Bab 1

251 5 0
                                        

Cinta yang disimpan rapih di dalam lemari hatinya dan tak ada seorangpun yang tahu, kini bersemi kembali dengan kehadirannya yang tak bisa ia pungkiri.

Al menatap raut wajah seorang penyanyi yang sedang naik daun itu di layar televisi dengan pandangan tajam. Matanya memperhatikan setiap gerakan tubuh, kedipan mata dan suara yang khas keluar dari bibir mungil perempuan cantik berkulit putih campuran darah Sunda dan Jogyakarta.

Kini aku bisa menatapmu dengan leluasa tanpa harus mencuri-curi pandang Gumam Al sembari tersenyum. Dia duduk dengan menyatukan kedua tangan dan menaruhnya di atas paha.

Ketika sedang menikmati alunan musik yang membuatnya terbawa ke masa lalu, terdengar suara dering telfon dari dalam kamar hotel yang ia tempati.

“Mas Alexis, kita semua jadi makan di luar bersama Captain Bowo. Kalau mau ikut, kita tunggu di lobby ya,” ujar Rara di line telfon. Dia adalah seorang Cabin One (kepala pramugari yang incharge pada saat tugas) dari awak kru yang ikut tugas terbang bersamanya.

“Ok, mbak. Sebentar lagi saya turun.” Jawab Al datar. Dia menutup telfonnya dan menoleh kembali ke arah TV. Dilihatnya di monitor, ternyata sudah berganti dengan penyanyi lain. Segera dia mengambil remote dan mematikan acara yang sudah menjadi tidak menarik lagi baginya. Dia berjalan lunglai menuju pintu dan memakai sendalnya lalu keluar dari kamar.

Al yang berpenampilan santai dengan kaos warna putih dan celana jeans selutut berjalan memasuki lobby.

Beberapa wanita melirik ke arahnya ketika berpapasan di lorong. Al termasuk pria kalem dengan tubuh ideal, berkulit putih dan tingginya mencapai 175cm. Matanya yang sipit mirip mata ibunya, membuat dia terlihat seperti artis Jepang atau Korea. Gayanya yang tenang membuat dirinya terlihat sangat percaya diri.

Dia tahu bahwa dirinya menjadi pusat perhatian perempuan di sekitarnya, tak terkecuali para kabin kru di maskapai tempatnya bekerja. Terbukti, belum sampai 1 tahun Al bekerja di Airlines Swasta yang berlogo warna hijau ini, senyumnya sudah sangat terkenal di kalangan kabin kru.

“Al, kamu sudah pernah makan Ayam Taliwang di sini?” Tanya Captain Bowo sambil menyuap nasi ke mulutnya.

“Belum, Capt. Tapi pernah diajak makan Sate Rembiga dan Sop Bebalung sama Captain Hendrik.” Jawab Al seraya menoleh ke Captain Bowo.

“Hm, ya! Memang di Lombok terkenal dengan 3 makanan itu. Saya juga suka Sop Bebalung. Bumbunya khas dan segar. Bukan hanya balung, tapi dagingnya juga banyak. Apalagi menyedot isi sumsum. Wah, luar biasa, nikmat!”

“Balung itu apa sih, Capt.?” Tanya salah satu kabin dengan polos.

“Balung itu tulang belulang sapi.” Jawab Captain Bowo seraya menyeruput es teh tawar.

“Oo….” Ujar kabin yang paling muda itu.

Mereka menikmati makan malam dengan lahap diiringi alunan musik dari sebuah CD Player di dekat meja kasir sebuah rumah makan yang tak jauh dari hotel tempat mereka menginap.

Beberapa lagu terdengar sangat familiar di kuping mereka. Lalu sesaat kemudian, mengalir alunan petikan gitar di awal lagu yang membuat Al sedikit terpaku.

“Oo…ini lagunya Elena! Aku suka deh sama liriknya. Musiknya juga simple jadi enak didengar.” Kata Rara, cabin one yang seketika memecah suasana tenang.

“Iya, mbak. Aku juga sudah beberapa kali dengar, dan suka sama lagunya. Pendatang baru ini selain nyanyi, dia pintar main gitar dan piano. Bonusnya dia cantik! Dia juga yang ciptakan lirik dan arrangement musiknya sendiri lho.” Ujar kabin lainnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 23, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Love Flying With YouStories to obsess over. Discover now