Seorang namja kecil sedang terdiam di ayunan nya. Memandangi kaki nya yang ia gerakkan maju mundur. Lalu memandang sekitar. Melihat sekelompok anak sedang bermain dengan teman-teman nya. Ten, namja kecil itu sangat sedih dengan diri nya sendiri. Ia tidak memiliki teman. Ada satu alasan juga kenapa anak-anak disitu tidak ingin bermain bersama Ten. Ten hanya terdiam, menunduk saat anak-anak disitu menatap nya dengan sinis. Tak lama, satu orang anak perempuan menghampiri Ten dengan teman-teman nya dibelakang. Kedua tangan nya yang ia lipat didada nya. Wajah sinis nya pada Ten yang tidak bisa hilang. Ten menundukan kepala nya karena tak berani membalas tatapan anak perempuan didepan nya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Pertanyaan biasa. Memang, tapi Ten sangat takut sekarang. Apa yang Ten lakukan? Ia hanya terdiam di ayunan tanpa melakukan apa-apa. Tapi anak didepan nya ini malah terkesan mengusir Ten. Taman ini tempat umum dan Ten boleh berada disini 'kan? . Ten terdiam. Tubuh nya kaku seketika. Lidah nya kelu untuk menjawab pertanyaan perempuan ini.
"Aku berbicara padamu, bodoh!"
Bentak anak itu pada Ten. Ten mendongakkan kepala nya dan..
"Ada apa?! Kenapa menatap ku seperti itu?!"
Lagi-lagi bentakan. Ten berdiri dari ayunan nya. Berniat untuk meninggal kan taman itu. Sampai akhirnya tangan Ten ditarik lalu tubuh nya didorong oleh anak perempuan itu.
BRUUKK
Ten terjatuh. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tubuh nya bergetar karena menahan tangis nya. Tidak, tidak. Ten tidak boleh menangis disini. Ia tidak ingin tampak lebih menyedihkan lagi didepan mereka. Ya, Ten harus kuat.
"Pergilah!! Dan jangan datang lagi!! Dasar penyakitan!!"
.
.
.
.
Ten melangkahkan kaki nya kedalam kamar nya. Mengambil kotak obat, lalu mengobati luka di kaki nya akibat dorongan anak itu. Meneteskan obat merah lalu menempel nya plester. Ten mengurusi luka nya sendiri. Sekarang masih sore, dan bibi nya belum pulang bekerja. Biasa nya, bibi nya akan pulang sekitar jam delapan malam. Ten merebahkan tubuh nya ditempat tidur nya. Ia memikirkan kejadian tadi. Bukan, bukan saat anak itu mendorong Ten. Tapi saat anak laki-laki yang datang, lalu membela Ten.
"Pergilah!! Dan jangan datang lagi!! Dasar penyakitan!!"
Sakit. Itulah yang Ten rasakan saat ini. Dan Ten tidak kuat lagi untuk menahan tangis nya. Air mata nya turun begitu saja. Isakkan kecil yang keluar dari mulut nya. Membuat sekelompok anak yang membully Ten merasa puas.
"Hey, kalian!!"
Terdengar teriakan dari sebelah kanan. Ten mengalihkan pandangan nya pada seorang namha kecil dengan syal merah yang ia gunakan.
"Apa yang kalian lakukan pada anak itu?!"
Marah namja kecil itu, membuat Ten takjub dengan keberanian nya. Ten berpikir, apa kah anak ini akan berpihak padanya? Atau malah ikut membully nya? Pandangan Ten masih pada namja itu. Namja kecil itu menghampiri Ten dan yang lain.
"Tidak udah ikut campur! Ini masalah kita!"
"Aku akan ikut campur. Kenapa kalian membully nya?!"
YOU ARE READING
Letter For You |°JohnTen
Fanfiction[JOHNTEN] [FF] [YAOI] [ONESHOOT] [BxB] Ditinggal 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ten, namja Thailand itu mencoba agar komunikasi dia dengan Johnny tidak putus. Setiap hari, Ten mengirimkan surat untuk Johnny. Johnny tidak membalasnya karena si...
