"Hah? Gue salah dimana Jo? Gue pantes dong nanya kayak gitu ke dia. Diakan wali kelas gue. Terus dimana letak gue merendahkan atau gue ga bersyukur kalau masih bisa bayar uang sekolah?" ucap Daniella sambil menggebrak meja. Ia tidak terima apa yang Joan katakan kepada Daniella, bahwa wali kelasnya, Ibu Sabta tidak suka dengan Daniella.
Hari itu, menjadi hari bersejarah untuk kelas 10.5, dimana mereka mengadakan rapat secara tertutup. Rapat itu dibuat guna menyatukan kembali tali pertemanan di kelas itu yang mulai kendor karena adanya penghianat. Satu persatu topik mulai dibahas, awalnya setiap murid bisa menerima, hingga masalah klimaks emosi para murid sudah tak terkendalikan seperti Daniella.
Sambil menghela nafasnya, Daniella mengatakan "Okay, gue akuin emang gue nyinyir, tapi kalau masalah tentang uang sekolah itu, jujur, gue benar-benar ga bisa terima. Alasannya gini, di SMP swasta gue yang dulu, kalau gue ga bayar uang sekolah itu langsung ditagih. Jadi, dari situ aja tanpa mereka tagih, gue dan orangtua gue sudah memiliki rasa tanggungjawab untuk bayar. Sedangkan di sekolah gue yang sekarang ini, rasanya itu seperti ga punya tanggung jawab atau ga ada ketegasan yang pasti. Jadi kalau lu mau bayar ya bayar, kalau ga bayar juga gapapa, ga ditagih. Nah, pertanyaan gue ke Ibu Sabta itu, apa gue harus bayar atau ngga? Karena sepertinya kalau ga bayar juga gapapa. Itu yang gue bilang ke dia. Sekarang, letak gue tidak bersyukur kalau masih bisa bayar uang sekolah dimana?"
"Bukan gitu Ella, gini, mungkin cara ngomong lu ke Ibu Sabta itu ga sopan, jadi menurut gu.."
"Ya udahlah, dia bukan Tuhan ini, ngapain gue harus takut?" ucap
Daniella yang sudah tidak tahan lagi dengan kata-kata Joan, si tangan kanan Ibu Sabta.
Walaupun begitu, batin Ella berkata "even Ibu Sabta bukan Tuhan, gue masih harus hormat sama dia, dia orang tua gue."
Daniella terdiam, merenungi apa yang sudah terjadi. Nama Tuhan selalu ia sebut dalam hati untuk meminta kekuatan dari Tuhan. Daniella sungguh tak percaya apa yang sudah terjadi dari ia masuk SMA ini hingga kelas 11 sekarang. Akhirnya ia pun menulis di suatu buku merah muda bercampur putih yang usang dengan luaran hard cover. Ia mulai menulis setiap keluh kesahnya di buku itu.
YOU ARE READING
Sebelas
RandomAku tidak menyangka kalau masa SMAku seperti ini. Mostly, orang bilang kalau masa SMA itu masa paling indah, dimana kisah kasih mulai dirangkai dan masa-masa semangat untuk menuju kuliah. Tapi mengapa tidak dengan aku? Aku masygula.
