0.0

206 40 23
                                        

R E L I N Q U O

~-~
"No one real"
~-~

10 Tahun lalu.

"Kak, tunggu!" serunya dengan suara serak.

Ia tidak sanggup lagi berjalan.

Orang yang dipanggilnya hanya terdiam tidak menggubris.

"Kakak!" serunya lagi. Berharap kedua kakaknya tersebut menoleh ke arahnya.

Tidak ada balasan lagi.

Ia lalu terjatuh di atas lapisan salju yang menumpuk.

Dingin.

Walaupun sudah memakai pakaian hangat, tetap saja ia merasakan dingin.

Ditatapnya salju salju kecil yang berjatuhan di sekitarnya.

Sangat indah.

"Kenapa mereka tidak mendengar?" matanya sudah tidak lagi menangkap keberadaan kedua kakaknya.

Mereka sudah meninggalkannya sendirian.

-Relinquo-

"Bagaimana?" tanya Kyo pada adiknya yang sedang menerawang keadaan kota dari dekat dengan mata Thermalnya.

Sosok yang ditanya hanya menggeleng. Mengisyaratkan jawavan negatif dari pertanyaan yang dilontarkan.

"Ayo cari di tempat lain," kata Kyo melangkahkan kakinya kembali, diikuti oleh Ria di belakangnya.

Mereka melanjutkan pencarian. Entah sampai kapan dan bagaimana situasinya, mereka harus terus lanjut.

Sebetulnya sudah dari dua hari yang lalu mereka mencari seseorang yang berharga di kota mati ini. Mereka tentu saja kesulitan mencari karena tidak adanya sumber informasi ditambah terbatasnya jangkauan wilayah akibat banyak lokasi yang terkontaminasi nuklir. Meskipun tubuh mereka berbeda dari makhluk hidup yang sebelumnya ada, namun apabila berurusan dengan benda yang bekerja dari reaksi inti atom tersebut mereka tidak ada apa-apanya.

"Sampai kapan kita mencarinya," gumam Ria terdengar pasrah. Terlintas di kepalanya skenario apa yang akan terjadi kedepannya dan tentunya itu bukanlah skenario yang baik.

Lantas Kyo menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah adik yang telah menemaninya selama sepuluh tahun lebih itu. Kyo sendiri tahu sifat buruk Ria yang mudah menyerah, namun mau bagaimana lagi kondisi merekalah yang mendesak.

"Jangan begitu, apa kamu tahu kalau dia sedang menunggu kita sekarang?" Kyo mencoba membangkitkan semangat Ria yang telah memudar. Meskipun tidak yakin dengan cara ini.

"Kamu yakin?"

"Hm?" Kyo sedikit ambigu dengan pertanyaan Ria

"Kamu yakin dia menunggu kita?" Adiknya itu memperjelas pertanyaan.

Kyo tertunduk sejenak, memikirkan perkataan yang dilontarkannya tadi. Mengapa dirinya bisa seyakin itu?

"Ya," jawab Kyo mantap pada akhirnya.

Ria tersenyum,"Kamu memang kakak yang baik."

Relinquo [Republish]Where stories live. Discover now