Tahu benar diri ini mengemban tanggung jawab di kedua pundak. Namun begitu, tak ada secuil pun niatan untuk memperbaiki diri. Hanya ada satu hal yang ia inginkan di dunia ini : Pengakuan. Lelah selalu dianggap sebagai yang kedua. Padahal, dirinya lah yang tercatat resmi oleh negara sebagai putra dari keluarga itu.
Hingar bingar musik terdengar disana-sini. Pemuda pemudi yang ada di ruangan nampaknya hilang sadar. Entah karena benak masing-masing yang diselimuti kabut berkat alkohol atau mereka memang sengaja berpura-pura berada di fantasi sendiri.
Satu persona dengan tubuh atletis di tengah lantai dansa adalah salah satu yang dapat dipastikan masuk dalam golongan kedua. Lelah diberi aneka tuntutan dari berbagai pihak. Letih mengejar pengakuan yang tak kunjung diperoleh. Penat menjadi bayangan persona lain yang harusnya tak pernah hadir dalam kisahnya.
Mendapat cap sebagai figur yang urakan dan acap kali bertindak sesuai kemauannya sendiri bukan ia yang minta. Ia berani bertaruh, tak ada satu individu pun di dunia ini yang mengerti dirinya. Tidak jua ayah dan ibu yang sedarah dengannya. Semua orang selalu berkata ia sosok egois. Jika di dalam film, mungkin peran antagonis yang tersemat di dadanya.
Masa bodoh.
Ia lelah berusaha keras.
Semua orang telah berpikiran seperti itu. Tak ada guna merubah pemikiran orang-orang bebal yang selalu memiliki anggapan buruk tentangnya.
Biar saja ia menapaki jalannya yang tak beraturan seperti ini. Apa itu masa depan? Ia hanya hidup saat ini.
***
Sejak dirinya dapat berdiri sendiri, detik itu pula lah segala kisah hidupnya ditulis. Bukan oleh Yang Menciptakan, melainkan satu grup individu yang meletak perhatian besar pada keluarga masing-masing. Ah, mungkin kalian akan bingung dengan kalimat terakhir. Ia tak pernah mau menyebut 'mereka' sebagai golongan fanatik terhadap perusahaan yang dimiliki keluarganya turun temurun. 'Mereka' hanya terlalu menyayangi keluarga masing-masing hingga mencurahkan lebih banyak tenaga dan perhatian pada wadah mereka mencari rezeki.
Tak pernah memiliki pilihan. Jalur yang terbentang di hadapannya hanya satu. Tapaknya hanya bisa menelusuri jalan itu.
Kata 'iya' selalu terucap lewat bilah bibirnya. Toh, ia tahu benar tak ada gunanya membantah. Sekeras apapun ia menolak, kembali lagi pada permasalahan utama. Jalan di hadapannya hanya ada satu. Terlalu beresiko untuknya membuka jalur baru. Tak hanya akan menyakiti keluarga. Terlalu banyak yang harus dikorbankan.
Seharusnya, piala Oscar selalu jatuh ke dalam dekapan. Tak terhitung berapa topeng berbeda yang ia pasang di tiap lembar-lembar baru kehidupan. Entah berapa kurva lengkung palsu digurat pada paras apiknya. Tak terhingga pula emosi yang harus ditelan bulat-bulat demi menyenangkan banyak orang dan mengorbankan keinginan pribadi.
Apa ia punya jalan lain? Tidak sama sekali.
***
Eksistensinya di dunia ini mungkin tak diharapkan banyak orang. Dirinya hanya hasil perbuatan tak bertanggung jawab sepasang insan yang dirudung nafsu belaka. Wanita yang ia panggil ibu terus memberi tatap jijik. Padahal apa salahnya? Jika boleh meminta, ia akan memohon pada Tuhan agar tak pernah diizinkan menatap dunia.
Rasa benci pada diri sendiri kian bertambah kala Ibu menjadikannya alat untuk memeras. Mesin pengeruk uang dari seseorang yang seharusnya bisa ia panggil Ayah. Bibirnya seolah dijahit rapat acap kali pria yang turut menyumbang kromosom untuknya datang. Ia tak butuh uang pria itu, sungguh. Hanya malu yang didapat tiap kali lembar kartal berpindah ke tangannya. Ia tak pantas mendapat secuil pun harta. Ibunya hanya lintah yang mengganggu kehidupan bahagia sebuah keluarga harmonis.
Jalan yang ia tapaki terpaksa berubah haluan kala satu-satunya keluarga yang ia miliki –Ibu- akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Paham benar alasan 'Ayah' mengajaknya tinggal bersama hanya karena rasa kasihan. Namun begitu ia tak memiliki pilihan lain. Kala itu, dengan umur yang masih amat belia juga pendidikan minim, tak ada sesuatu pun yang dapat dilaku guna menyambung hidup.
Jalurnya dulu mungkin terlihat berkabut. Dengan kondisi keluarga yang tak menentu, ia tidak tahu dimana dirinya akan berakhir. Semenjak berpindah jalur, ia menemukan tujuan baru. Kabut itu perlahan lesap. Tak dibiarkan Ayah kecewa karena telah memungutnya. Segala yang dapat dilakukan untuk membanggakan Ayah, pasti ia laku.
Tapi, tetap saja cemooh dan tatapan sinis dari keluarga asli Ayah yang didapat. Berulang kali ia hanya dapat menahan sakit dan memasang wajah tegar. Terlanjut membelokkan jalur, tak ingin kembali ke titik awal atau memilih jalan lain. Ia harus meneruskan langkahnya sampai selesai.
***
Di antara miliaran individu yang mendiami bumi, mungkin ia adalah satu yang beruntung. Jalan yang terbentang di hadapannya amat luas dan beragam. Tak banyak persoalan hidup mendera. Semenjak menghembuskan nafas pertama, jalannya seolah terlalu mulus. Tak ada aral melintang maupun jurang yang mengharuskannya berhenti sejenak.
Semua berubah ketika ia mulai mengenal 'dia'. Tak peduli seberapa banyak pilihan disodorkan, ia akan memilih satu yang akan membawanya pada 'dia'. Konyol, sebetulnya. Mungkin banyak yang akan dikorbankan padahal belum tentu 'dia' rela melakukan hal yang sama.
Masa bodoh.
Di pikirnya sekarang, ia sudah dewasa. Habis sudah waktunya berganti-ganti jalur sesuka hati. Kini, ia telah menentukan pilihan. Jalannya bukan miliknya sendiri.
Ia akan pergi menapaki jalan manapun yang ada, asal bersama 'dia'. Asalkan ia dapat berakhir dengan 'dia'.
ESTÁS LEYENDO
Path
FanfictionMasing-masing individu di dunia ini tentu telah memiliki jalan hidupnya. Apakah meraka akan tetap berada pada jalan yang telah ditetapkan sejak awal atau memilih jalan lain? Semua kembali pada si empunya jalan. Satu orang memilih 'belok' dari jalurn...
