Disuatu sore, lahir seekor beruang madu berwarna coklat, terlihat wajahnya yang mungil membuat di sekitar ruangan tersentuh oleh sang beruang mungil itu . Dan datanglah beruang madu dewasa ke ruangan tersebut, menghampiri ibu dari beruang mungil itu sedang mendekap anaknya yang baru lahir. yang diberi nama Ethan Finnley. Beruang dewasa sangat gembira melihat anaknya terlihat sangat tampan. Meskipun beruang mungil itu baru lahir, tetapi jiwa beruang jantan tangguh sudah melekat dalam diri Ethan Finnley. Semua yang ada di dalam ruangan tersebut turut berbahagia melihat kebahagiaan keluarga Finnley yang menghangati ruangan tersebut. Beberapa hari kemudian, keluarga Finnley pun pindah ke rumah baru .
Setahun kemudian, beruang mungil tersebut sudah lancar merangkak. kemudian sang ibunda kembali lagi di meja operasi untuk melakukan pembedahan, Ethan dan ayahnya berada di rumah sakit yang sama. Menunggu ibunya yang sedang melakukan proses pembedahan. Tak lama kemudian suara tangisan dari ruangan tersebut terdengar, Ethan dan ayahnya menuju keruangan itu. Dan sesampai di ruangan itu, sang ibunda sedang mendekap anak yang kedua. Dia diberi nama Alice Finnley. Kelinci mungil yang sangat cantik, berwarna coklat muda, mirip seperti ayahnya. Sang ibunda pun merasa senang. Beberapa hari kemudian keluarga Finnley pun pulang ke rumah.
Keluarga Finnley tinggal di Light Swallow District, dimana orang-orang kaya tinggal disana. Keluarga Finnley sangatlah sederhana. Meskipun tetangganya orang kaya, mereka tetap menghargai keluarga yang sederhana ini. Orang-orang yang tinggal disini sangat harmonis, saling membantu, dan ramah kepada semua orang. Suasana inilah yang membuat Thomas Finnley, ayahnya Ethan Finnley nyaman. Tetapi lingkungan di kota ini sangat tidak mendukung. Seperti udara yang terkontaminasi oleh pabrik di pulau sebelah, yang asapnya sampai ke kota ini. Sehingga orang-orang disini wajib memakai masker khusus ketika mau berpergian. Langit berwarna abu – abu membuat suasana kota seperti kota mati. Lingkungan yang tidak mendukung membuat Thomas khawatir akan kesehatan anak-anaknya. Thomas teringat dengan kampung halamannya sangat jauh dengan kota ini. Dengan lingkungan yang mendukung untuk anak-anaknya, ia pun mulai mengumpulkan uang agar bisa pindah dari kota tersebut dengan bantuan tetangganya, finansial Thomas akhirnya terbantu.
Akan tetapi di waktu pagi hari, pada saat berkemas untuk pindah ke desa yang Thomas tuju, Whitney Finnley, sang kelinci betina akan melahirkan anaknya yang ketiga. Mereka segera bergegas kembali ke rumah sakit untuk melakukan pembedahan. Ethan, Alice, dan sang ayah Thomas, menunggu Whitney di balik pintu ruang operasi. Beberapa jam kemudian, mereka tidak mendengar suara tangisan yang menjerit di balik pintu tersebut, hening. Tak beberapa saat kemudian, dokter yang berada di dalam ruangan tersebut keluar, dan memberi tahu kepada Thomas.
" Mohon maaf sebelumnya, nyawa istri anda tidak dapat diselamatkan. Dikarenakan bayi yang ada didalam kandungan istri anda gugur sebelum datang ke tempat ini. Dan kami mendapatkan sampel cairan yang aneh. Kami akan mendiagnosis terlebih dahulu sebelum mayat istri anda dikuburkan." Dokter pun bergegas pergi, meninggalkan ayah dari kedua anak itu.
Thomas mendekap erat kedua buah hatinya. Ia tidak bisa menahan tamparan realita yang sedang dihadapinya. Thomas melihat dokter yang sedang berjalan menjauhi Thomas. Ia langsung mengejar dokter tersebut.
"Berapa lama kalian akan selesai mendiagnosis istriku?" Thomas sambil memegang pundak sang dokter, nafas berat Thomas terdengar, keringat turun dari dahi Thomas, menyatu dengan air mata.
"Kembalilah sore untuk hasil diagnosa." Dokter pun melepaskan genggaman di pundaknya dan melanjutkan langkahnya.
Thomas pun kembali ke tempat duduk yang ia tempati tadi, berjalan menuju kedua anaknya dan mendekap erat kedua anaknya.
"Gu-guu,bu-bu? Na-na?" (Ayah, Ibu? Mana?)
"Gu-guu, bu-bu na-na?" (Ayah, Ibu? Mana?)
Tak lama kemudian kedua anak itu menangis, menjerit-jerit ingin bertemu ibundanya. Ayahnya hanya terdiam, nafasnya terasa berat, seakan rasa sakitnya masih melekat dalam hati Thomas. Keinginan Thomas yang ingin pergi bersama keluarganya meninggalkan kota ini, pecah seperti gelas yang jatuh ke lantai.
Saat hari mulai sore, Thomas, Ethan, dan Alice tertidur di atas kursi ruang tunggu. Tak lama kemudian suster berjalan mendekati Thomas, ternyata dia adalah suster yang melakukan pembedahan di ruangan operasi tadi pagi.
"Selamat sore, tuan. Mohon maaf saya telah membangunkan anda, dokter ingin menemui anda di kantor"
Thomas pun terbangun, ia pun merapihkan pakaiannya, dan menggendong kedua buah hatinya. Dia pun bergegas pergi ke kantor mengikuti langkah sang suster. Saat sesampai di depan kantornya, suster membukakan pintu untuk Thomas. Ia pun masuk. Dokter menyambut Thomas dengan mempersilahkan ia duduk. Dokter mulai mencari berkas hasil diagnosa istrinya. Setelah ia menemukan berkas, ia pun kembali duduk berhadapan dengan Thomas.
"Jadi, hasil diagnosa tadi siang, kami menemukan hal yang ganjil." Dokter membuka lembaran berkas itu lembar per lembar.
"Dan bagaimana dengan hasilnya, dok?" Tanya Thomas sambil mengasuh kedua anaknya.
"Whitney sebelum datang kesini, ia sempat menusukan jarum ke perutnya yang dilapisi cairan obat tikus, yang seharusnya itu dapat membunuh tikus. Tetapi kelinci juga terkena efekya saat digunakan. Dan menyebabkan keguguran sekaligus kematian kepada istri anda"
" ...artinya?"
"Tepat, istri anda melakukan tindakan bunuh diri dengan perlahan." Syok, Thomas langsung keluar dari ruangan tersebut. membawa kedua anaknya lari dari rumah sakit itu. Ia merasakan sakit yang sangat luar biasa di telapak tangannya. ia terus berlari sampai rumah, kedua anaknya terus menjerit-jerit.
Sesampai di rumah, ia melepaskan kedua anak yang sedang menangis itu. Menatap telapak tangan kanannya, telapak tangannya perlahan terbuka. Membentuk lingkaran yang memenuhi telapaknya. Segitiga spiral aneh tampak di permukaan lengannya. Berwarna biru cerah yang memantul di ruang tamu tersebut. Tak lama kemudan, Thomas tak sadarkan diri. Kedua anak nya memeluk sang ayah.
"Jangan terlalu memikirkan istrimu Thomas, pikirkan tentang masa depan anakmu" Thomas membuka mata, tidak melihat apa-apa, hanya ruangan yang gelap yang melingkari Thomas. Suara itu terdengar dari jarak yang jauh namun jelas.
"Utamakan keselamatan anakmu."
"Ethan adalah vesel baru kami. Thomas, kau sudah tidak berguna lagi" bisikan - bisikan itu terus terdengar. Semakin lama semakin jelas dan keras suaranya.
"Oaladin, kau..." sesosok siluet beruang mulai muncul bersamaan dengan cahaya yang menyinari wajah Thomas.
"Kau bodoh!" dengan kerasnya suara dari Oaladin, bersamaan dengan hembusan kerasnya angin yang bersumber darinya.
"Kau sudah membuat ku muak dengan tingkahmu yang sembrono itu." Oaladin mulai mendekati Thomas, siluetnya semakin membesar saat ia mendekati Thomas.
"Aku akan memberimu hukuman yang pantas atas apa yang kau telah perbuat, Thomas."Cahaya yang menyinari wajah Thomas berubah menjadi unggu gelap. Membuat ruang hampa itu seakan menyempit.
"Kita telah membuat kontrak, Ya, kan?" Pupil Thomas mulai mengecil, bersamaan dengan keringat dinginnya yang menuruni wajahnya.
Thomas berteriak, terbangun dari tidurnya. Ia lalu melihat sekililingnya. Jendela di seberang tempat tidurnya terbuka membuat cahaya matahari menyinari ruangannya. Sinarnya yang berwarna kuning oranye membuat ruangan tersebut terasa nyaman. Angin Sepoi – sepoi yang berasal dari jendela meniup tirai. Thomas terbangun lalu duduk. Menatap jam yang menunjukan waktu jam tiga sore.
"Ah, ternyata masa laluku muncul di mimpiku lagi."
"Tinggal satu tahun lagi, benarkan? Oaladin?"
YOU ARE READING
Candy Palace
FantasyCandy Palace bukanlah hanya sekedar istana permen semata, melainkan...
