Suasana kamarnya begitu sepi, hanya ada cahaya dari luar yang masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Gadis itu diam terduduk sambil memeluk lututnya di atas kasur dengan selimut yang membungkus tubuh mungilnya. Dingin, sama sekali tidak hangat. Ponsel jadul dengan layar bewarna hitam putih di atas nakas bergetar, dengan malas ia beranjak mengambilnya. Sebuah pesan baru masuk, tepatnya dari bartender baik hati bernama Oikawa yang menanyakan apa ia sudah sampai rumah dengan selamat. Dengan gesit, ia membalas pesan itu singkat—untuk menghemat pulsa tentu saja.
Lampu kamar dinyalakan, gadis itu mengambil map dari dalam tasnya. Ia baru teringat ada tugas dari dosennya, mau tidak mau harus segera dikerjakan jika ia ingin beasiswanya aman. Jam kecil yang dipaku di dinding menunjukkan pukul dua dini hari, seakan sudah terbiasa, gadis itu masih terjaga dan belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Diambilnya pulpen, ia menatap kosong lembaran yang sudah terisi setengah itu. Pulpen diletakkan kembali, gadis itu beranjak dari kursi menuju rak yang tersusun banyak buku. Salah satu buku berhalaman tebal diambilnya, setelah memastikan buku itu yang dicari ia pun membawanya ke atas meja.
Buku yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus dua hari lalu—yang tebalnya mampu membuat seseorang tewas jika buku itu dilempar ke kepala—dibukanya perlahan. Lembarannya sudah agak menguning dimakan usia. Dengan teliti, ia membacanya lalu menulis beberapa kalimat di kertas tugasnya. Ia memijat pelipisnya pelan, lalu meneguk segelas air yang sengaja ditaruh di atas meja. Setidaknya, ia sudah mengerjakan setengah dari tugas mematikan itu.
Gadis itu membereskan peralatannya, kemudian mematikan lampu dan menutup gorden jendela. Ia merebahkan diri ke atas kasur yang berdecit saat ia menaikinya. Kedua maniknya memandang langit-langit kamar yang sedikit terkelupas terkena air. Beruntung, atap bocor telah di atasi, jadi ia bisa tidur nyenyak saat hujan tanpa perlu repot menadah air.
Kesadarannya masih tetap terjaga meski ia sudah menutup matanya erat. Percuma. Padahal ia sama sekali tidak mengkonsumsi kafein. Ia mengubah posisi menjadi duduk, rambut panjangnya terjuntai ke bawah menutupi wajah. Disibaknya rambut yang mengganggu ke belakang, helaan napas kembali terdengar. Gadis itu membuka laci nakas yang berada di samping tempat tidur, tangannya meraba-raba mencari sesuatu di sana. Setelah mendapatkan yang dicari, ia langsung menelannya dengan bantuan air. Hal itu selalu membantu saat ia mengalami kesulitan tidur. Dan hal itu selalu dilakukan setiap hari.
•••
Rambut yang diikat asal dengan celana jeans belel, kemeja lengan panjang dengan kaus di dalamnya, dan sepatu sneakers butut selalu menjadi fashion keseharian gadis bernama [name]. Tatapan sinis dilayangkan sepanjang gadis itu berjalan di koridor kampus. Ia cuek, baik penampilan maupun sikap. Masih bisa kuliah saja ia sudah bersyukur, lagipula pergi ke kampus itu untuk menuntut ilmu, bukan untuk ajang pamer kekayaan. Tas ransel lusuh yang disandarkan di bahunya dibuka, mengeluarkan tugas yang belum diselesaikannya semalam.
Tujuan utamanya adalah perpustakaan, referensi dari buku tebal yang dipinjamnya masih kurang lengkap, ia berniat mengembalikan buku itu lalu meminjam buku lain. Sekaligus mencari referensi tambahan di internet dengan komputer yang tersedia di sana. Petugas perpustakaan sudah hapal dengan pengunjung setianya. [name] hanya mengulas senyum simpul sambil menyodorkan buku yang hendak dikembalikan.
Gadis itu menelusuri rak-rak tinggi yang penuh terisi buku. Sepanjang jam kosong, gadis itu memilih berdiam diri di perpustakaan sambil membaca daripada pergi ke kafetaria atau menghabiskan uang berkeliling mall. Susah payah ia mencari uang, dan ia tak mau menghamburkannya begitu saja. Ia menompang kepalanya dengan tangan, sementara tangannya yang lain sibuk membolak-balikkan lembaran buku. Perasaan gadis itu masih kesal, dosen yang ditunggu tidak hadir hari ini. Ia tak punya jadwal lagi sesudah ini, ia teringat jika hari ini ia ada shift jaga di minimarket tempatnya bekerja.
Layar komputer yang terpampang website referensi itu dipandangnya bosan. Gadis itu mematikan komputernya lalu menutup buku yang dibaca. Kedua tangannya di angkat ke atas melakukan peregangan, bahunya pegal setelah menghabiskan waktu dua jam mengerjakan tugas. Pada akhirnya, tugas sialan itu selesai juga. Tugas telah dimasukkan ke dalam tas, ia segera beranjak dari tempatnya menuju tempat kerja.
Meski matahari tengah bersinar terik, [name] selalu memakai pakaian berlengan panjang. Selain kemeja, terkadang ia mengenakan sweater maupun hoodie yang membuat tubuhnya tenggelam. Mata gadis itu menangkap sesuatu dari arah jam dua, Kuroo Tetsuro berjalan berdampingan dengan perempuan yang berbeda dengan semalam.
•••
"Totalnya dua ribu yen," ujar [name] setelah ia selesai mengscan dan memasukkan barang yang dibeli pelanggan ke kantung.
"[name]?" Gadis itu menoleh saat pembeli yang dilayaninya memanggil namanya. "Ah, Oikawa-san. Maaf aku baru menyadarimu," ucap [name] merasa bersalah sambil menyodorkan struk belanjaan pada Oikawa setelah pemuda itu memberikan selembar uang pecahan dua ribu yen.
"Kau bekerja di sini juga?"
Gadis itu mengangguk singkat. "Ya, untuk menambah penghasilan. Oikawa-san, antriannya," kata [name] berniat mengusir secara halus. Pemuda di hadapannya terkekeh sambil mengambil belanjaannya.
"Baiklah, kau selesai jam berapa?"
Gadis itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Sebentar lagi kurasa. Ah, temanku sudah datang, setelah antriannya habis aku akan segera pulang," ucap gadis itu ketika melihat temannya datang menuju ruang ganti.
"Kutunggu di depan," ucap Oikawa santai sambil menenteng kantung plastik belanjaannya, ia berlalu begitu saja tanpa sempat [name] menjawabnya. "Ah, hanya ini yang dibeli? Totalnya seribu yen, nyonya." Ia langsung memasang senyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya sampai teman yang menggantikan shiftnya datang.
Seragam yang dikenakannya tadi sudah berganti ke pakaian semula, gadis itu berjalan menuju depan minimarket dari pintu belakang. Oikawa terlihat berdiri menyender di mobilnya. Gadis itu berjalan mendekatinya, ia tak menyangka jika Oikawa benar-benar menunggunya pulang. "Kau tak perlu menungguku, Oikawa-san. Itu yang mau kukatakan tadi," kata [name].
Oikawa menoleh mendapati sosok yang ditunggunya, ia langsung menampilkan senyum lebar dan membukakan pintu untuknya. [name] mengernyitkan dahi, gadis itu masih diam tak beranjak sedikitpun. "Masuk, aku antar," katanya.
"Tapi—"
"Masuk saja, aku tidak akan macam-macam padamu, kok."
Percuma saja gadis itu melawan, menghadapi Oikawa memang sulit. Akhirnya ia menurutinya dan segera masuk—duduk di samping kursi pengemudi. Bibir gadis itu terkatup rapat, suasana hening di dalam sana. Oikawa menekan tombol power untuk menyalakan radio. Alunan musik terdengar memanjakan telinga. "Kau suka lagunya?" Tanyanya. [name] mengangguk singkat tanpa menoleh, kedua bola matanya fokus memandang jalanan lurus di hadapannya.
Gadis di sebelahnya mengernyitkan dahi, apa pemuda di sebelahnya tahu letak rumahnya?
"Oikawa-san, kau tahu rumahku?"
Oikawa menggeleng santai lalu menjawab tidak dengan polosnya.
"Jalan ini bukan menuju rumahku."
"Memang bukan. Sebelum mengantarmu pulang, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Oikawa masih fokus dengan kemudi, akan berbahaya jika kehilangan fokus sedikit saja. Mungkin, mereka berdua bisa meregang nyawa saat itu juga.
"Ke mana?"
"Kau akan tahu nanti," ucap Oikawa diselingi senyum misterius.
Gadis itu bersumpah, jika Oikawa berani berbuat sesuatu padanya, ia takkan segan menghunuskan pisau lipat yang selalu dibawanya. []
TBC
Ini xkuroo atau oikawa sih?
Interaksi sama kuroonya pelan pelan y biar terasa enanya—eh, feelnya ding:v
YOU ARE READING
IF I DIE TOMORROW
Fanfiction[completed] "Thanks for all scars you gave to me." [Kuroo Tetsurou x reader] (Warn! Contain harsh word, violence, selfharm, suidical and other sensitive content) . . . Haikyuu © Haruichi Furudate Zenorys-copyright © 2018
