Someone's Likes You

215 23 6
                                        

Pisau melayang hampir mengenai ujung hidungnya. Sementara tidak ada rasa takut, ia hanya menyengir membuat lawannya semakin kesal dan berutal. Tembakan-tembakan pun datang menyerangnya tanpa ampun, sayangnya mereka semua amatir dalam menggunakan senjata api SH2005 itu. Sampai peluru habis lantas tak ada satupun yang berhasil menembus kelincahannya. Ia mulai mengikis jarak dengan lawannya yang terdiri dari sepuluh lelaki berbadan kekar dengan kostum serba hitam itu. Ia melawan mereka yang masih bersenjata cadangan. Jumlah tak berarti selama kekuatan masih berpihak padanya, prinsip itu benar saja, ia berhasil menang.

Tepat ketika salju turun, ia menghisap kembali cairan yang baru akan keluar dari hidungnya, lalu menggosok hidung itu kasar. Suara sirine mulai terdengar ramai-ramai datang. Mobil polisi memenuhi gedung, segera ia lomat--meninggalkan atap gedung, membiarkan puluhan lelaki yang terkapar tak berdaya. Entah masih bernyawa atau tidak, yang tampak hanya darah bersama senjata di mana-mana.

"Sial, terlambat."Sesal polisi yang pertama kali sampai di TKP--Tempat Kejadian Perkara--, tampak embun menguap dari mulutnya setiap kali ia mendesah. Setelah polisi itu berbodong-bondong polisi lainnya datang mengefakuasi korban? Tidak. Mereka semua penjahat. Salah satu mafia berbahaya di Asia. Penyelundupan narkoba, perampokan bersekala besar sekaligus pembunuhan, itulah pekerjaan mereka.

"Pak Kim lihat!"Teriak salah satu polisi yang menemukan tumpukan dokumen di tengah tempat kejadian perkara."Bukankah ini bukti-bukti yang kita butuhkan." Polisi yang baru saja mendesah kasar tadi, segera berlari mendekat, ia langsung memeriksa dokumen-dokumen itu.

###

Suara desahan kasar yang pertama terdengar sebelum tanggan bekulit putih terang terangkat untuk menggenggam gagang pintu kaca. Ada sebuah cincin emas mengihasi jari manis tangan itu, sesuatu yang bersinar ditengahnya seperti bintang, sangat mencuri perhatian, kombinasinya sederhana namun indah. Tangan itu menarik pintu kaca dengan kasar sehingga terdengar suara decitan yang mengganggu. Seorang wanita berambut panjang dengan warna hitam kecoklatan masuk. Aroma segar daun dan bunga langsung menyerang hidung wanita itu."Ibu!"ia merengut, hendak marah.

"Jiyeon?"Yang akan dimarahi hanya tertegun tanpa persiapan. Pintu kaca tertutup kembali secara otomatis ketika tangan Jiyeon--nama wanita itu-- meninggalkannya.

"Siapa yang ibu pikir akan membeli bunga di malam yang larut dan dingin ini, bahkan di luar sedang turun salju?"

"Tidak biasanya kau berkunjung selarut ini."

"Mulai besok aku akan berkunjung setiap larut malam."

"Ibu serius, Sayang."

"Aku juga serius, Bu,"Jiyeon menatap ibunya."berapa kali aku harus bilang sebelum jam sembilan malam tokonya tutup saja. Ibu sudah sangat tua, tidak perlu bekerja keras seperti dulu lagi."

"Ibu tidak apa-apa Sayang."

"Jangan membuat aku khawatir, Bu!"

"Nde Mianhae, lain kali ibu akan tutup lebih awal. Sekarang jawab pertanyaan Ibu, kenapa berkunjung selarut ini, sudah jam setengah sebelas Jiyeon-aa, ini juga membuat Ibu sangat khawatir."

"Aku baik baik saja Bu, aku hanya ingin tidur bersamamu malam ini."

"Aigo alasanmu membuat Ibu luluh."Jiyeon terkekeh dengan wajah kekanakan."Anak Ibu ini, sudah dewasa masih saja manja. Kajja kita makan dulu! Ibu membuat banyak Bulgogi, pasti kamu lapar di luar kan sangat dingin."Jiyeon menganguk dan mengikuti ibunya masuk ke dalam. Namun sebelumnya Jiyeon sempat menoleh ke belakang sambil membalik papan yang tergantung di pintu kaca-- awalnya bertuliskan 'BUKA' mepenjadi 'TUTUP'. Toko bunga itu dilapisi tembok dan pintu kaca sehingga sanggup menampilkan suasana luar yang begitu remang dan sepi meski embun telah melapisinya. Salju turun dengan damai malam ini, simpulnya dalam hati.

KAIWhere stories live. Discover now