0

831 103 16
                                        

Aku mencintainya, bukan karena dia membuatku senang. Aku tahu jika aku mencintainya justru karena dia lah satu-satunya orang yang bisa membuat aku sangat terluka untuk sekedar sikap acuhnya.

Aku mencintainya, bukan karena dia tampan. Bagaimana bisa aku berkata demikian, jika wajahnya saja selalu berganti-ganti dalam bayanganku. Ya, aku mencintainya,tanpa tahu seperti apa dirinya.

Aku tidak yakin akan perasaannya, aku takut semua itu kebohongan. Mengingat akan aku, akan keadaan ku.

Semua kata-katanya selalu aku simpan direlung terdalamku. menurut, itulah yang aku akan lakukan.

...

Ketika aku mencoba mengabaikannya, aku pikir aku mampu. Namun aku salah, salah besar, karena hal itu semakin membuat hatiku berlari menujunya.

Aku berakhir dengan berjalan perlahan sambil memperbaiki diriku, penampilanku, keadaanku. Berharap dia berbaik hati melihat kesungguhan perasaanku.

Sebuah kenyataan membuat aku benar-benar kehilangannya.

...

Aku mungkin tidak tahu cara bagaimana menunjukan rasa cinta itu, tapi yang jelas kehilangan dia, berarti kehilangan hidupku.

Jika tubuhku memerlukan oksigen untuk bernafas, maka jiwaku membutuhkan dia untuk terus hidup.

...

Maafku jika selalu membuatmu bersedih, tapi sungguh senyumanmu adalah suatu hal yang selalu aku pertahankan.

...

Jika cinta itu merelakan, maka sebanyak air mataku, aku harap kamu bahagia.

---


"Sayang..." lenguhan pria yang Ten cintai terdengar ditelinganya, tangan pria itu melingkar dari samping tubuhnya. Hati Ten menghangat. Senyumnya mengembang.

Hari ini Taeyong, Lee Taeyong dengan sikap hangatnya memeluk tubuh mungil Ten ketika pria mungil itu sedang duduk sambil membuat tembikar, salah satu kegemaran Ten.

"Kamu mau buat apa hari ini?" tanya Taeyong yang kini sedang menyamankan pelukkannya di tubuh Ten.

"Kamu." Jawab Ten dengan suara terkesan malu.

"Apa? Kamu? Aku kenapa?" Taeyong benar-benar bingung, karena Ten memang biasanya hanya membuat tembikar dengan bentuk vas bunga, mug, atau guci.

"I-iya Tae, aku mau buat bentuk wajah kamu. Jadi, ketika kamu sedang tidak bersamaku dan aku rindu, aku bisa liat kamu lewat tembikar ini." Jelas Ten.

"Aku sayang kamu Ten." Lalu Taeyong mengecup pipi Ten dan menyaksikan pipi yang dikecupnya memerah menandakan orang yang kini masih dipelukkannya malu.

"Ten..." Taeyong menggantungkan kalimatnya.

Pergerakan tangan Ten terhenti untuk memijat tanah liat didepannya. Membersihkan tangannya dengan handuk basah yang memang sudah biasa Ten siapkan disamping tempatnya membuat tembikar.

Kini matanya berusaha melihat kearah mata Taeyong berada.

"Ada apa hmm?" tangan Ten mengayun diudara mencoba meraih wajah tampan milik Lee Taeyong.

Setelah tertangkup, Taeyong menggenggam tangan Ten sebelum melanjutkan perkataannya.

"Aku... harus pergi..."

Tanpa Ten sadari air matanya sudah mengalir keluar.

"Hei kenapa menangis?" tanya Taeyong bingung.

"Ka-kamu mau pergi Tae? Per-gi dari sini?" suara Ten mulai terdengar sesegukan karena rasa sakit dalam hatinya seakan menjalar menuju kerongkongannya.

"iya pergi dari sini." Taeyong hanya menjawab santai.

Tangis Ten mulai tidak tertahankan.
Taeyong melepaskan tangkupan tangan Ten dan pelukkannya dari tubuh Ten.

Ten benar-benar membeku di tempatnya.

"Aku harus pergi ke kamar mandi Ten. Aku ingin buang air kecil. Kamu kenapa? Takut banget kehilangan aku ya?"

Lalu terdengar suara gemaan tawa dari mulut Lee Taeyong yang beranjak menjauh dari Ten.

BRENGSEK!!

LAKI-LAKI BRENGSEK.

Maki batin Ten sambil mengelap air matanyaa yang ternyata hanya sia-sia ia tumpahkan.

TBC

Ini work baru aku yang dibuat bersamaan dengan my skripsweet. Jadi maaf jika tidak bisa sepanjang biasanya:")
Jika ada typo atau kata-kata yang penempatannya terbalik harap maklum, otak authornya cuma sesendok emang😂

Perpetual Love Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang