Gadis di Persimpangan Jalan

6 1 0
                                        

Kosong, putih, polos. Hanya kursor yang bergerak-gerak. Tidak ada setitik pun tulisan di layar. Sedari tadi hanya begitu saja, padahal sudah tiga puluh menit aku duduk di kedai kopi ini. Tiga puluh menit yang terbuang percuma, sia-sia.

“Mau tambah kopinya lagi, Mas?” suara pramusaji membuyarkan lamunanku.

“Ah, iya, boleh. Satu cangkir lagi,” ucapku sambil menyodorkan cangkir kopi yang sudah kosong.

“Ada tambahan lagi?”

“Oh iya Mas, kopinya tanpa gula ya.”

“Baik Mas, mohon ditunggu.”

Pramusaji berlalu. Mataku kembali menatap layar yang masih kosong. Kursor yang berkedip-kedip seperti mengejekku, “Hei, mana tulisanmu? Tidak ada yang kau tulis hari ini. Dasar payah!” Aku mengerutkan kening. Sial! Kenapa jadi emosi?

Deadline sudah tinggal hitungan jam, tapi aku belum menulis sedikit pun untuk mengisi kolom di salah satu tabloid terbitan tempatku bekerja. Entah sudah berapa cangkir kopi yang kuhabiskan dalam waktu tiga hari ini demi menemukan inspirasi, namun hasilnya nihil. Yang terjadi malah aku kesulitan tidur karena terlalu banyak kafein yang masuk ke dalam tubuhku.

Ayolah Kris, pikirkan sesuatu, aku menggumam. Batinku terus berteriak, meminta otak bekerja lebih keras agar menemukan gagasan untuk ditulis. Dalam keadaan seperti ini rasanya lebih nikmat menjadi editor ketimbang penulis, yang otaknya harus selalu memiliki ide segar.

“Ini Mas kopinya,” sang pramusaji sudah kembali dengan secangkir kopi tanpa gula pesananku. Aromanya langsung menguar dan menggoda indera penciuman.

“Terima kasih.”

“Sama-sama Mas.”

Kuhirup aroma kopi sekali lagi lalu menyesapnya perlahan. Kurasakan kopi memasuki kerongkonganku kemudian menuju ke lambung. Tanpa tambahan gula sedikit pun, aku tetap bisa merasakan nikmatnya kopi, bahkan jauh lebih nikmat karena rasanya original.

Sembari menikmati rasa asli kopi, kualihkan pandanganku ke arah jalan. Tempat dudukku saat ini sangat strategis, berada di balkon lantai dua dan persis menghadap ke jalan. Dari sini aku bisa memandang ke sepanjang jalan mulai dari persimpangan yang satu sampai ke persimpangan yang lainnya di ujung. Demi membunuh rasa jenuh dan menemukan inspirasi, kutinggalkan sejenak laptop-ku untuk kemudian menikmati suasana sore ini dengan memperhatikan tingkah dan pola manusia di sekeliling.

Ada ibu-ibu paruh baya berjalan menggandeng anaknya yang menangis. Mungkin anak itu menginginkan sesuatu namun sang ibu tidak mengizinkan. Lalu ada segerombolan siswa SMA berjalan sambil bersenda gurau, membuatku teringat masa putih abu-abuku sepuluh tahun lalu. Pedagang gorengan berjalan berkeliling sambil mendorong gerobak dagangannya, kendaraan umum dan pribadi yang masih ramai berlalu-lalang, dan masih banyak lagi.

Namun ada satu pemandangan menarik yang membuat mataku tak jemu mengamatinya. Dari seberang jalan, terlihat sesosok gadis berjalan bersama segerombolan anak kecil yang kelihatannya susah diatur. Namun gadis itu terlihat sangat sabar. Ia tidak terlalu cantik, kulitnya sedikit gelap, penampilannya agak tomboy tetapi rambutnya panjang dan diikat ekor kuda. Wajahnya ceria, meski tanpa polesan make up namun terlihat menyenangkan karena selalu tersenyum menghadapi segerombolan anak kecil itu. Rasanya tidak berlebihan jika aku menyebut sosoknya begitu natural, sangat Indonesia, dan tidak membosankan dipandang berlama-lama. Porsinya pas.
Kuteguk lagi perlahan kopi hitamku, kukecap rasanya yang pahit dan sedikit asam. Lalu kemudian mataku kembali mengamati tingkah gadis itu bersama ketujuh teman kecilnya. Persis Putri Salju dan tujuh kurcaci. Kali ini gadis itu bertingkah sedikit tidak biasa. Ia terlihat sedang bernyanyi sambil memperagakan gerakan unik di depan ketujuh kurcaci itu.
Ia tidak mempedulikan keadaan sekitarnya, tidak peduli apakah tingkahnya menjadi pusat perhatian orang atau tidak. Ia masih saja terus bernyanyi sambil bergerak dan diikuti oleh ketujuh kurcaci itu. Senyum itu tidak sedikitpun memudar dari wajahnya. Benar-benar pemandangan yang membuat hati tentram.

Tiga puluh menit berlalu, kulihat gadis itu dan ketujuh kurcacinya berjalan ke arah kedai ini. Suara mereka semakin terdengar jelas. Entah kebetulan atau takdir, tiba-tiba saja langkah mereka terhenti di depan kedai kopi, tepat berada di lantai bawah seberang balkon tempat dudukku. Segera saja aku kembali duduk dengan posisi semula, agar mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi aku mengamati mereka, lebih tepatnya mengamati gadis itu. Jarak kedai kopi dan tempat mereka berdiri hanya beberapa meter saja, sehingga aku bisa mendengar percakapan mereka.

“Kak Cila, kenapa yang tadi susah sekali?” terdengar suara gadis kecil nan cempreng dengan intonasi tinggi, seperti ingin marah, kesal, namun menahan tangis.

“Iya Kak, aku juga nggak bisa,” protes anak kecil lainnya, kali ini suara anak laki-laki.

“Iya Kak, aku juga...”

“Aku juga Kak Cila...”

Dan terus, satu persatu dari mereka bersuara. Kini genaplah ketujuh kurcaci itu berteriak dan merengek memprotes si gadis itu.

“Adik-adik, kalian tenang dulu. Lombanya kan masih dua bulan lagi, nanti kita belajar lagi sama-sama ya. Percaya sama Kak Cila, kalian pasti bisa kok. Asalkan kalian rajin latihannya,” terdengar olehku gadis itu berusaha menenangkan ketujuh kurcacinya. Astaga, suaranya lucu sekali, masih seperti anak kecil.

“Beneran ya Kak Cila, nanti ajarin kami sampe bisa?” tanya si suara cempreng.

“Iya, Cindy, nanti Kak Cila ajarin kalian sampe bisa.”

“Janji Kak?” si anak laki-laki tadi ikut memastikan.

“Iya, Kak Cila janji!”

“Yeeeeei...!” serentak ketujuh kurcaci itu bersorak girang.

“Ya sudah, sekarang sudah sore Adik-adik, waktunya pulang.”

Seketika senyap, gadis itu dan ketujuh kurcaci perlahan berjalan meninggalkan kedai kopi. Semakin jauh, semakin jauh, lalu hilang di tikungan depan.

Cila, nama yang lucu, selucu suaranya. Siapa yang menyangka gadis berpenampilan sederhana dan cenderung tomboy itu memiliki tingkah sangat kekanak-kanakan? Senyum manis yang tak lepas dari wajahnya dan keceriaannya bersama ketujuh kurcaci tadi sungguh membuat hati ini damai memandangnya. Aku begitu menikmati pemandangan itu. Hanya dengan senyuman tulus tadi bisa mengalihkan perhatianku, sesederhana itu.

Kuteguk lagi kopi hitamku yang sudah tinggal sedikit. Menikmati kopi sambil mengamati mereka membuatku tak sadar kalau kali ini adalah tegukan yang terakhir. Ketika menikmati tegukan yang terakhir, tiba-tiba aku terdiam. Seperti ada sesuatu yang terlintas di benakku. Diam sesaat, berpikir sejenak, lalu kemudian aku tersenyum simpul.

I got it!” teriakku lepas, membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahku. Ketika sadar bahwa aku kelepasan berteriak dan mengagetkan banyak orang, aku langsung tersipu malu karena mendadak jadi pusat perhatian.

“Ada yang bisa dibantu, Mas? Mau tambah kopi lagi?” tiba-tiba saja pramusaji sudah berada di dekatku dan menawarkan kopi lagi.

“Ya, tambah satu cangkir lagi, Mas. Ingat ya Mas, tanpa gula.”

“Baik Mas, mohon ditunggu sebentar.”

Kali ini aku langsung sumringah, sulit rasanya untuk tidak tersenyum saat ini. Tiga puluh menit yang terakhir tidaklah sia-sia. Telah kudapatkan ide tulisannya. I got you, Cila, atau siapapun namamu.

*****

Sederhana Saja - Krismantoro

Sederhana saja,
sesederhana kopi hitam tanpa gula,
sudah cukup membuat semangat menggelora.
Sederhana saja,
sesederhana kopi hitam tanpa gula,
aroma dan rasa asli tanpa tambahan apa-apa,
menggugah selera dengan apa adanya.
Sederhana saja,
sesederhana gadis di persimpangan jalan sana,
sudah cukup membuat terpesona.
Sederhana saja,
sesederhana gadis di persimpangan jalan sana,
senyum tulus nan merona
sudah cukup menentramkan jiwa.
Sederhana saja,
sesederhana kopi hitam tanpa gula,
Kau, gadis di persimpangan jalan sana,
mempesona dengan apa adanya.
Ya, sesederhana itu.

#KedaiKopi, 200516

*****

Coffee of My LifeStories to obsess over. Discover now