Chapter 1

50 2 3
                                        




Aku tidak bisa percaya bahwa aku akan merasakan sakit lagi. Tunggu itu mungkin agak membingungkan. Tapi, bisa dikatakan bahwa aku bukanlah seorang manusia. Berawal dari kegelapan seperti biasa dan kemudian boom aku bisa merasakan sakit yang sangat luar biasa. Mataku terbuka seketika dan  langsung terpaku pada lengan kananku. Lenganku berdarah. Ada besetan di mana-mana. "AH!" teriakku panik. Aku memegang lengan kananku, mataku terbelalak. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Aku mengerang kesakitan, dan cairan merah itu terus keluar perlahan dari tubuhku. Tapi tampaknya aku cukup lemah untuk melakukan apapun. Aku terjatuh di lantai begitu saja. Nafasku berat.

Tiba-tiba suara yang kukenal datang, "Hai, apa kabarmu?"

Aku melihat ke arah langit-langit. Ah, dia.

"Ok-ok, sini kusembuhkan dulu. Kau pasti kaget ya. Sudah berapa lama kamu tidak bisa merasakan sakit?"katanya sambil tersenyum licik.

Dia, seorang malaikat pelindung bisa dibilang, kini datang bukan dengan sayap putih yang berkilau, dan bajunya yang mengatakan bahwa dia seorang yang suci. Tapi kini—

Ia mebisikkan mantra padaku yang teduduk lemah. Setelah itu, aku bisa melihatnya jauh lebih baik, "Kamu kenapa? Apa yang terjadi dengan—"

"Diamlah, aku belum selesai."

Aku melihat wajahnya. Eh, siapa dia? Seingatku dia bukan malaikat pelindungku yang biasanya.

"Ini tetap aku, tenanglah,"katanya, kemudian setelah selesai dia membantuku berdiri.

"Baiklah,"ia langsung membuat aku berbalik ke arah cermin yang ada di dinding.

Aku melihat seorang pria. Ia pria muda. Tampaknya berumur 20 tahunan. Wajahnya bersih tanpa kumis atau pun jenggot. Ia pangkas rapi rambutnya meski tidak sesuai dengan baju yang ia kenakan. Ia tampak lelah, dan mungkin sebenarnya agak lebih baik dari sebelumnya, tapi aku bisa tahu bahwa ia telah melalui banyak hal. Aku membuka mulutku tak percaya. Karna aku tahu bahwa ini bukan aku.

"Siapa dia?"tanyaku pelan sambil menunjuk cermin.

"Ya itu kamu,"

"Gak mungkin lah."kataku berdecak. "Permainan apa lagi ini? Aku yakin aku gak kayak gini."

"Kamu ngejek?"

"Ya nggak maksudnya,"aku terdiam sebentar. "Apa-apaan ini, bangsat,"lanjutku kesal.

Ia terkaget dan terkekeh. "Tenang aku bisa jelaskan—"

"Dia bukan aku! Kenapa ini terjadi, ini tidak masuk akal. Ini pasti kamu kan? Kamu pasti melakukan sesuatu di sini!"

Dia memutar mata, dan kemudian sebelum aku bisa memukulnya, ia menjentikkan jari dengan cepat. "Mute."

Suaraku tidak keluar dan tanganku tertahan. Ah ya, kekuatan gaib atau apapun itu. Aku menghela nafasku berat. Aku tidak percaya dia melakukan ini padaku yang tinggal selangkah lagi akan menjalani hidup yang bahagia di Heaven sana.

"Oh, ya aku tau itu impianmu. Tapi surprise! Ini adalah misi terakhirmu!"

Aku mengernyit dan membuka mulutku, membuat kata hah hampa tanpa suara.

"Aku tau kau kesal atau bingung, atau apapun itu. Tapi yang pasti kau perlu mendengarkan aku karena ini sangat penting, ok?"katanya sembari terbang di atasku beberapa senti.

"Pertama, ini adalah misi terakhirmu seperti yang aku bilang tadi, dan kamu harus menjalaninya dengan baik atau kamu akan berakhir di Hell."

Hah? Berakhir di Hell? Hanya karena misi ini saja? Sepenting itukah?

"Ya, ini penting sekali. Sangat penting. Aku tahu kau sudah melakukan banyak hal demi mencapai Heaven yang kau dambakan, tetapi ini misi special hanya untukmu! Kau tidak bisa melewatkannya!"

Aku tidak percaya, aku yakin 100% ini karena ulahnya.

Ia berdehem karena tampaknya aku benar. "Well, kedua misi adalah tentang menjadi seorang Karamatsu Matsuno, pria yang kamu pinjam tubuhnya sementara."

Hah, kenapa? Siapa Karamatsu Matsuno? Aku sama sekali tidak mengenalnya.

"Itu adalah point dari misi ini. kamu harus mencari tahu siapa Matsuno-san ini sebenarnya. Karena kamu akan menjadi dia sementara. Tujuannya? Tentu kamu telah mengalami hal yang cukup menyakitkan tadi."katanya. Aku melihat lengan yang tadi penuh dengan besetan, seketika aku merasakan sakit yang tidak tertahan itu.

"Betul. Yang dia lakukan adalah menyakiti dirinya sendiri. Cutting. Kamu lihat cutter di pinggirmu? Aku harap kau membuangnya karena tampaknya itu hanya akan merugikanmu. Yang perlu kamu lakukan adalah mencari tahu alasannya kenapa ia melakukan itu. Kemudian bantu dia untuk mengatasi masalahnya. Buat dia bahagia lagi."

Eh? Apa nggak salah denger? Buat dia bahagia?? Oleh seorang stranger sepertiku?? Aku merasa ada yang salah. Aku mencoba berteriak kesal meski aku tahu dia tidak akan mendengarnya. BAGAIMANA CARANYA AKU MEMBUAT DIA BAHAGIA KALAU AKU SAMA SEKALI TIDAK TAHU DIA SEPERTI APA?? Malaikat kurang ajar.

"Ah, aku lupa sesuatu."katanya berpindah tempat, ia duduk di closet duduk. "Ada peraturan yang harus kamu ikuti."

Apa lagi ini...

"Satu, tidak boleh menghamburkan uangnya Karamatsu. Dia mendapatkan uang atas hasil jerih payahnya sendiri. Jangan jadi seorang yang kurang ajar dengan menghabiskan uangnya apalagi di Panchinko atau bar atau pergi ke love hotel."

HAH KAU MELARANGKU UNTUK PERGI KE PANCHINKO???

"Betul, tidak boleh pergi untuk judi termasuk panchinko, horse game, juga tidak boleh menghabiskan uang untuk wanita. Kalau kau ketahuan sekali saja, kau akan langsung dikirim ke Hell tanpa basa basi."

APA-APAAN INI??? AKU TIDAK TERLAHIR KEMBALI UNTUK TIDAK BISA PERGI KE PANCHINKO

"Dan, jangan sampai orang mengetahui identitas aslimu. Bahkan kamu bukanlah Karamatsu Matsuno."katanya serius. Kemudian, ia menjentikkan jarinya lagi.

Aku terengah. Suaraku kembali. "Kenapa harus aku?"kataku pelan.

Dia melihatku. Serius.

"Kenapa Karamatsu? Apa yang telah aku lakukan padaya?"

Dia tersenyum kecil. "Aku tidak tahu, mungkin kamu telah melakukan sesuatu padanya. Karamatsu bisa saja merupakan temanmu, atau bahkan lebih dari itu. Tapi bisa juga musuh terbesarmu. Kamu nggak pernah tau."

Aku.... tidak paham.

"Aku juga. Tapi... aku harus pergi."katanya kemudian berdiri. "Kamu punya waktu satu menit untuk membersihkan semua ini."ia melihat jam tangan di lengan kirinya.

"Tunggu, kamu mau kemana?"

Dia mengabaikan pertanyaanku. "Aku berharap kamu membersihkannya dengan baik karena mereka akan datang. Kalau mereka tahu, kamu akan pergi Hell. Jadi, semoga kita bertemu lagi di sana."dia melambaikan tangan dan menghilang ke udara. Menjadi debu.

HAH??? Malaikat kurang ajar...

Aku menghela nafas, dengan berat hati aku melihat ke ruangan cukup sempit ini, yang ternyata merupakan toilet selama ini aku baru sadar, dan tampaknya ini adalah sebagian pekerjaanku dari ribuan hal yang telah kukerjakan. Baiklah semoga aku tidak sesegera mungkin sampai di Hell.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 04, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Second ChanceWhere stories live. Discover now