Bulan februari seperti biasa, aku hanya menghabiskan waktuku dengan membaca buku-buku di sekolah. Tak ada yang mau berteman denganku itu karena kejadian satu tahun yang lalu.
Saat itu aku duduk di bangku kelas tiga SMP dan mempunyai banyak sekali teman. Teman-temanku sering memanggilku Andro, sempilan dari kata Android. karena aku murid yang terpintar dan selalu memainkan HP dimanapun. Sekarang hari selasa, yang berarti pelajaran pertama kami di sekolah adalah tentang teknologi.
"Ssst, Android! Jawaban nomor tiga apa?"
"Kamu hanya perlu menjelaskan apa yang akan terjadi jika kamu langsung menekan tombol power untuk mematikan komputer. Mudahkan Dio?"
"Oh begitu, makasih.."
Dio itu sahabatku, dia yang selalu bersamaku sejak masuk ke SMP ini, Dia orangnya penghibur dan setia kawan. Tinggi badan Dio sekitar 159 cm agak kecil dibanding aku 168 cm. Kapanpun rambut dia selalu rapi alias botak, dia tidak mau rambutnya panjang walau sedikit. Yang aku kagumi itu warna matanya yang coklat menyala seperti menggambarkan masa depan yang cerah.
Waktu istirahatpun tiba, aku hanya duduk di kelas sambil membaca buku dan menunggu seseorang datang.
"Hai! Ini aku bawain minum"
"Makasih"
Dia juniorku sekaligus pacarku, namanya Diana. Dia duduk di bangku kelas dua, orangnya ceria, aku juga suka gaya rambut hitamnya yang diponi, sama halnya kaya Dio mata Diana berwarna biru cerah. Saat waktu istirahat dia selalu mampir ke kelasku dan membaca buku bersama.
"Wah kali ini kamu baca buku apa?"
"Ini buku novel tentang pembunuh yang jatuh cinta pada targetnya"
"Wah romantis banget ya kaya kita!"
Aku sedikit kaget mendengarnya karena buku ini dari tadi yang ku baca hanya menampilkan kesedihan.
"Ya enggak lah, soalnya dari tadi buku ini nampilin kisah sedih terus. Kalau kitakan bahagia!"
"Ya deh, kan aku belum baca. Jadi kita baca lagi aja dari awal ya?"
"Yah padahal udah nyampe tengahnya. Tapi gak apa apa deh, biar lebih seru kita sambil dengerin musik."
Aku memakaikan dia headset. Kami membaca sampai melewati halaman tengah yang sudah aku baca. Sampai di situ ada yang menggebrak meja kami.
BRUK!!
"Oy, pacaran mulu. Udah masuk tau! Emang gak denger bel bunyi? Lihat tuh jam!"
Kami melihat jam dan ternyata sudah setengah jam kami membaca buku.
"Oh astaga, aku tertinggal masuk kelas nih. Nanti kasih tau aku endingnya ya! Dah..."
Ini gawat aku belum makan, Seharusnya saat istirahat aku beli makan dulu. Oh iya, untung ada minuman pemberian Diana.
///
Sekarang waktunya pulang sekolah, seperti biasa aku dan Dio naik sepeda untuk pulang, melakukan balapan di jalan dan aku yang selalu menang ngelawan dia nyampe di gerbang rumahnya.
"Yeah, aku menang lagi!"
"Ya elah, bagaimana mau kalah dariku? Orang sepeda kamu punya banyak gigi. Lah aku? BMX cuma punya satu gigi."
"Yang sabar Dio, latihan aja terus. Kalau mau tambah gigi, copotin aja gigimu terus tempelin dah ke sepeda kamu!"
"Ha,ha,ha. Gak lucu tau! Udah ah, aku masuk!"
"Ya!" Dio masuk ke rumahnya, sedangkan aku melanjutkan perjalananku karena rumahku masih jauh.
Itu adalah hari terakhir aku bercanda dengannya. Karena hari selanjutnya semua masalah akan bermunculan.
Sesampainya di rumah aku langsung menuju kamarku, berbaring di kasur dan membuka HPku. Sekitar jam lima sore aku menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal. Aku membaca isi pesan itu
"Uka nakhabmesrep awij nad ukagar kutnu idbangem adapek ajar silbi yagabes kana silbi."
Setelah aku membaca pesan yang aneh itu badanku terasa panas, kupikir ini hanya karena aku belum mandi.
Selepas mandi seperti biasa aku belajar dari jam tujuh sampai jam sepuluh malam, Tapi tak seperti biasanya aku sakit.
"Ah, kenapa kepalaku terasa sakit sekali? Padahal ini baru jam setengah sepuluh malam. Aduuh, mungkin lebih baik aku tidur saja"
Aku berbaring di kasurku, Rasanya kepalaku mau meledak, apalagi rasa panas ini juga kembali muncul. Aku terus memegangi kepalaku karena rasa sakit ini, setelah beberapa menit akhirnya aku terlelap dalam tidurku.
Aku terbangun di tengah malam, mendengar suara dering pesan masuk dari HPku saat kulihat isinya adalah sebuah nama, umur, dan lokasi. Aku tidak tahu maksud dari pesan itu, tetapi setelah membacanya pandanganku menjadi kabur sejenak lalu warna mataku berubah menjadi merah.
..KRIIK.. Suaraku membuka jendela. Aku pergi dari rumah untuk mencari orang yang ada di pesan, aku tak mengenalnya tapi seperti ada yang terus memberitahuku tentangnya. Aku juga sebenarnya tidak ingin melakukan ini tapi tubuhku terus berlari sampai di sebuah pertigaan dengan pakaian serba hitam aku menghentikan sebuah mobil dan menyuruh mereka keluar dari mobil.
"Apa yang kau inginkan?!"
Supirnya bertanya kepadaku dengan nada tinggi tapi aku menjawabnya dengan nada datar.
"Aku ingin membunuh bosmu"
"Kau gila ya!"
Sontak si supir langsung ngehajarku, rasanya tidak sakit sama sekali.
"Kau bukan targetku!"
Aku menghajar kembali supir itu sampai pingsan dan melemparkannya ke trotoar.
"Beraninya kau mengganggu perjalananku!"
Satu orang lagi, bosnya. Dia menodongkan pistol ke arahku, aku berjalan pelan ke depan dan menendang tangannya yang memegang pistol. Lalu aku mencekik lehernya sampai mukanya menjadi pucat, matanya seperti akan keluar, dan akhirnya mati. Aku membunuhnya dan datang pesan masuk ke HPku dari nomor tidak di kenal.
"Misi selesai. Kau boleh mengambil hartanya jika mau"
Itu adalah isi pesannya, aku di perbolehkan mengambil hartanya seperti mobil, koper uang, dan lain-lain. Tapi sebenarnya hidupku sudah berkecukupan, hanya saja aku tidak tahu kenapa aku melakukan semua ini.
YOU ARE READING
KILLERPHONE: Awal Dari Jiwa Yang Keji
FantasyPelajar kelas 3 SMP yang mengulang kelasnya, karena sebuah keanehan yang dia hadapi satu tahun silam. Akibatnya dia di jauhi oleh orang-orang sampai tidak punya satu temanpun. Di mulai dari sebuah pesan aneh yang mengubah hidupnya dari kebahagiaan m...
