Salju hari ini lebat sekali. Begitu lebat hingga 4 lapis pakaian yang kugunakan ini hampir tidak berguna.
Dingin. Seperti ribuan jarum menusuk kulit putihku. Bibirku sudah menggigil dan menggertak tak karuan. Aku merasakan bulu mataku mulai membeku.
Apa aku akan mati hari ini? Beginikah kisah akhir dari hidupku?
Tragis sekali. Aku bahkan belum mengucapkan selamat tinggal pada nya.
Ah, apakah mungkin dia masih mengingatku? Terakhir kali aku mendengar suaranya, ia memberitahukanku bahwa ia akan segera melakukan janji suci dengan seorang pria manis.
Padahal aku sudah memberi segalanya untuk dia. Aku menyerahkan hidupku untuk nya.
Choi Seungcheol. Inikah balasan atas seluruh cinta yang sudah kuberikan padamu selama 9 tahun ini?
Sungguh, aku tidak berharap apapun selain cinta untukku. Aku hanya ingin kau berada di sisiku hingga akhir hidupku. Itu saja. Tidak lebih. Apakah itu sulit?
Choi Seungcheol. Aku ingat sekali saat aku baru saja lulus sekolah. Kaulah satu-satunya orang yang datang padaku saat itu.
Kau memberiku buket bunga yang begitu indah. Mencium pipiku hingga memerah. Kau juga menyuruhku untuk tersenyum bangga di depan kamera dengan togaku.
Choi Seungcheol. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. Dan kau akan bahagia jika melihatku bersedih.
Kau adalah seorang ayah yang selalu melindungiku. Kau adalah seorang kakak yang selalu menjahiliku. Kau juga seorang adik yang selalu bermanja padaku. Kau adalah hidupku.
Dan sekarang kau pergi. Belahan jiwaku pergi bersama kenangan pahit yang baru saja menggores bagian sensitif dari diriku.
Tidak ada lagi ciuman di pagi hari. Tidak ada lagi tangan kekar yang menyeka mataku ketika aku bersedih. Tidak ada lagi nyanyian merdu dan romantis dari mulutmu di setiap malam perayaan tahun jadi.
Choi Seungcheol. Kau tahu bahwa aku memiliki kekurangan. Ya, banyak sekali kekurangan dalam diriku. Kau juga tahu bahwa aku selalu berusaha menutupinya darimu, tapi pada akhirnya kau mengetahuinya juga.
Dan kau tidak risih. Kau tersenyum dan menganggap kekuranganku bukanlah apa-apa.
Akhirnya aku sadar, kaulah orangnya. Kaulah yang pantas untuk diriku. Kau pantas untuk menanggung hidupku, dan semua hartaku.
Meskipun tidak pernah ada ikatan janji. Tapi aku benar-benar memercayaimu sepenuhnya.
Aku pun tidak pernah memandang kurang dari dirimu. Untukku, kau sangatlah sempurna. Karena aku memang tidak pernah memandang kekuranganmu.
Hampir setiap harimu dipenuhi dengan mengatakan bahwa mataku benar-benar cantik. Dan aku tidak pernah bosan mendengar segala gombalmu itu. Aku menyukainya.
Aku tidak akan pernah membantah apapun yang kau katakan. Karena aku benar-benar akan menyukainya.
Air mataku mulai mengalir ketika mengingatnya. Aku sudah mulai kehabisan akal. Tidak ada waktu yang kugunakan selain memikirkannya.
Aku pikir aku akan gila. Tapi tidak. Aku lebih baik mati daripada menjadi gila dan mengganggu hidup orang lain yang risih melihatku.
Lucu sekali. Kenapa aku begitu peduli dengan orang lain? Padahal aku tidak bisa melihat mereka. Mereka toh tidak akan peduli padaku.
Sama sepertinya. Dia meninggalkanku hanya karena aku... Buta. Ya, aku memang buta. Dan aku merasakan apa yang orang buta rasakan sekarang.
Saat kau buta. Orang-orang akan mengacuhkanmu.
Saat kau buta. Orang-orang akan mengejek dirimu di hadapanmu tanpa kau sadari.
Saat kau buta. Berbagai benda di sekelilingmu akan rentan terjatuh dan rusak akibat ulahmu.
Saat kau buta. Kau tidak bisa menikmati apapun. Bahkan makanan terlezat di duniapun tidak bisa kau nikmati.
Saat kau buta. Kau hanya akan merepotkan orang-orang terdekatmu. Kau akan mendengarkan 'tidak apa-apa' dari mulut mereka. Padahal hati mereka sudah begitu kesal karena menghadapimu.
Saat kau buta. Orang-orang akan meninggalkanmu.
Saat kau buta. Kau tidak akan punya harapan lagi.
Dan perlahan, kepercayaan dirimu akan hilang.
Seperti orang yang kucintai.
Dia pergi dengan membawa separuh hartaku, dan lebih dari separuh jiwaku.
Dia pergi dengan membawa seluruh kepercayaanku padanya.
Choi Seungcheol.
Seharusnya aku tidak memercayaimu dari awal.
Seharusnya aku tahu bahwa kau menerima diriku yang hanya sebatang kara adalah alasan klasik agar kau bisa menikmati hartaku.
Seharusnya aku tahu bahwa kau tidak akan menerima diriku apa adanya.
Choi Seungcheol.
Aku menyerah.
Aku akan berhenti mulai sekarang.
Aku akan berhenti memikirkanmu setelah ini.
Setelah aku melompat dari apartment di lantai 20 milikku.
Aku akan mengakhiri semuanya sekarang juga.
Selamat tinggal.
VOUS LISEZ
My Blind Story [Jeonghan]
Roman d'amourbxb, fluffy, hurt, romance Ini cerita hidupku saat aku kehilangan seorang Choi Seungcheol yang sangat kucintai. - Yoon Jeonghan -
![My Blind Story [Jeonghan]](https://img.wattpad.com/cover/139418026-64-k182922.jpg)