Malam yang hening nan sunyi terasa semakin dingin, setelah butiran-butiran salju turun dan memenuhi jalanan. Angin bertiup mengiringi udara yang hampa di tengah salju. Sekitar 50 meter dari keramaian kota, terdapat rumah megah yang cukup mengagumkan.
Tetapi, suasana mencekam memenuhi rumah itu. Hingga membuat satu orangpun tidak akan berani untuk mendekatinya.
Ruangan yang begitu luas dengan warna biru muda, mampu membuat mata yang melihatnya seperti berada di lautan lepas.
Tetapi warna biru yang cukup mengagumkan itu ternodai dengan warna merah darah.
Anak laki laki berusia 6 tahun itu penyebabnya. Ia menggunakan senapan silver yang terukir angka XII ditangan kanannya. Tak jauh dari tempat ia berdiri, sebuah tubuh wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tergeletak tak berdaya. Badannya dipenuhi darah dibagian perutnya. Nafasnya mulai melemah, tetapi ia berusaha untuk bertahan.
"Where is your daughter?" Ucapnya dingin dengan tatapan yang membunuh.
"Aku.. tidak akan..." "BANG!!" Belum sempat wanita itu menyelesaikan kata katanya sebuah peluru sudah menembus dadanya.
"Speak in english, you stupid bitch." Ucapnya setelah melayangkan sebuah peluru ke arah wanita itu.
Tak jauh dari tempat itu, seorang pria dengan luka tembakan di bagian punggung menatap anak itu dengan tatapan dan perasaan yang bercampur aduk. Merasa dirinya sedang diperhatikan, anak itu melangkah mendekati pria tersebut.
Dengan tatapan yang sama ia kembali bertanya "Die or answer my question?!"
"Shoot the right in my head, boy. And what's your real name, Twelve?" Tanyanya di ujung kematian yang dekat dengannya.
Anak itu hanya menatap pria yang sedang tersenyum menunggu jawaban darinya.
"Eiji, Frederick Eiji. Now answer my question." Tanyanya
"What a beautiful name. Unfortunately if you have to kill a person." Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan anak kecil itu.
"Again, where your daughter and the twin son!!" Ucapnya penuh tekanan
"Too bad. I wish you can protect my daughter one day. Hahaha." Candanya.
"BANG!!" Sebuah tembakan meluncur ke kepala pria tersebut.
"Are you an idiot? I'm your enemy, you know." Ucapnya dengan tatapan yang sedikit melunak.
Anak itu berdiri dan berjalan ke arah dimana keluarga tersebut menaruh tabung gas. Dia menendang selang yang menjalar disekitar tabung.
Tangannya meraih botol besar yang berisikan minyak tanah. Dia meratakan minyak tanah hingga ke depan rumah megah tersebut.
Ia lempar botol itu tepat didepannya, seketika saja.
"BANG!!" Pistol yang ia pegang melayangkan peluru ke arah botol itu.
Percikan api mulai muncul hingga menghasilkan kobaran api yang besar.
Ia menatap rumah itu yang perlahan ditelan oleh si jago merah.
Pikirannya mulai kacau hanya karena perkataan pria tersebut.
Tak sanggup lagi anak itu menahan perih, dibalikkannya badannya dan meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.
Sebelum para polisi mendatangi rumah itu dan menemukannya.
"Good bye and .... thank you." Ucapnya ditengah hujan salju yang leleh karena api yang ia buat.
Senyuman terpampang diwajahnya. Kejadian tersebut telah merubah hatinya yang telah membeku, menjadi lebih lunak.
Tetapi tidak untuk anak perempuan yang sedang berlari menyusuri jalan bersalju itu. Dia mendekap erat tas berwarna hitam dengan tulisan Katou Family tersebut. Linangan air bercucuran dari bola mata cantik yang sudah memerah.
Dia sudah tidak bisa berfikir jernih. Hatinya telah hancur hingga tak berbentuk. Hari ini ia menyaksikan kematian ayah dan ibunya. Dan dua saudara kembarnya pun menghilang.
Dia tidak bisa berbuat apa apa dengan tubuh kecilnya. Yang bisa ia lakukan hanya menjaga tas yang berisikan laptop dan data lainnya. Sekaligus pesan sebelum orang tuanya ditembak oleh anak laki laki yang seumuran dengannya.
'Dengar apapun yang anak itu lakukan jangan pernah membalasnya. Kau harus membalas orang yang telah membuatnya seperti itu. Jika suatu saat kau bertemu dengannya cari tahu latar belakangnya dan temukan orang yang membuatnya seperti mesin pembunuh. Ayah yakin kau bisa, karena kau memiliki otak yang sangat cerdas. Dan satu lagi, jika kau bertemu dengan orang itu jangan pernah membunuhnya. Buat dia merasakan penderitaan yang lebih menyakitkan daripada kematian. Buat dia memohon kepadamu untuk kematiannya. Camkan kata kata ayah dengan baik.'
Diusapnya air mata yang sedari tadi meluncur dipipi cabinya. Ekspresinya berubah lebih dingin begitupun dengan hatinya juga mulai dingin, lebih dingin dari salju yang membeku.
Di musim itu, telah terlahir kepribadian yang saling bertukar.
Tujuan yang nantinya saling bertentangan.
Dan awal dari pertemuan mereka yang saling menyimpan rahasia besar nantinya.
Detik itu, tepat di malam natal perjalanan mereka dimulai.
YOU ARE READING
Bleeding Hacker
ActionAkan tiba saatnya 'HACKER' terbaik kembali. Untuk mengambil semua yang telah direnggut darinya. Dan meneruskan mimpi keluarganya sebagai TAMENG NEGARA
