Kota Gearth malam ini gelap. Tepat pukul 09.00 malam seluruh aliran listrik di kota itu padam. Untuk pertama kalinya terjadi pada bulan ini. Biasanya, aliran listrik di matikan jika ada perbaikan serius pada tower-tower atau gangguan pada tiang-tiang listrik di jalan-jalan kota. Entahlah, apa sebab matinya lampu pada malam ini. Dan lampu biasanya akan menyala setelah satu, atau dua jam kemudian. Jalanan hanya akan di terangi oleh cahaya lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang.
Kali ini, sang penjual lilin dadakan akan muncul dimana-mana. Seorang gadis berambut pirang berjalan dengan tergesa-gesa. Salah seorang pedagang dadakan menyapa gadis yang berjalan di dekat terminal bus itu.
"lilin ini akan menerangimu dalam gelapnya malam ini nak..." ujar laki-laki paruh baya itu menawarkan dagangannya. Gadis itu terus berjalan. Tapi, si penjual lilin tak berhenti menawarkan lilinnya sambil ikut berjalan dengan tergesa-gesa. Gadis itu terus berjalan sambil menatap langit. Seperti takut akan jatuhnya salju sebelum tubuhnya sebelum berada di rumah. Syal yang melilit pada leher manisnya ia tata lebih kuat. Laki-laki paruh baya itu pun menghentikan langkahnya seraya menatap gadis itu tajam.
"lilin ini adalah penyelamatmu ..." sorak laki-laki itu dengan wajah tak berekspresi.
Gadis itu terdiam. Lalu dengan rasa kesalnya mengambil satu lilin dari tiga lilin yang di tawarkan penjual itu lalu membayarnya kemudian pergi begitu saja meningglakan laki-laki penjual lilin dadakan tadi. Laki-laki tua itu lalu membawa sisa lilinnya pergi, sambil berjalan dan terus berjalan hingga bayangannya menghilang di lorong bawah jembatan.
Handphone Luna berdering. Luna yang baru saja menyalakan lilin untuk kamarnya segera menerima telpon.
"halo Liz ... apa kau sudah sampai di rumah?" Tanya Luna.
"ya ... begitulah, apa kau sudah menyalakan lilinmu?"
"ya! Aku baru saja menyalakannya, bagaimana denganmu? Apa lilinmu cukup terang sampai nanti?"
"sepertinya tidak, karena aku hanya membeli satu batang tadi di jalan dari kakek tua yang memaksaku membeli lilinnya!" jawab Eliz.
"ya! Dia benar! Kau memang seharusnya membeli lilinnya!"
Eliz terdiam tak ada jawaban. Sepi sesaat. Luna merasakan perasaan sedih yang sedang dirasakan sahabatnya itu.
"apa Bryan masih mengganggu fikiranmu?" Tanya Luna sedikit canggung.
"dia akan terus terbayang dalam benakku Luna"
Luna merasa sedikit bersalah karena telah menanyakan hal itu. Namun ia tak ingin sahabatnya itu tenggelam dalam bayang Bryan, si playboy di kampus dulu yang telah menyakiti hati Eliz. Sahabat terbaiknya.
"Hmm ... aku hanya bisa memberi saran agar kau melupakannya"
"yah! Aku akan mencobanya dengan tidur lelap di atas kasur sekarang. Bagaimana pendapatmu?" Tanya Eliz meminta pendapat.
"ide yang bagus!"
"kalau begitu, sampai besok di kantor. Bye! "
"Bye!"
Setelah menyelesaikan pembicaraan itu, pandangan Luna terlempar keluar jendela. Kamarnya yang berada di lantai atas membuatnya dapat melihat keindahan langit malam yang bertabur bintang dengan jelas. Gelapnya kota Gearth malam itu membuat sinar bintang-bintang seakan ingin mengalahkan cahaya sang rembulan.
Tapi, kekagumannya itu menghilang ketika melihat sesosok tubuh melewati manusia seorang laki-laki paruh baya yang sepertiya menjadi penjual lilin berjalan melewati rumahnya. Dengan pakaian dan topi lusuhnya, si penjual lilin itu membawa lilin-lilin dagangannya. Namun, yang menjadi perhatian Luna, kenapa si penjual lilin itu hanya membawa beberapa batang lilin saja?.
Mungkin lilinnya hampir habis terjual. Fikir Luna.
Luna mengambil nafas panjang. Fikirannya kembali pada kata-kata ketua redaksi di kantornya tadi.
Luna memicingkan matanya. Matanya terus berusaha mengikuti jalan laki-laki itu. Tak lama, ia terlonjak kaget. Bukan karena melihat keanehan melainkan mendapatkan sebuah ide untuk penulisan novel horornya kali ini.
Ia pun segera menaruh lilin yang dinyalakannya tadi di atas meja. Dan ia pun mulai menulis sebuah judul.
"LILIN MAUT"
# BERSAMBUNG #
VOCÊ ESTÁ LENDO
The Light of The City
Ficção GeralTerinspirasi saat blackout menjelang maghrib. Cerita ini mengalir layaknya air. Terasa tenang dengan background kota tua yang sederhana. Penduduk kota yang beragam rupa. Gambaran kota yang telah rapuh namun masih memiliki cahaya. Cerita berbalut...
