Hal biasa ketika melihat Fendra sang ketua osis yang super duper fenomenal itu dikelilingi para cewek. Apalagi hari ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa. Hari yang selalu Fendra tunggu. Menunggu sesuatu yang selalu berkaitan tentang Livia.
Sudah tidak heran lagi jika lapangan utama itu sesak dipenuhi para penggemar Fendra. Sesi foto-foto setelah pelepasan balon. Pertanda bahwa mereka semua resmi menjadi bagian dari SMA Negeri itu. SMA tempat Gue bersekolah selama dua tahun ini.
“Kak.. kak foto sekali lagi ya“
“Kak bomerangan bentar yah please“
“Kak foto bareng kita dong” Ceceran kata-kata yang tak henti diulang lagi dan lagi oleh para siswi yang baru resmi menjadi anak SMA itu.
Dipojok pintu kelas yang tak jauh dari lapangan utama, Livia menyenderkan tubuhnya di ambang pintu. Sambil tertawa geli melihat Fendra yang masih bersedia berdiri di lapangan hanya demi para penggemarnya.
“Liv temenin gue makan yuk di kantin“ Tangan Livia setengah tertarik oleh seseorang yang baru saja menghampirinya. Mayanno Ferdian Ananta, makhluk yang selalu nempel dengan Livia dimanapun itu.
“Gue udah makan Nano“ Kali ini Livia berusaha menolak ajakan Nano. Sebetulnya Livia masih betah disini. Melihat sebuah objek yang tiba-tiba membuatnya tahan berlama-lama.
“Temenin gue bentar ayolah gue nggak nafsu makan nih kalo nggak ada lo. Emang lo mau temen lo yang paling ganteng ini mendadak mati karena kelaperan ?“
“Elah lebay lo. Ke dalam gih ajakin Billy kek Dimas kek siapa kek kan bisa sih“ Potong Livia ketus.
“Gue maunya lo!“ Tangan Nano langsung meraih lengan Livia dengan cepat. Tanpa mengeluarkan jurus penolakan lagi Livia langsung mengikuti langkah kaki Nano yang masih menggenggam erat tangannya.
Hal yang paling bikin malas saat ini adalah harus melewati Fendra yang masih berada di tengah lapangan. Sesuatu yang paling tidak menyenangkan ketika melihat Fendra dengan bangganya melirik Gue. Seakan-akan dia adalah orang yang paling populer di sekolah ini.
“Hai kak Livia”
“Hai kakak cantik”
“Kak foto bareng kita bentar yuk”
“Kak”
Dia udah punya pacar bego__
Riuhnya suara yang seketika membuat Livia menoleh. Livia hanya menebar senyum ke deretan siswa yang baru saja menyapanya. Selebihnya Livia hanya membuang muka ke arah Fendra yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Sebenarnya sesi foto bersama panitia MOS ini masih termasuk ke dalam agenda terakhir sebelum benar-benar berakhirnya Masa Orientasi Siswa. Tapi Livia memilih cabut ke kelas dengan berbagai alasan. Walaupun alasan yang sebenarnya adalah Dia sedang tidak mood foto-foto. Dan sebetulnya pun penggemar Livia tak kalah banyak dari penggemar Fendra.
“Hmmm” Nano akhirnya membuka mulut setelah tak bersuara sejak tadi. berdehem karena melihat adegan barusan. Adegan yang membuat gue sendiri pun menggidik di sepenjang lapangan dan sepanjang koridor yang gue lewati bersama Nano menuju kantin.
“Apa?” Gue setengah tertawa melihat ekspresi Nano.
“Untung lo jalan sama gue Liv. Coba kalau enggak?” Dengan ekspresi sok cool yang sangat antusias.
“Kalau enggak ada lo gue udah pinsan disana kali” Jawab gue seadanya sambil tersenyum melihat Nano yang sedang sibuk memilih menu makanan.
“Lo mau makan nggak? Makan apa?” Livia hanya memutar bola mata sambil berfikir ingin makan apa.
“Gue soto sapi sama jus jeruk lo apa? Sekalian gue pesenin”
“Gue kentang goreng sama jus jeruk aja deh”
Nano langsung berdiri dari tempat duduknya. Memesan makanan.
Satu pesan baru.. Fendra
Ke ruang ketua osis sekarang penting!
Pesan whatsApp yang seketika membuat Livia terkejut dan berfikir sejenak. Berfikir tanpa menemukan jawaban dan akhirnya Livia langsung beranjak begitu saja dari meja kantin.
“Liv lo mau kemana?” Teriak Nano dibalik punggung Livia yang makin menjauh.
“Ada urusan bentar. Mendesak daaaa” Livia hanya berteriak sambil berlari kecil menjauhi Nano yang masih berdiri membawa beberapa porsi makanan.
Kaki Livia melangkah dengan cepat menuju ruangan osis yang jaraknya lumayan jauh dari kantin. Memasuki ruangan osis, Fendra sudah menghadang Livia yang masih melangkah melewati ambang pintu.
“Darimana aja ?“ Sorot tajam mata Fendra menyoroti tatapan Livia.
“Bukan urusan lo. By the way ada apa lo nyuruh gue ke sini?“ Tanya Livia sambil mengalihkan petanyaan Fendra yang dianggapnya sama sekali tidak penting.
“Oh itu ... Nih lo urus berita acara buat serah terima jabatan!“ Fendra memberikan tumpukan berkas yang sedari tadi berada di genggamannya.
“Kok lo nyuruh gue seenak jidat lo sih?“ Protes Livia dengan perintah Fendra yang sudah mulai kelewat batas keterlaluannya.
“Kan lo sekretaris gue“ Dengan senyum manisnya Fendra menjawab enteng.
“Tapi ini banyak banget Ndra. Lo mau matiin gue?“
“Nanti gue ke rumah lo. Gue bantuin.“ Tanpa mendengar jawaban apapun dari Livia, Fendra langsung pergi begitu saja.
Livia mulai kesal dengan tingkah Fendra barusan. Hal seperti inilah yang selalu terjadi diantara Livia dan Fendra selama dua tahun ini. Fendra yang selalu bertingkah seenaknya dan Livia si manis yang selalu membantah permintaannya.
Tak ada hal apapun yang menyenangkan. Selebihnya hanya perdebatan-perdebatan tak penting yang selalu terjadi ketika mereka berdua bersama. Fendra selalu senang dengan hal ini tapi tidak dengan Livia.
“Berantem mulu kerjaannya. Nggak capek liv berantem terus sama dia?“ Suara dari dalam ruangan osis yang seketika membuat Livia menoleh. Vinda. Manusia paling rese yang selalu nyelip di moment nggak penting antara Fendra dan Livia.
“Ih sumpah ya vin gue benci banget sama cowok satu itu. Kalau bukan karena dia ketua osis, udah gua patahin itu leher dia.“ Cetus Livia sambil menahan kesal.
“Iya iya gue ngerti kok.“ Sahut Vinda sesaat setelah melihat seseorang dari arah belakang yang melambaikan tangan ke arah Livia.
“Gue udah muter-muter nyariin lo dan tenyata lo disini.“ Teriak Nano sambil terengah-engah mengatur napas di depan Livia.
“Nano ganteng gue kan daritadi udah bilang gue mau ke ruang osis. Lo nggak denger atau hilang ingatan?“
“Oh iyayaa yaudah yuk balik.“ sahut Nano santai dengan tampang tanpa dosa.
Diantara koridor yang sepi itu tak banyak terlihat siswa yang berlalu lalang. Sekolah sudah mulai terlihat sepi lantaran jam pembelajaran di sekolah belum seefektif seperti biasanya.
Dengan cepat kaki Nano melangkahkan kakinya ke arah mobil di ujung parkiran sekolah bersama Livia. Kedekatan mereka berdua memang sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Karena mereka sudah saling mengenal sejak kecil.
“Ihhh Nan suara lo kecilin dikit napa?“ Livia mengagetkan Nano yang tengah bernyanyi dengan suara sumbangnya.
“Hah??“ Nano hanya cengar-cengir saja menatap Livia sambil menaik turunkan alisnya.
“Diem ah berisik!“ Kata Livia sambil memasang muka cemberut yang malah semakin membuat Nano mengeraskan suaranya.
“Nan lo ganteng kalo lo nggak nyanyi deh sumpah.“ Livia menarik napas meyakinkan Nano dengan satu pujian ampuhnya yang bisa membuat Nano menghentikan suaranya.
Seperti biasanya, suara Nano sebenarnya sama sekali tidak mengganggu. Hanya saja hari ini Livia merasa isi pikirannya penuh dengan sesuatu. FENDRA?
**
Gue udah di depan rumah lo. Cepetan keluar
Hah? teriak Livia spontan yang membuatnya langsung berlari untuk mengintip di balik jendela depan rumahnya.
Woy lo lama amat sih. Gue pulang nih
Livia masih menggenggam erat ponselnya. Dia dengan cepat membuka pesan masuk di ponselnya yang baru saja bergetar. Lalu dia melihat Fendra yang masih dengan sabar menunggu Livia keluar.
“Perasaan gue nggak pernah ngasih alamat rumah gue ke lo deh. Lo tau rumah gue dari mana?” Ceceran pertayaan Livia yang langsung dicetuskan saat menghampiri Fendra.
“Vinda” Jawab Fendra singkat dengan senyum tipisnya. Mata Livia langsung menajam seketika ke arah Fendra. Dia tak habis pikir jika makhluk termenyebalkan satu ini akan senekad ini.
Fendra hanya memandangi Livia yang sedang memasang wajah kesal dengan senyuman. Moment yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh Livia sebelumnya.
“Eh ada tamu” Sapa Mira sang mama Livia yang tiba-tiba keluar dan memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
“Hallo tante, saya Fendra teman satu sekolah Livia” sapa Fendra sopan sambil bersalaman dengan mama Livia
“Temannya kok nggak disuruh masuk ke dalam?” Tanya Mira sambil menyenggol lengan anaknya yang hanya bengong tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
“Nggak usah tante. Saya cuma mau minta izin ngajak Livia keluar bentar boleh tan?” Tanya Fendra kepada mama Livia meminta izin membawa Livia keluar.
“Hah? gue ngggg__”
“Boleh kan tan?” Suara Livia terpotong suara Fendra yang dengan sengaja agar mendapatkan izin keluar dari sang mama.
“Boleh asalkan jangan pulang kemalaman” Balas mama Livia dengan cepat mengizinkan.
Fendra menyenggol lengan Livia dengan maksud mengkode agar Livia segera masuk ke dalam mobil Fendra. Livia hanya menatap Fendra kesal dan mereka berdua langsung berpamitan meninggalkan mama Livia.
**
“Gue tadi kan nggak bilang iya kalo gue mau keluar sama lo.” Bentak Livia ke Fendra tiba-tiba saat mereka mulai keluar dari halaman rumah Livia.
“Tapi kan gue udah minta izin sama nyokap lo.” Jelas Fendra dengan senyum tipisnya tanpa menghiraukan ocehan Livia.
“Kita mau kemana sih?” tanya Livia sambil melirik tajam ke arah Fendra yang masih tetap fokus mengemudi dan lagi lagi Fendra hanya mengacuhkannya.
“Ndraa..”
“Kita mau kemana sih? Jawab atau turunin gue disini” sontak Livia spontan dan seketika membuat Fendra membungkam mulut Livia.
“Santai aja nggak usah bawel, lo nggak bakal gue apa-apain kok.” Livia pun hanya terdiam dan menurut begitu saja dengan perkataan yang barusan keluar dari mulut Fendra. Fendra menatap Livia yang masih terdiam kaku disebelahnya. Spontan tangan Fendra menggenggam tangan Livia yang membeku karenanya.
Merasa salah tingkah dengan situasi yang tak biasanya seperti ini, Livia langsung menepis begitu saja genggaman itu. “Liv..” panggil Fendra pelan.
“Kenapa?” Jawab Livia cepat sambil menyejajarkan kepalanya perlahan, bertatapan dengan Fendra yang masih dengan teduh menyorotinya. Livia beku dengan sejuta bisu.
“Nah ini udah sampai” Fendra menghentikan mobilnya di area parkir yang tak jauh dari tempat yang ingin dikunjunginya setelah kurang lebih dua puluh menit perjalanan. Entah darimana dia bisa menemukan tempat ini yang jelas ada sedikit rasa senang yang membesit di hati Livia.
“Wowww” Livia langsung turun begitu saja dari mobil Fenndra. Perlahan dia melangkahkan kakinya ke tempat yang baru saja mengalihkan perhatiannya. So beautifull mungkin kata-kata itu yang harus gue lontarkan ke Fendra saat ini.
