Gerimis membuat suasana hatimu makin gelisah. Dentingan lonceng di pintu kamarnya membuatmu mengingat kembali seperti apa dirinya ketika keluar dari kamarnya. Kau menyia-nyiakan pemandangan itu. Kadang rambutnya dalam keadaan berantakan. Tapi kau lebih memilih untuk membaca majalah harian wanita, dengan secangkir kopi panas di pagi hari.
Lihatlah dia, bersinar seperti dirimu ketika muda dulu. Rambutnya hitam pekat, panjang, dan tebal. Matanya nyaris milikmu. Putrimu sudah besar. Kalian membesarkannya berdua, tapi secara terpisah. Apa yang kamu pikirkan saat melihatnya? Rasa benci, rasa tidak suka, meskipun dia anakmu. Dia tahu itu. Mengapa kau menganggapnya berbeda? Padahal dia sudah lama mengharapkan kasih sayangmu. Kau bahkan berfikir dia lebih suka menyendiri, tipe anak yang cuek, dan egois. Tapi mungkin tidak kau sadari karena siapa dia seperti itu.
Tidak ada yang ingin dia bicarakan padamu. Karena kau tidak pernah membuka pintu percakapan dengannya.
Suatu ketika matanya sembab. Dengan cepat dia lari menuju kamar mandi. Tanpa sengaja kau melihatnya. Kamu menduga sebab menyaksikan drama masa kini mungkin ia menangis. Tapi itu hanya dugaanmu. Tidak pernah kau mencari keterangan lebih jelas dengan bertanya. Mengapa demikian? Dia butuh perhatianmu. Salah satu hal yang menyedihkan, dia tidak pernah mendapatkannya. Dia berjuang melawan segala rasa sakit dalam hidupnya akibat kesendirian yang memeluknya jauh lebih erat. Mungkin tanganmu terlalu berharga untuk menyentuhnya. Atau dia yang terlalu mewah untuk disentuh.
Malam itu, dia menulis sebuah kata untukmu, di selembar kertas putih. "Mama" begitulah yang ia tulis. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tapi mungkin dia begitu merindukanmu, meskipun kalian satu rumah. Tidakkah semua yang lakukan kejam? Dia tumbuh berbeda. Dia tidak bahagia. Kau berfikir mungkin dia bahagia di dunia SMA yang kini tengah dia jalani. Tapi semua itu jauh berbeda dari jalan pikiranmu. Dia tidak mengenal jatuh cinta. Dia lebih suka melamun. Dia mengikuti lebih sedikit kegiatan. Dia lebih suka berada di dalam kamarnya. Memainkan tinta dan kertas, dengan pemutar musik yang dapat membuat suasana serasa ramai.
Suatu hari, kau menemukannya sedang tertidur pulas. Kau mengamati wajahnya diam-diam. Cantik, batinmu. Dialah replikamu. Dialah putrimu. Yang tanpa kau sadari berjuang dalam gelap. Kau tidak pernah ada untuknya. Mengapa kau lebih memilih semua pekerjaan, dan kegiatanmu dibandingkan menemaninya hanya pada hari Minggu? Jangan pernah menyalahkannya yang lebih sering keluar diam-diam, dan pulang setelah kau berada di rumah. Dia mencari teman, karena dia tahu, kau tak ingin menemaninya.
"Mama, Papa datang." Ucapnya dari belakangmu. Kau hanya menghela nafas. Dia pun berbalik arah. Sesaat mantan suamimu tersenyum padamu.
"Aku mau membawanya jalan-jalan." Ucap suamimu. Mantan suamimu. Kau hanya mengangguk ringan seolah melepasnya dari mu bukanlah masalah besar.
"Kau hanya menyiksanya disini." Ujarnya lagi. Seketika kau mendongak.
"Aku menyayanginya dengan caraku." Ucapmu pelan. Tidak ingin merasa salah.
Ketika dia mencari anakmu, anakmu telah masuk ke dalam kamarnya. Kau menoleh heran. Dia pun begitu. Kalian saling menatap satu sama lain. Ternyata putri mu lebih dulu mengunci diri di dalam kamar saat kalian saling bercakap tadi. Itulah alasan lain mengapa kamu menganggapnya aneh. Tidak, dia tidak aneh. Kau yang membuat semuanya berantakan.
Matamu semakin berair saat melihat catatan kecilnya. Ada banyak pengalaman tidak mengenakkan selama dia hidup. Dia berusaha menyembunyikan luka dalam hidupnya. Apa yang akan kau lakukan saat ini? Berbaring di atas kasur sambil menyesali segalanya. Kau menyedihkan sekali. Seketika kau mengingat satu hal.
Dia pernah pulang saat hujan deras. Saat kau membukakan pintu, dia basah kuyup, berdiri di depanmu. Kau menatapnya bingung, tapi dia mentapmu datar. Dia segera masuk,dan kau segera menutup pintu. Entah mengapa hanya setelah lima langkah berlalu, dia jatuh tak sadarkan diri. Saat itulah rasa khawatir mu muncul untuk pertamakalinya.
Setelah itu, dia tak sadarkan diri di atas ranjangnya selama seminggu. Kau menungguinya. Berharap dia akan membuka mata. Benar saja, dia siuman. Tapi ada yang berbeda. Mengapa setelah itu dia tak pandai bicara lagi?
Malam itu kau menangis. Kau ingin mendengar suaranya memanggilmu "Mama". Tapi semua itu hanyalah keinginanmu kini. Kau memukul mukul kepalamu sendiri. Bahkan meskipun ayahnya datang menjenguk, kau tetap merasa sendirian. Dia sakit parah. Hal yang tidak pernah kau sadari. Karena selama ini dia pandai menyembunyikan bagaimana rasa sakit yang dia alami. Dia sering berkata, "aku baik-baik saja."
Sore itu, kau masuk ke kamarnya. Dia sedang tidur. Kau tersenyum. Kau membawa kotak kecil indah di tanganmu. Ini kali pertamanya kau mengingat ulangtahunnya. Itu pun karena kau melihat ada tanda lingkar merah di kalender dalam kamarnya.
"Selamat ulangtahun, Nak." Ujarmu, membelai kepalanya. Berharap dia bangun dan tersenyum. Tapi satu menit berlalu, satu jam, bahkan setelah lama mungkin, kau curiga. Takut. Kau menggoyang tubuhnya, tapi dia tetap diam. Baru saat itu kau terdiam dengan perasaan penuh bersalah. Ini rasa sakit yang sesungguhnya. Setelah itu kau berteriak memanggil-manggil namanya. Air matamu mengalir deras. Kau mengusap wajahnya, menciumnya, menepuk-nepuknya, berharap dia akan bangun. Tapi itu tidak pernah terjadi lagi. Lantas mantan suamimu berlari masuk ke kamarnya setelah mendengar teriakan mu, dan menemuimu telah mendekapnya erat.
Ya, putrimu telah pergi menuju dunia paling bahagia di atas langit.
"Selamat ulangtahun, Nak."
Kini kau hanya dapat mengingatnya dalam kenangan. Bahkan setiap tahun kau merayakan ulangtahunnya. Mengapa tidak dari dulu kau lakukan hal itu? Mengapa kau tidak pernah ingin mencari tahu lebih banyak tentang dirinya, bahkan meskipun dia selalu berkata, "aku baik-baik saja."
YOU ARE READING
I'm Okay
Short StoryKisah yang menceritakan bagaimana seorang gadis berusaha menyembunyikan seperti apa sakitnya jalan hidup yang dia lewati, yang membuatnya jauh dari kasih sayang.