Back Song ; Perfect-Ed Sheeran.
Qoute ; I can conquer the world with my left hand as long as you're holding the right. –Loki.
Tittle ; Turbullence
"Bang Raka, ambilin itu," tunjuk Keysha ke rak supermarket paling atas yang memuat dus sereal.
"Ambil sendiri dong, Key. Abang lagi mikir nih," tukas Raka, sahabat abang Keysha yang tengah konsentrasi menimang jar selai. Dahinya berkerut menentukan antara Nutella dan Ovaltime.
"Nggak ada tangga, Bang," Rajuk Keysha.
"Ish," desis Raka akhirnya melempar kedua jar tersebut ketroli belanja.
Keysha tersenyum semanis gula, menunggu Raka jongkok agar ia bisa naik dipunggung kokoh Sang Pilot. Ya mau bagaimana lagi? Dengan tinggi Keysha yang mentok di 150cm walaupun usianya sudah 26 tahun, tetap saja banyak yang mengiranya masih anak SMP-SMA. Yeah! Life suck girl!
"Udah belom?"
"Cuma ada dua dus disini," tukas Keysha melempar dus ketroli, "itu... geser kanan dikit dong, Bang... Yap!! Udah-udah, idih Abang Raka, jangan banyak gerak dong. Kalo Key jatoh gimana?"
"Ih jangan jambak-jambak gitu dong, rontok ntar nih rambut."
"Makanya nikah, udah beruban masih aja pilih-pilih. Ya keles yang dipilih mau," kekeh Keysha melempar lagi tiga dus sereal ke bawah. "Sip, udah nih. Turunin."
Raka kembali jongkok agar Keysha bisa turun, setelah itu Keysha merapikan rambut Raka dengan tangannya, "udaaaaah keren," dehem Keysha mengagumi sosok Raka diam-diam.
Sigh! Cinta bertepuk sebelah tangan itu nyeri, Jendral. Dari sepuluh tahun yang lalu sampai hari ini, Keysha masih melihat Raka sebagai sosok paling bersinar di dunia. Tapi, kenyataannya Keysha tidak lebih dianggap sebagai seorang adik oleh Raka. Pedih.
"Ck, kebiasaan kamu itu. Jadi gimana tawaran liburan Abang kemaren?"
Keysha mengerucutkan bibir kemudian menyurukkan bahu. Liburan, liburan... apa kabar hatinya yang minta diajak nikah. Coba dari sepuluh tahun lalu si Abang Raka peka, kan berdua udah membangun keluarga bahagia. Lah ini, sepuluh tahun makan diktat kuliah sama makan ati doang isinya. Hati Keysha kan laper pengen dijejeli cinta.
"Kok gitu?" pepet Raka melihat ekspresi suntuk Keysha.
"Key ditawari Bang Marvel jadi intern-magang gitu di Rumah Sakitnya, jadwalnya barengan sama plan liburan, Abang. Kan Key jadi galau."
"Oh, ya udah terserah kamu. Lusa Abang udah on schedule, kamu kabari aja finalnya gimana. Kalo emang jadi, biar abang langsung purchase tiket buat kamu."
"Ugh, such a damn dilemma!" Rutuk Keysha sambil menjambak rambut panjangnya.
∞
Sesampainya di apartemen Keysha-ia dibantu Raka membawa kresek belanjaan langsung tepar di sofa. Raka menata bantal di sofa agar enak dibuat bersandar, Kresek yang berisi camilan dan kebutuhan dapur tergeletak di karpet. Keysha melempar remot TV agar Raka bisa menonton, kemudian bangkit dan membawa belanjaan kedapur untuk ditata.
"Mau es krim nggak, Bang?"
"Boleh, tadi kamu beli rasa Duren, kan?"
"Hmmm," gumam Keysha, meskipun ia tidak suka Duren demi crush for life nya ini mah... masuk keranjang juga buah berbau menusuk itu. Apasih yang enggak buat Raka? Terjun dari peswat juga Keysha ladeni kok.
Crush sialan! Kalo memendam 10 tahun namanya desperate love life keuleus, nyicil apartemen ini aja nggak nyampek sepuluh tahun kok. Gerundel Keysha dalam hati.
YOU ARE READING
Turbullence
Short StoryThis is my first short story after a looooooong time from hiatus.
