Taman belakang Kampus,beberapa tahun silam.
Walapun peristiwa itu sudah lama berlalu.Namun, semua kenangan-kenangan itu tidak pernah mudah untuk aku lupakan.
Aku masih ingat.Kala itu, dengan muka ditekuk aku ngomel-ngomel panjang lebar dihadapanmu.
Segala macam sumpah serapah aku lontarkan.Berharap kamu akan melakukan hal yang sama. Namun, ternyata aku salah terka. Bukanya menandingi segala macam sumpah serapah dan cacian yang telah aku ucapkan, kamu justru hanya tertawa lebar. Memperlihatkan gigimu yang rapi dan putih bersih,sambil mengaruk belakang kepalamu yang aku yakini tidak gatal.
"Sialan emang mereka!" Umpatku kala itu,sambil melemparkan HP setengah membanting. Tepat ke atas meja batu tidak jauh dari tempatmu duduk.
Dilihatnya sekilas HPku, dan dengan enteng dia berkata "Buat lagi aja yang baru!".
Yupz, saat itu aku tengah mengadukan tulisanku yang kena report entah untuk yang keberapa kalinya. Oh bukan!. Bukan kena report,lebih tepatnya aku baru saja kehilangan akun.
"By the way selamat ya. Lo terkenal sekarang!.Ngak mungkin mereka susah payah menghapus akun kamu kalau kamu ngak mengancam eksistensi mereka." tambahnya kemudian.
Aku memutar bola mata jengah.Dari sekian ribu kata-kata motivasi yang bisa dia berikan,aku tidak menyangka justru kata itu yang dia pilih untuk diucapkan.
"Dan yang paling bikin gue kesel itu alasan mereka nutup akun gue. Hate speech! Menyuarakan kebenaran mereka bilang hate speech. Mau jadi apa Republik ini kalau semua manusianya jadi penjilat macam mereka." Ucapku berapi-api. Mengacuhkan kalimat sarkasme yang dia ucapkan.Dan sekali lagi dia hanya tertawa, sambil memainkan gantungan kunci mobil ditanganya. Entah mengapa tawanya kali ini terdengar mengejek ditelingaku.
Dan kemudian hening.Kami terbuai oleh pikiran masing-masing.
"Lo pernah ngak sih berfikir kenapa kita harus susah payah jadi orang baik?!"Aku mendongak,tidak biasanya rey membelokan pembicaraan.
"Karena Agama menyuruh kita begitu." jawabku reflek.
"Kalau hanya sekedar menjadi baik, gue rasa kita tidak perlu punya Agama,karena Atheis pun juga baik.Bahkan terkadang mereka jauh lebih baik dari pada orang yang beragama."
Skak mat...!!!
"Lo ada masalah?" tanyaku khawatir melupakan kejengkelan hatiku karena kehilangan akun. Tidak biasa-biasanya dia bicara seserius itu. Bahkan saat beberapa minggu yang lalu namanya di blacklist dan dia tidak bisa menulis kecuali mengunakan identitas orang lain. Dia masih bisa tertawa-tawa dan mentraktirku makan mie ayam depan Kampus.
"Agama lo apa sih Ran?" Tanyanya mengabaikan pertanyaanku barusan.
"Islam, kenapa sih?" kunaikan sebelah alisku, Rei masih diam termenung sambil menatap awan biru yang terus bergerak. Hari itu cuaca cerah tidak seperti beberapa hari sebelumnya yang terus mendung tanpa adanya hujan.
"Kalau gue tanya kenapa lo pilih Agama Islam lo jawab apa?" tembaknya. Angin sepoi-sepoi menerbangkan sebagian rambutnya.
Aku tercengang sesaat, jika yang ada didepanku ini orang Atheis, aku tidak terkejut mendapatkan pertanyaan semacam itu.Tapi, orang yang ada didepanku ini sama denganku Beragama Islam.Baru kali ini ada orang Islam yang berani mempertanyakan Agamanya seterus terang ini.
Suasana semakin hening. Perlahan kuputar otak pas-pasanku menimbang kata-kata apa yang cocok aku sampaikan pada Rayhan. Namun, otakku sepertinya buntu. Alih-alih menjawab dengan kata-kata penuh hikmah ala-ala Ustad di layar kaca aku malah menjawab seadanya. sebuah jawaban paling jujurnya dari dalam lubuk hatiku.
