ONE

1.8K 61 26
                                        

One: Kemunculan Dillan

2112-2501

***

DILLAN         

           Aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Wanita cantik berhati emas yang begitu lembut mengetuk pintu kamarku. Aku bangun dan membuka pintu untuk dia (wanitaku), wajahnya basah dan terlihat segar juga merona. Sepertinya habis berwudhu. Tapi aku terpana.

"Hai Bu," Sapaku sambil menangkupkan tanganku di wajahnya-Shita Ananda. Subhanallah, ciptaanmu begitu indah Tuhan

"Dengar adzan tidak?" Katanya, aku senyum. Lalu mengambil sarung dan kopiah (peci).

"Iya dengar, Dillan tutup pintunya. Ibu sana, kembali. Sembahyang juga. Biar kompak." Kataku, ia membalas senyum. Aku juga.

            Tak lama pagi pun datang, saat ini aku sedang bermain gitar sebelum berangkat sekolah. Bersama ayah, aku mainkan beberapa lagu karya ayahku-Bambang Herwanto. Ia berbakat dalam musik, sebentar lagi aku ikutan. Tapi ia bukan musisi, tapi dokter gigi.

"Ayah gak berangkat?" Tanya ibu memberi roti padaku dan untuk ayah juga. Biar tidak saling iri. Nanti berebut, jadinya berantem. Kan tidak baik dilihat tetangga.

"Tunggu anakmu pakai sepatu." Jawab ayah mencium kening ibu. Ayah mah malu-maluin aku, masa pakai sepatu ditungguin. Tapi, kalau tidak ditunggu aku kesal. Ya sudahlah.

"Aku sudah pakai," Sambungku memperlihatkan kaki kananku. Sungguh tampan! Kaki kananku maksudku.

"Iya sebelah kanan saja, yang sebelahnya?" Balas ibu bertanya sambil berkacak pinggang. Pasti wajahnya cemberut, aku yakin ia akan tambah tua kalau begitu terus. Tapi tetap cantik, salah satu favoritku setelah Madonna.

"Ok, sekarang sudah pakai. Ayo berangkat!" Kataku memakai sepatu, kemudian menaruh gitar dan menenteng tas. Tasnya tidak berat, yang berat itu bikin PR dan jatuh cinta.

           Ayah berangkat dengan mobilnya sendiri dan aku pergi dengan motor tua ayah. Ibu masuk sambil mengumbar senyum padaku dan ayah juga sebelum berangkat. Biasalah, ayah mah suka iri kalau ibu lebih sayang padaku. 'Kan aku tampan.

             Damar Herwanto-adikku berangkat dengan ayah, dengan rasa bangganya yang melambung. Merasa ia beruntung dapat naik mobil ayah ke sekolah. Biarkanlah, namanya juga bocah. Aku tahu itu, tapi aku dulu tak begitu. Karena dulu ayah pakai motor, bukan mobil. Aku mah bersyukur.

***

RANAYA

"Ma, Aya berangkat!" Aku Ranaya Amanda, lahir dari seorang ayah dan ibu. Aku sebut mereka 'Mama dan Papa'. Aku punya kakak perempuan yang sudah kuliah, Naila Amanda namanya, jurusan kedokteran.

"Hati-hati sayang!" Ucap Mama yang kemudian mencium keningku. Aku balas mencium punggung tangannya.

            Aku berangkat naik taksi, iya taksi kalau dalam bahasa inggris taxi. Bukan angkot yang sering dibilang taksi sama orang-orang, orang yang tidak aku kenal maksudku.

             Taksi yang aku tunggu di depan komplek berhenti ketika aku melambaikan tangan. Aku masuk, lalu duduk di kursi penumpang.

"Mau sekolah ya mba?" Tanya supir taksi, aku senyum lalu mengangguk.

"Sekolahnya jalan apa mba?" Supir taksinya nanya lagi. Aku berpikir sebentar.

"SMA 81 Pak," Kataku dengan senyum.

DILLAN: Aku adalah mahluk VenusStories to obsess over. Discover now