Bagian 1

28 0 0
                                        


Disini, di waktu ini, di masa ini aku mulai menemukan titik jenuh yang selama ini belum kutemui sebelumnya. Aneh, dan sangat aneh menurutku, banyak orang mengatakan waktu berjalan dengan cepat, tapi disini, lagi-lagi disini , aku menjumpai waktu berasa sangat lambat, ibarat siput berlari. Yah walaupun seperti itu, apa dayaku, aku cuma bisa bisa pasrah. Rasa itu yang selalu kujumpai setiap waktu, setiap menit, dan setiap detik sekaligus. Masih bergelut dengan waktu, ya waktu yang membuatku terpuruk dalam kegelapan yang membuatku menyerah tanpa alasan

Walaupun begini aku harus bisa melawan, melawan dari semua angan-angan yang bisa membuatku terkulai lemah tak berdaaya. Takdir, ya takdir, takdirlah yang membawaku disini dan membuatku seperti ini. Percaya atau tidak takdir itu tidak bisa diubah, tapi masih ada harapan pada nasib, nasib itu bisa kita rubah dengan berusaha menggapai semua yang kita inginkan.

Kita harus berusaha dari kesalahan, kenapa? Karena kita bisa memperbaiki diri di masa lalu untuk menjadi yang lebih baik di masa depan. Andai aku jadi nobita yang punya teman doraemon, doraemon selalu menghibur nobita agar selalu tersenyum, dan jika aku lagi membutuhkan mesin waktunya doraemon akan ku putar waktu dan ku ubah nasibku, itu pun kalau bisa.

Alhamdulillah aku masih punya Allah satu-satunya tuhan di semesta ini, aku masih punya DIA, karena-Nya aku masih bisa bertahan dengan semua ini. Tanpa Allah pun aku gk bisa jadi kayak saat ini, seorang Adelia yang bisa bertahan karena Allah.

Hingga aku memutuskan untuk berjuang melawan rasa keputus asaanku, melawan rasa malas, berusaha berubah menjadi yang terbaik, dan merubah nasib.

Kisahku mulai dari hari itu, hari dimana aku melihat semua orang memasang mata berkaca-kaca, dalam benakku aku berpikir 'apa yang sedang terjadi di rumahku?'.

"Budhe mama mana?". Tanyaku.

"Dedek, dedek harus jadi anak yang kuat anak yang tangguh, harus banggain papah disana ya, dedek jangan mudah menyerah, dedek harus menjalani hidup dedek dengan ceria, gk boleh sedih, kalo dedek lagi down curhat ke Allah ungkapin semua yang dedek rasa ke Allah, sekarang dedek kesana gih, temuin papah, cium papah, janji ke papah buat jadi anak sholiha". Jawab Budhe Dian.

Saat itu perasaanku tiba-tiba jadi gak enak, reflek aku lari ke dalam rumah dengan keadaan pasrah, tak berdaya, tetes demi tetesan air mataku menghiasi pipiku. Di dalam keadaan mamah sangat terpuruk sangat stress.

"Mbah ini dedek mimpi kok ya? Ya kan? Ya kali papah ninggalin dedek tiba-tiba, kalo ini beneran papah jahat banget yam bah setega itu ningalin mamah, dedek, sama mas Ardi.".. Ujarku kuat, tapi apa dayaku tetesan air mata menngalir bagaikan aliran sungai bengawan solo.

Tak lama kemudian man Ardi dari Aceh tiba dirumah membawa anak dan istrinya, ketika itu lamgsung ku peluk Mas Ardi hingga tangisku memecahkan suasana yang tiba-tiba hening ketika keluarga kecil Mas Ardi datang, tak lama kemudian Mbak Nia menarikku agar memberi kesempatan Mas Ardi menemui papah.

"Mbak kok jadi kayak gini sih mbak? Kenapa mbak? Liat itu mamah stress, aku harus gimana mbak? Kalo aku kalian tinggal nasibku gimana mbak? Aku harus gimana mbak Nia, aku gak kuat kehilangan seorang yang amat pentig dalam hidupku, seorang yang memotivasiku menjadi pribadi yang baik, seorang yang selalu ada jika anak-anakya membutuhkannya, seorang yang tegar, kenapa aku harus kehilangan orang seperti itu mbak, kenapa? Kenapa juga Allah cepet banget ngambil papah". Ujarku frustasi.

Di lain tempat kondisi Mas Ardi masih syok melihat papah terkulai lemah, masih belum percaya apa yang udah menimpa kelurga kita. Hingga proses memakaman tiba, kami sekeluarga masih belum percaya atas kejadian ini, hingga teman-teman kerja papah dan atasan papah karena kehilangan papah, ya papahku seorang TNI, seorang mayor yang sedang dinas, dan ya papahku banyak di benci oleh orang-orang penghancur Negara, dan itulah yang membuat papahku menjadi seperti ini.

Nothing Is Impossible, You Can Do ItWhere stories live. Discover now