Jika kalian saat kecil bermain di perosotan, aku bermain di laboratorium.
Jika kalian saat kecil bermain di ayunan, aku bermain di ruang bedah.
Jika kalian saat kecil berputar-putar dengan mainan, aku juga berputar-putar dengan alat yang dipasang kepadaku.
Hidup di dunia,
tidak paham apa-apa.
Satu persatu setiap orang meninggal karenanya.
ㅇㅇㅇㅇ
Ibuku kaya, Ayahku kaya. Mereka kaya karena menjualku.
Dahulu ibu tidak mempunyai perhiasan, tapi aku berharap sekarang ia bisa bersinar terang.
Dahulu ayahku hanya seorang pengangguran, tapi aku berharap sekarang ia bisa membayar orang.
Dahulu kakakku berjalan untuk pulang, tapi aku berharap sekarang ia bisa berkendara agar tidak kelelahan.
Aku tahu, keputusan berat menjualku. Namun akulah yang diminta, akulah yang diinginkan. Dan, akulah yang bisa membuat semua orang tersenyum bahagia, kan, Bu?
ㅇㅇㅇㅇ
"Ibu, aku tidak ingin disini. Pulang, aku ingin pulang." Rengekku pada Ibu. Namun, ibu adalah ibu yang sudah bertekat. Ia kuat, ia tegar. Dan aku bangga mempunyainya.
Bukan salahnya jika menjualku lalu membahagiakan kakak-kakakku.
Namun, salahkan lah takdir. Mengapa memberiku garis seperti ini.
Ibu jongkok-menghadapku.
"Kamu sayang ibu kan?"
Aku mengangguk bak anak kecil lainnya.
"Kamu sekarang tidak butuh ibu," Kata ibu, dia tersenyum hangat, "sekarang ibu yang butuh kamu."
Mataku membulat, "Tidak. Aku butuh Ibu untuk menyuapiku makan dan menggantikanku pakaian!"
Ibu mengusap kepalaku lembut, "disini lebih baik untukmu, sayang."
Lalu Ibu mencium pucuk kepalaku lama.
Bu, dahulu aku tidak paham apa-apa.
Aku hanya bisa merengek meminta.
Bu, dahulu aku tidak paham apa-apa.
Aku pikir Ibu jahat karena semuanya.
Tapi sekarang aku tahu.
Setidaknya aku paham,
bahwa hidup adalah permainan.
Permainan yang mengharuskan
untuk terus bertahan.
ㅇㅇㅇㅇ
Kalian tahu? Bagian apa yang menyedihkan?
Bagian dimana aku sadar, bahwa; aku sudah melupakan satu persatu wajah mereka-termasuk ibu- aku sudah melupakan kenangan apa yang pernah aku rajut dahulu. Sebelum datang kesini.
Setiap kata ku tulis,
Hatiku menangis
ini seperti teriris,
Bu, aku rindu dirimu yang manis.
Dirimu yang harmonis.
Dengan ayah yang berkumis tipis.
Tidak bisakah kembali?
Tidak apa aku tetap disini,
aku hanya ingin mengingatmu
tanpa melupakanmu
aku hanya ingin mengingatmu
dengan segala ingatanku,
ingatanku tentang kamu, Bu.
Dirimu yang tersenyum padaku
mengatakan baik-baik saja padaku
Ibu, yang mengikat rambutku.
Meski hanya ingatan.
Dan tidak berulang.
Aku ingin mengenang.
Jadi kumohon, jangan dibuang.
jangan menghilang.
YOU ARE READING
Identity
Random❈ Prolog ❈ Pernah tidak kamu merasakan sakit yang teramat? Lalu, pernah tidak kamu membayangkan apa alasan sakit itu terjadi? Tuhan itu adil, jika Beliau tidak adil, aku akan berpikir Beliau adil, ...
