Pagi yang benar-benar cerah untuk memulai sebuah aktifitas. Tak seperti biasa, pagi ini dengan semangatnya aku sudah menjejakkan kakiku di salah satu tempat atau bisa di bilang pasar yang khusus berjualan benda-benda antik, dan tentunya memiliki nilai sejarah di Jantung Kota Surabaya.
Tidak, jangan menyamakanku dengan perempuan di luaran sana yang lebih memilih menghabiskan waktunya dengan nongkrong di mall, sembari bergosip. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang Agnidya Anandhita, memiliki sebuah obsesi tersendiri ketika bertemu dengan barang-barang antik. Bahkan aku rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang lumayan banyak untuk mendapat barang antik yang ku sukai. Tentunya dalam batas wajar. Karena aku tidak mau mati mengenaskan karena lapar dalam perantauanku di Surabaya untuk 3 tahun ke depan. Ya nasib mahasiswi yang mengandalkan uang orang tua untuk biaya perbulannya.
Melihat banyaknya barang antik yang di jual di sini, menimbulkan rasa penasaranku terhadap sejarah benda tersebut di masa lampau. Dan, bagaimana benda tersebut dapat mendarat cantik di tempat ini.
Salah satu benda yang mampu menarik atensiku adalah, Gramaphone tua berwarna perunggu yang mendendangkan musik klasik berbahasa Belanda.
Gramaphone tua yang benar-benar cantik-pikirku. Tapi meski begitu, aku tidak ingin mengeluarkan uangku untuk gramaphone tadi.
Dengan mantap akupun menjelajahi setiap toko, hingga akupun berhenti pada toko yang mampu menarik atensiku. Aku melihat sebuah mesin tik dari balik kaca tersebut.
Sebuah mesin tik kuno dengan ukiran di setiap sisinya. Sesaat aku terpaku, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku masuk ke dalam toko tersebut.
Kling
Bunyi lonceng di depan pintu masuk memberitahukan keberadaanku di sini.
Dengan segera aku menghampiri mesin tik yang mampu merebut atensiku. Aku menyentuh sedikit bagian dari tuts mesin tik tadi dengan hati-hati, namun aku merasakan sebuah sengatan kecil pada saat menyentuhnya. Dan entah kenapa hatiku merasa, hampa?. Tak lama, seorang lelaki bertubuh tegap, yang usianya kuduga sekitar 80-90 tahun menghampiriku dengan senyum ramahnya. Akupun menjauh dari mesin tik tadi, masih dengan perasaan aneh yang menggelayuti hatiku.
“Ada yang bisa saya bantu?”. Ucapnya ramah. Dan, segera saja aku mengatakan maksudku mendatangi tokonya.
“Ah iya, jadi kek, sebenarnya saya datang ke sini karena saya tertarik pada mesin tik yang terpajang di depan tadi”. -Dan, jika bisa dengan senang hati aku ingin memilikinya. Imbuhku dalam hati.
“Oh, mesin tik kuno itu. Apa yang membuatmu tertarik pada mesin itu?”. Ia menanyaiku sembari berjalan menuju mesin tik itu, dan akupun mengikutinya.
“Entahlah, saya hanya merasa penasaran dengan benda itu. Dan apa benda itu tersambung dengan listrik?” Ucapku mengutarakan rasa penasaranku, namun kakek tadi malah tertawa geli sembari menatapku.
“Hahaha, oalah nduk. Mana ada toh mesin tik kuno yang menggunakan listrik. Apalagi mesin tik itu sudah ada sejak jaman penjajahan”.
Aku merasa sebal karena kakek tadi menertawaiku.”Tapi kek, tadi mesin itu seperti menyengat saat saya menyentuhnya. Dan entah kenapa Saya merasa hampa setelahnya”. Ucapku memelan pada kalimat akhir. Karena aku tidak mau kakek tadi lebih menertawakanku.
“Apa? Kamu serius?”. Raut geli pada wajah tua itu telah hilang sepenuhnya, dan berganti dengan wajah cemas, sedih, dan seperti merasa bersalah?
“ Saya bersungguh-sungguh kek” Aku berusaha meyakinkannya.
"Bagaimana bisa?" Tanya nya dengan heran, sembari menatapku.
"Saya juga tidak tau, tadi saat saya menyentuhnya tiba-tiba saya merasa tangan saya tersengat listrik. Maka dari itu Saya bertanya pada kakek, apa mesin tadi menggunakan tenaga listrik atau tidak"
“Oh Tuhan. Maafkan saya Meneer” Aku mendengarnya bergumam, dan entah untuk siapa ucapan maaf tadi terlontar.
“Memang kakek mendapatkan mesin Tik itu darimana?” Aku benar-benar penasaran dengan hal ini.
“Sebenarnya itu Mesin tik titipan” Ucapnya dengan pandangan kosong.
“Titipan? Bagaimana bisa orang itu menitipkan benda seperti itu di toko antik, tanpa maksud menjualnya?” aku tau pertanyaanku melampaui batas, tapi aku benar-benar ingin tau tentang ini.
“Kurasa ini waktunya, Ayo ikut kakek” Menghela nafas, kakek pun membawa mesin tik tadi, dengan aku yang berjalan di belakangnya.
Kami menuju sebuah ruangan yang terdapat sebuah sofa, dan meja di depannya. Kurasa ini ruangan kerja miliknya, karena ada beberapa foto lawas miliknya, dengan seorang laki-laki remaja berwajah londo. Tampan. Itu yang terlintas dalam benakku.
“Kenapa kakek membawa saya ke sini?” Aku bertanya setelah ia mempersilahkanku untuk duduk di sofa yang bersebrangan dengannya, dengan mesin tik yang ia letakkan pada meja yang menjadi penghalang kami.
“Kamu mau tau tentang mesin tik ini bukan?” dengan masih tersenyum ramah ia menatapku yang sedang merasa heran.
“E-eh iya” tak menampik pernyataannya, aku menjawabnya dengan sedikit gugup. Sialan kenapa aku tergagap seperti ini.
“Sebenarnya, ada seseorang yang menitipkan mesin tik ini. Orang itu menitipkan mesin tik ini agar kakek bisa memberikan nya pada seorang gadis di masa depan”. Kakek tadi berucap dengan tatapan menerawang, dengan mata yang sedikit berembun, sebenarnya seberapa istimewanya mesin tik ini? Dan apa? Gadis di masa depan? Apa maksudnya.
Banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan, namun aku terdiam sebelum aku mampu mengeluarkan suaraku, dan kakek tadi pun menatapku sembari berucap.
“Dari ciri-ciri, dan beberapa alasan, sepertinya ini waktunya kakek menyerahkan mesin tik ini pada pemilik sesungguhnya” Entah kenapa, tapi aku merasa sangat terharu dan menantikan hal ini.
“Kakek kembalikan mesin tik ini padamu. Tolong jaga mesin tik ini” dengan tersenyum, dan tanpa penjelasan, kakek tadi meninggalkanku yang masih merasa blank dengan ini semua.
Apa maksudnya? Apa aku gadis masa depan yang di maksud? Memang siapa orang yang menitipkan mesin tik ini untukku?, sialan ini semua membuatku pusing.
_________
Holaaaa, gue balik lagi dengan Mijn schat versi baru🤣
How?? More better ga?:v
Sorry ngaret dari jadwal yaaaa
Enjoy it
Cospeach
Xoxo
16/07/19
ESTÁS LEYENDO
Mijn Schat (Van Dedrick)
Ficción histórica(PROSES REVISI) Dia yang membenci tanah airku. Dia yang menghardik dengan serapah janjinya menyatakan bahwa ia akan meluluh lantakkan tanah yang kini kupijak. Dia yang mencintai Ratu Wilhelmina nya. Dia yang telah bersumpah untuk menjadikan tanahku...
