-:-

128 20 53
                                        

06/02/2018

enjoy it, chinq.

Suasana kamar 27 begitu panas setelah melewati hari berat mereka. Penampilan yang kacau, peringkat jauh di luar ekspektasi, bahkan kritikan pedas dari masing-masing juri tak luput mereka dapatkan. Namun semua itu hanya bisa mereka jalani dan mereka lewati dengan mengambil hikmahnya.
Walaupun ada beberapa anggota yang menyimpan dendam pada lubuk hatinya.

Bagaimana tidak kesal? Apalagi benci? Mereka sudah bekerja keras dan susah payah membuat penampilan yang bagus agar tidak mengecewakan, namun dengan mudahnya dihancurkan oleh keserakahan dan keegoisan salah satu anggota?

RBW’s Lee Jaejun.

Semuanya memandang ke arahnya, meminta penjelasan. Pertanggungjawaban tidak akan berguna untuk sekarang. Mereka menjalani kompetisi, dan yang sudah dilewati tidak dapat diulangi.

“Jadi, sekarang apa ada yang ingin kau katakan?” tanya sang leader dengan suara beratnya.

Jaejun menundukkan kepalanya, tidak berani barang satupun melemparkan pandangannya. Hanya tanganlah yang mewakilinya berbicara.

“Maafkan aku, hyung.” Hanya itu, hanya itu yang ia lontarkan setelah sekian lama mereka menunggunya mengeluarkan suaranya.

“BERENGSEK! SEMUA APA YANG KAU LAKUKAN ITU KETERLALUAN, JAEJUN!” Yoon Yongbin, yang sedari tadi hanya diam, memedam rasa amarahnya dengan mengepalkan tangannya, memuntabkan seluruh kekesalan dan kebenciannya dengan meninju pipi kiri milik trainee dari RBW itu.

Jaejun dari Banana Culture mencoba menjauhkan jangkauan Yongbin dari Jaejun RBW. Sedangkan Jaejun RBW telah dibantu berdiri oleh Jaeyoon dan Habit.

“Aku tidak akan membela siapapun disini. Yongbin, seharusnya kau lebih bisa mengontrol emosimu di suasana yang seperti ini. Dan kau, Jaejun. Kupikir aku dapat memercayaimu dengan memberikan sedikit banyak posisi untukmu karena kau selalu meyakinkanku. Namun nyatanya kau membuatku kecewa, sangat kecewa. Hah, aku sampai bingung ingin mengatakan apa. Yang jelas, kuharap aku tidak membencimu setelah ini seperti Yongbin.” Sang leader menatap sinis ke arah RBW Jaejun yang kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruangan.

Para anggota saling melempar pandangan yang disusul oleh helaan nafas berat dari masing-masing anggota.

“Persetan!” Yongbin menghempaskan genggaman erat yang diberikan Banana Culture Jaejun dan pergi menyusul leader ke luar ruangan dengan membanting pintunya cukup keras.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Habit dengan memandang prihatin RBW Jaejun yang masih memegang pipinya hasil tonjokan dari Yongbin. Habit mengulurkan tangannya untuk mengecek seberapa parah pukulannya, namun tanpa disangka RBW Jaejun menepis tangannya.

“Tidak usah sok perhatian.” Dan kemudian, ia berlalu begitu saja meninggalkan Habit yang menatapnya seolah menyiratkan, ‘jadi-aku-salah-memerhatikan-orang’ dan juga anggota lainnya yang menggerutu. Kenapa ada manusia yang seperti itu? Begitu batin sebagian dari mereka.

“Huh. Dasar keras kepala.” Habit menggeleng-gelengkan kepala dan mulai membereskan ruangan yang mungkin sebentar lagi akan ia tinggalkan.

Saat Habit bersiap untuk melayangkan dirinya di atas kasur, tiba-tiba saja ada yang mengundang atensinya dan melupakan sejenak apa yang akan ingin ia lakukan sebelumnya.

“Hyung,” panggil Jaeyoon.

“A-ah, iya, kenapa?”

“Mau ikut pergi keluar sebentar?” tawarnya. Habit berpikir sebentar, sepertinya keluar di suasana seperti ini bukan ide yang buruk, terlebih lagi pikirannya yang lumayan suntuk setelah melewati hari berat ini.

deepWhere stories live. Discover now