Semilir angin menyapa kulitku, mengajak menari di jalanan depan rumah. Ku ikuti iramanya dengan senada. Meski tak pandai menari, serunya tak akan terganti.
"Piw... " nada yang tak kukenal, ku dengar. Tak kuhiraukan, kembali ke irama.
"Piw... Kamu piw kan?" Nada itu mendekat, menyapa dengan sopannya. Ku berbalik mengikuti nada.
"Ah... Iya, ada apa ya?" Pipi memerah, tak kusangka ada yang melihatku menari ditengah malam yang sepi.
"Ini aku Fahri, kamu yang ikut lomba Matematika, kan? "
"Oh iya, Tapi... Maaf. Aku tidak mengingatmu." Bingung dengan ucapanku.
"Iya, nggak papa kok. Aku ngerti, kamu pasti pelupa. Hhee" Candanya.
Ungkapan itu ku balas dengan senyuman. Ditengah kekosongan kata, seorang pria yang entah darimana, melintas di depan kami. Sontak mataku mengikuti gerak-gerik insan itu. Detakan jantung yang normal, seketika abnormal. Tak terkendali. Takutku, detakan ini akan terdengar keluar. Ahh...lebaynya diriku. Tapi apalagi kata yang dapat menggambarkan perasaanku waktu itu. Tidak ada. Malam itu, perfect When I See You.
VOUS LISEZ
The Man Of My Dreams
Roman pour AdolescentsSesuatu yang kau bayangkan, pernahkah itu terjadi? .... Tidak? Aku tahu mengapa. Sesuatu yang tak pernah kau bayangkan, jelas-jelas menghampiri. Pernahkan? Ya, pasti pernah. Itupun aku tahu mengapa. Tapi, aku tidak tahu mengapa seseorang yang kita h...
