Nadya POV
Aku berpamitan pada ayah sebelum turun dari mobil.
"Yang semangat ya ikut mosnya. Jangan cari pacar dulu, ini kan masih mos. Nanti kalo udah belajar terus dapet yang ganteng, baru bawa ke rumah buat dikenalin kekeluarga kita. Hahaha... " Kata ayahku. Aku sudah puas dengan semua candaan ayahku yang selalu membuatku merasa geli sekaligus kesal. Huh..
Aku turun dari mobil dengan semangat untuk mengikuti mos di sekolah baruku. Walaupun hanya mos, tapi ini sangat berarti bagiku. Karena dari sini aku bisa mempunyai teman baru.
Bel tanda untuk apel pertama kami telah berbunyi. Para senior mulai mengarahkan para juniornya untuk berkumpul di depan ruang TU. Kami berkumpul membentuk barisan. Barisan laki-laki dan barisan perempuan terpisah. Dan saat ini aku hanya dapat melihat para murid laki-laki sibuk membicarakan sebuah topik (yang sepertinya seru) yang aku tak ketahui. Sedangkan para murid perempuan (termasuk aku) sibuk memperhatikan senior-senior kami yang ganteng banget, terutama sama seseorang dengan badan yang tinggi dan tegak, berkulit sawo matang, hidung mancung dan alis yang tebal. Dia juga memakai kacamata, dan bila kacamatanya di lepas bisa membuat semua cewek teriak-teriak kayak orang kesetanan. Dilihat dari name tag di jas almamaternya, namanya adalah Januar Azka Affandi atau yang biasa dipanggil Kak Azka. Dia adalah ketua OSIS di sekolah ini.
Tak lama kemudian, pandangan kami semua berpaling ke sumber suara. Di sana ada kepala sekolah kami yang baru. Beliau baru saja memperkenalkan dirinya. Namanya Dr. H. Sofyan Yunus, M. Pd. dan biasa dipanggil Pak Sofyan. Dari wajahnya kami dapat melihat bahwa beliau adalah orang yang sangat berwibawa. Tetapi dilihat dari tutur katanya, sangat dapat dipastikan beliau adalah orang yang jenaka dan gampang berbaur dengan banyak orang.
"Anak-anak, setelah kalian mengikuti mos di sekolah ini, kalian akan menjadi siswa resmi di sekolah ini. Kalian juga bisa mengikuti berbagai organisasi yang ada di sekolah ini. Contohnya, organisasi Kepramukaan, PMR, Marching Band, English Club, Rohani Islam (ROHIS), Keolahragaan, dan masih banyak lagi. Atau ada yang mau masuk OSIS? Silahkan. Semua diperbolehkan untuk ikut berorganisasi. Hanya satu organisasi yang tak ada di sekolah ini, yaitu renang. Kalau ada yang mau berenang, ya kita tunggu saja sekolah ini banjir lalu kita ramai-ramai datang ke sekolah ini untuk berenang." Kata Pak Sofyan yang sedang memberikan sambutannya, tidak lupa dengan beberapa candaannya. Semua siswa tertawa dengan candaanya itu.
Setelah beliau menutup sambutannya dengan salam, para senior mulai mengambil alih barisan. Mereka membagi kami menjadi sepuluh kelompok, 7 perempuan dan 5 laki-laki. Aku termasuk ke dalam kelompok pertama. Kak Seno dan Kak Tari yang akan bertugas memimpin kelompok kami. Kami pun berjalan mengikuti kedua kakak kelas kami itu.
Kami dibawa ke salah satu kelas yang berada di lantai dasar, sedangkan kelompok lainnya memilih tempat yang berbeda-beda. Ada yang memilih bertempat di lantai 2, aula, taman, dan bahkan di tengah lapangan.
Mos kami baru akan dimulai sekarang. Kami memulainya dengan memperkenalkan diri masing-masing. Dimulai dari barisan paling depan, sampai tiba saatnya aku untuk memperkenalkan diri. Aku pun langsung berdiri. Tetapi belum sempat aku berbicara, seseorang masuk ke dalam kelas dengan memberikan salam.
"Assalamu'alaikum.." Suaranya yang lembut mampu menghipnotis siapa pun yang mendengarnya. Tentu saja dia adalah Kak Azka, ketua OSIS kami.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.. " Kami serentak menjawab salamnya. Dia kemudian melemparkan senyum manisnya kepada kami semua. Para murid perempuan hanya bisa terdiam dengan mata dan mulut yang terbuka lebar. Sedangkan para murid laki-laki terlihat jengkel dengan tingkahnya itu. Jelas saja mereka pasti iri.
"Bisa bicara sebentar dengan Kak Seno dan Kak Tari? " Tanya Kak Azka. Kak Seno dan Kak Tari mengangguk mempersilahkan Kak Azka untuk bicara.
Kak Azka, Kak Seno, dan Kak Tari terlibat pembicaraan yang serius. Aku hanya bisa memperhatikan mereka tanpa berkata apa pun. Iyalah, karena pikiranku sudah dipenuhi dengan Kak Azka. Pandanganku tak bisa lepas darinya. Rasanya ingin sekali aku mendekatinya walaupun hanya selangkah. Tapi aku sadar, aku bukan siapa-siapa. Lagi pula, kalau aku mendekatinya, nantinya aku hanya akan membangunkan macan yang sedang tidur (para cewek yang mengaguminya). Bisa-bisa aku pulang udah jadi lemper (babak belur trus jadi lemes kayak lemper).
YOU ARE READING
HUG ME
Teen Fiction* Aku terduduk dengan air mata yang mengalir tak henti-hentinya. Hatiku hancur dengan apa yang barusan dikatakannya. Aku tak punya tempat untuk bersandar lagi. Dia sudah tak bersamaku lagi. Sekarang kami terpisah jauh dan tak akan pernah kembali ber...
