zulmat
n Ar kegelapan; tempat gelap; keadaan gelap.
~•~•~
Sepenggal rindu yang membelenggu tak pernah musnah, walau dirimu merantau jauh menyilau di tengah-tengah fajar membuatku semakin tersiksa akan apa yang kurasa terus bertambah kian waktu berlalu. Banyaknya rintik mata luluh tak tertahan, hatiku serasa lumpuh sulit ditahan.
Aku memang sepenuhnya salah, membawamu pada zulmat di sana. Harusnya kuajak orang lain saja, daripada aku menderita menuai rindu ini sendirian. Kutangisi kepergianmu yang tanpa permisi, kukejar dirimu di penghujung jalan di sana.
Jauh sekali sampai-sampai hidupku dibuat rumit hanya karena ingin kamu kembali.
Sulit rasanya menyadari apa yang terjadi ketika kamu masih di sini, kamu tersenyum bahkan tak segan mengajakku berlari sejauh mungkin dari apa yang kamu takutkan. Kukira kamu hanya menyayangi sebatas teman seperjuangan, nyatanya lebih dari itu yang kamu inginkan.
Kamu tak pernah membuatku sadar akan rasa yang terus membesar, kuterima kamu sepenuhnya tentang perhatian lebih layaknya sepasang kekasih. Dulu memang aku begitu lemah tentang masalah yang kini membuatku semakin rumit dan begitu sulit.
Kini aku menyadari dan bahkan kehilangan, kutahu sesuatu akan selalu berarti ketika ditinggal pergi. Kehilangan dirimu yang begitu dekat dulu bukanlah satu hal yang begitu menyenangkan, melainkan begitu menakutkan untuk terus kujelaskan.
Kupeluk bayangmu erat kuisakkan tangis padanya, berharap ia berubah menjadi kokoh dan membalas dekapanku erat.
Aku memang begitu telat menyadari rasamu padaku, memang tak pantas untuk terus kamu perjuangkan. Perlu pergi setelah itu menyadari dan ini yang terjadi pada diriku sendiri. Kamu begitu rupawan, rela menunggu gadis yang tak pernah membalasmu walau hanya sekali lirikan.
Inginku berkata padamu yang kini bahagia tanpaku, bahwasanya aku telah menyadari kamu menyayangiku. Tak apa kamu dengannya, aku hanya ingin kamu tahu jika aku berbeda dari dulu. Jika aku tak lagi selemah dulu, kini kutahu kode apa yang dituju padaku.
Kurasakan kini apa yang kamu rasakan dulu, menyayangi seorang diri. Pantas saja kamu memilih pergi tak enak hati rasanya memupuk cinta pada senyapnya dunia di tengah keramaian yang ada.
Bukanlah hal mudah untuk pergi dari masalah yang kini menghantui, pikiranku penuh akan dirimu yang bahkan entah peduli atau tidak padaku. Kuseka air mataku cepat, berlari ke belakang. Melepaskanmu yang jadi tujuanku kali ini, kulangkahkan kaki cepat walau terasa begitu berat. Kubisikkan kata-kata yang dulu kamu bisikan, kuulang terus-menerus hingga diriku menemukanmu di penghujung sana.
Kamu melambai cepat, berkata tanpa suara. Kudiamkan kamu, takut-takut itu hanya ilusi yang akan membuatku nyeri. Nyatanya kamu tersenyum bahkan kulihat tanganmu merentang meminta untuk diterjang. Kulari cepat, jantungku berdebar hebat. Memikirkanmu di sana akan siap untuk dekapan erat nan hangat.
Aku sampai, sampai pada ujung yang begitu jauh telah kulalui. Kulirik kamu sekilas, kamu masih merentang. Kupejamkan mataku lama kuisakkan tangisku keras. Menerjangmu tanpa aba-aba yang jelas.
Kamu mendekapku erat, begitu hangat seperti dulu ketika hujan turun dan aku kedinginan di bawah payung hijau muda bersamamu.
Wangimu masih sama seperti dulu, kutenggelamkan tubuhku padamu. Begitu lama sampai-sampai tak menyadari kamu berbisik membuatku nyeri.
“Datang ke pesta pernikahanku nanti?”
– 22 Desember 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Kutunggu kamu
RomanceBagaimana perasaanmu ketika pujaan hatimu pergi untuk menjadi milik orang lain selama hidupnya? Iya, aku ditinggal nikah. Pertanyaanya, Sudahkah aku merelakan? Jawabannya, belum.
