ayolah kapan lagi bisa jadi mahasiswa beneran? Apalagi kita juga baru masuk" balas Tristan. Orbolan berlangsung sepanjang sampai malam hari di hari itu.
Pengumuman registrasi penerimaan panitia dari kepanitian acara.
Satu minggu kemudian Tristan benar-benar membulatkan tekad untuk bergabung dengan kepanitiaan. Tristan mengajak teman-teman satu SMAnya untuk mengikuti open recruitment itu. Setelah waktu wawancara tiba yang ikut hanya beberapa orang dan akhirnya merekapun lolos di tahap ini samapi dinyatakan lulus menjadi panitia. Ini adalah kepanitiaan pertama bagi mahasiswa baru di kampus tersebut.
Rapat perdanapun dimulai pada sore hari, dengan hujan yang agak lebat panitia bergegas menuju ruang rapat terutama mahasiswa baru yang masih menggebu-gebu jiwanya. Di tempat tersebutlah Tristan dipertemukan dengan seseorang bernama Nayla. Tristan memang tipikal orang yang acuh, santai dan humoris tapi di sisi lain dia merindukan sosok yang hangat juga perhatian. Tak jauh beda dengan Nayla dia orang sama namun dia sangat senang menjadi seorang pusat perhatian. Sifat mereka ini untuk sebagian orang adalah daya tarik tersendiri dengan kepribadian yang dimiliki. Mereka berada dalam satu kepanitiaan dan hampir setiap hari mereka bertemu namun mereka tidak pernah bercengkrama satu sama lain karena berbeda divisi.
Pertemuan yang tidak disangka itupun terjadi.
Sampai suatu malam ketika mereka menjalankan tugas, Tristan mulai tertarik dengan perempuan tersebut dan sesekali dia memperhatikan perempuan itu.
"Duh panas banget di dalam, boleh ikutan disini kak?" Tanya Tristan kepada Sofia kakak tingkatnya. "Boleh dek, kamu mahasiswa baru ya? Kamu orang mana?" tanya Sofia. "Deket sini kok, kalo kakak dari mana?". Percakapan itu berlanjut sak lebih dari 5menit Sofia pun pergi meninggalkan Tristan karena kembali menjalankan tugasnya. Sampai suatu ketika "hey, sini jangan berdiri di depan pintu pamali". Kata Tristan kepada seorang perempuan. Perempuan itu hanya tersenyum sebari melanjutkan kegiatannya menelpon seseorang dibelakang panggung. "Kamu mau masuk ke ruang operator apa gimana? Malu? Udah disini aja temenin aku ngobrol daripada disitu berdiri sendirian apalagi malem-malem kayak gini". Ajak Tristan kepada seorang perempuan itu sambil menggeserkan kursi untuknya duduk. Perempuan tersebut bersikap acuh hanya senyum sembari meninggalkan tristan sambil melanjutkan menelfon. Tristan pun terpaku melihat tingah perempuan tersebut "ada perempuan kayak gitu, penasaran juga nih" gerutu Tristan dalam hati.
Hari pun kian malam sekitar pukul 23.30 panitia menyiapakn lampion untuk menutup acara dengan pelepasan lampion. Tristan sibuk dengan pekerjaannya sementara Nayla sibuk menyiapkan makanan untuk panitia setelah acara berlangsung. Saat itu Angga datang dan Tristan menceritakan soal perempuan tersebut. Ternyata itu adalah Nayla teman satu kelasnya Angga. Merekapun mengobrol sampai Tristan beres menyitapkan lampion. Pada pukul 23.59 panitia bersama pengunjung bersiap ke lapang basket untuk bersama-sama menyiapkan pelepasan lampion. Tristan melihat perempuan tadi, dengan rasa penasaran diapun ikut bergabung dengannya.
Tristan berusaha lebih dekat dan ingin berkenalan dengan Nayla namun "hati-hati bos!" seketika suara itu muncul dari belakang sambil berjalan melewati mereka sebari menepuk pundak Tristan. Ya, dia Yudis teman satu kelas Nayla yang banyak orang menyangka mereka pacaran. Tristan pun tidak menggubris peringatan itu karena dia hanya penasaran tentang perempuan yang bernama Nayla ini. Malampun semakin larut, panitia bergegas kembali ke ruangan dan menutup acara tersebut. Panitiapun menutup acara tersebut dengan makan bersama. Terlihat Tristan dengan lahapnya menghabiskan 2 porsi nasi goreng yang kala itu panitia lain tidak makan. Sangat berbeda dengan Nayla yang kala itu memilih untuk tidak makan hanya nebeng mencicipi nasigoreng yang dibelinya bersama teman-teman satu divisinya. Di akhir kegiatan panitia pulang bersama-sama. Nayla kebingungan untuk pulang ke kosannya yang lumayan agak jauh dari kampus, sedang dia tak sanggup untuk jalan sendirian. Nampaklah Ibay menawarkan tumpamgan namun dia lebih memilih untuk pulang sendiri, dia lebih memilih untuk menginap di kosan Mila sahabatnya yang kebetulan satu kelas dengannya berada dekat dengan kampus. Sementara itu Tristan pulang bersama Ica karena mereka satu arah.
Satu minggu kemudian Tristan merasakan penasaran tentang perempuan itu. Dia menggali informasi dari teman sahabatnya Angga yang memang satu kelas bersama Nayla. "Ga, tau cewe yg putih, pendek, mukanya kayak kucing? Sekelaskan sama Angga?" Tanya Tristan. "Yang mana? Ada banyak kali cewe yang kayak gitu". "Engga, ada satu cewe, dia ikut kepanitiaan kemarin". "Tau gak ciri-cirinya gimana?". "Iya ciri-cirinya kayak gitu trus binirnya tuh pink". Angga pun terdiam untuk beberapa saat lalu berkata "ohh hahaha!!! Itu namanya Nayla bukan?" Angga berkata sebari tertawa terbahak-bahak. "Haha iya kalo gasalah". "Kenapa? Suka? Dia cewe manja yang sering dilarang ortunya kalo mau kemana-kemana, susah kalo mau deketin dia". "Emang dia jomblo? Bukannya kata orang-orang dia pacaran sama Yudis?". "Wah korban omongan orang... Engga, jadi mereka tuh cuma temenan dan si Yudisnya aja dia suka sama Nayla cuma Nayla gapernah nganggap". "Asli? Ya kalo gitu boleh dong minta kontaknya? Haha". "Ada sih cuma dia rada susah di deketin sama cowo". "Lah, itu mah gampang percaya sama Tristan". "Yaudah nih, tapi awas pajak jadian kalo udah dapet ya hahaa".
Beberapa minggu setelah itu, saat di kosan Angga mendapatkan pin BBM Nayla.
"Nih kontaknya, tapi awas... Dia jutek banget sama orang yang ga dikenal". Kata angga saat memulai pembicaraan pada waktu iu. Setelah mendapatkan pin Nayla, Tristanpun langsung mencoba untuk chat Nayla dan rasa peaimisnya pun mulai terkikis karena respon Nayla tidaklah seperti yang Angga katakan. Mereka mulai dekat saat itu, walaupun Nayla dan Tristan satu sama lain masih banyak orang lain yang sangat dekat dengan mereka. Mereka masing-masing menjalani rutinitasnya seperti biasa. Nayla yang biasa gontaganti laki-laki yang menjemputnya mulai sering dijemput Tristan, sedangkan Tristan yang sering jalan sama perempuan sana sini mulai meluangkan waktu bersama Nayla. Mereka memiliki ketertarikan satu sama lain, namun mereka masih menikmati kesendirian dengan tidak menjalin hubungan yang lebih serius. Sosok Tristan yang dingin menjadi dayatarik tersendiri bagi Nayla kala itu, begitupun sosok Nayla yang pendiam menambah pesona bagi Tristan.
ESTÁS LEYENDO
Duriat
RomancePerjuangan sepasang kekasih yang memiliki latar belakang keluarga sangat berbeda namun memperjuangkan keinginannya bersama. Banyak lika liku yang mereka hadapi dan hampir saja membuat mereka jatuh samapi ingin saling melepaskan satu samalain. Namun...
