Losing him was blue like I'd never known
Missing him was blue dark grey all alone
Forgetting him was like trying to know somebody you never met
But loving him was red
Burning red
Remembering him comes in flashbacks and echoes
Tell myself it's time now, gotta let go
But moving on from him is impossible
When I still see it all in my head
Burning red
--
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai menyukai sahabatku, mungkin itu terjadi saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar? Entahlah. Aku hanya ingat kami bertengkar saat kami pertama kenal, yang kemudian kami menjadi sangat dekat dan bersahabat. Sepertinya dia juga menyukai-ku, dia pernah memintaku untuk menjadi pacarnya tetapi aku mengalihkan pembicaraan. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku sangat malu. Aku pikir itu hanya cinta monyet, kami masih anak-anak saat itu.
Sebenarnya aku pernah mencoba untuk mengatakan kalau aku mau menjadi pacarnya tapi dia tidak mendengarkan. Yang ternyata sudah terlambat, dia menyukai orang lain juga. Bukan dari sekolah kami, tapi murid dari sekolah lain tetapi tinggal satu lingkungan dengan kami.
Sejak itu aku jadi sering bermain sendiri, kami semakin jauh. Sampai saat kami lulus SD, aku pindah ke kota dan aku harus mengucapkan selamat tinggal dengan dia. Aku melihatnya sedikit menangis saat kami bertemu untuk terakhir kali. Aku mengatakan kita akan bertemu lagi suatu hari nanti.
***
Backsound : Red - Taylor Swift
YOU ARE READING
Purple Path
Teen FictionRara tidak menyangka kalau dia akan bertemu lagi dengan sahabat lamanya, Bagas. Mereka berpisah selama kurang lebih 4 tahun. Awalnya mereka sedikit canggung saat akhirnya mereka bertemu lagi. Bisakah mereka mengahadapi rasa canggung mereka?
