That Smile

91 3 1
                                        

Ditto POV

The second time I see her.

Something inside her attract my attention.

The "always kind to everyone" girl, let everybody use her.

I know the company's event is always boring. Dan prediksi gue ngga pernah salah, seperti acara ngga jelas berjudul "Trinity's Gathering Day" yang isinya hanya makan malam bersama plus konser dari sebuah band kantor tanpa ada meaning dan esensi yang didapat. Intinya hanya buang buang uang dan nyusahin orang.

Salah satu orang yang disusahin adalah perempuan dengan kunciran asal – asalan, yang gue tebak rambutnya lurus hitam sebahu, dan mata besar dan bulat yang seakan penuh tanya itu lagi jongkok sambil bersihin snack yang berserakan di lantai seorang diri di ruangan sebesar ini. Yang gue ngga tau adalah kemana itu panitia lain kenapa pula cuma ketua acaranya yang ditinggalkan sendiri buat beres – beres setelah acara ini.

2 tahun kerja di perusahaan otomotif ternama ini cukup bikin gue apal sama kelakuan senior dan manajer yang suka semena – mena sama anak baru. Apalagi gue yang kerja di bagian produksi, punya ratusan operator yang jauh lebih tua daripada diri sendiri ini. Macem ospek yang pindah ke level perkantoran.

Gue lagi menimbang – nimbang, apakah gue bakal jadi salah satu orang yang mau disusahin juga sama perusahaan ini or I just leave her, yang kalo ngga salah namanya adalah Syera. Damn, gue selalu benci sisi diri gue yang nyusahin diri sendiri ini, seperti sekarang gue lagi berjalan ke arah dia.

"Need help?" sh*t gue udah ngga bisa ngambil langkah bodo amat.

Perempuan itu menoleh dengan wajah super tired, well I will, meskipun gue laki - laki, ngerjain seluruh acara yang walau cuma acara ecek – ecek perusahaan tapi kalo dikerjain sendiri bakal menguras tenaga.

"Ah, ngga usah, lo kan bukan panitia masa ikut kerja. Tapi makasih udah menawarkan" jawabnya sambil tersenyum, lagi, The 'I don't need your help but desperately need your help' girl. Kan ngeselin. Fine then, yang penting gue udah nawarin.

Gue keluar dari gedung itu dan ngga sengaja menemukan sebuah vacuum cleaner. Hmm... hmmm.... Gue berpikir keras. 1...2... damn!

"Pake ini aja, lebih gampang dan efisien" kata gue lagi membuang jauh – jauh pikiran penolakan pertama tadi. Syera menoleh lagi, setelah melihat apa yang gue bawa, matanya berbinar. Seakan – akan yang gue bawa adalah harta karun dari dasar samudra hindia. "Pasti lo supervisor produksi yaa? Emang luar biasa kreatifnya" katanya lagi terlampau antusias.

"Syera by the way" katanya sambil menjulurkan tangan. "Ditto" gue menyambut uluran tangannya. Dia melangkah mencoba mengambil vacuum cleaner yang sudah gue bawa dengan susah payah itu. "Eits, udah lo duduk aja, biar gue yang ngebersihin" kata gue sambil menyembunyikan vacuum cleaner di belakang badan gue. "Tapi kan lo bukan..." katanya masih ngeyel. Kan ngeselin.

"Iya gue bukan panitia emang. Tapi gue mau bantu, lagian ini yang nemuin gue, kalo lo mau bersihin carilah vacuum cleaner sendiri sana" cukup panjang untuk membuat perempuan itu manyun dan manut, in a cute way. Diam – diam gue jadi tersenyum. Lah eh, kenapa gue jadi senyum?

Syera POV

Am I blind? Why I never see him?

The man who suddenly come from nowhere

The "pretend to not care about the world" man, let everybody have a wrong impression about him.

Curse me for cannot make anybody work for me. Like today, ketika bos gue dengan seenak hatinya menjadikan gue si anak bawang ketua untuk acara yang katanya 'ecek – ecek ini'. Apanya yang ecek – ecek, tetap aja nyari catering nya rempong, nyari performer nya rempong. And still, buang – buang dutinya itu loh.

Lihatlah senior – senior HRD gue ini yang terpaksa menerima perintah si bos jadi anak buah gue untuk sementara waktu pada acara ini. Sekarang mereka punya seribu alasan untuk ninggalin gue beres – beres sendirian disini tanpa office boy yang keburu pulang duluan karena lupa gue ingetin, dan kayak gue bisa nolak aja.

"Need help?" seorang laki – laki berkulit sawo matang berbahu lebar menjulang tinggi di belakang gue nyaris membuat gue yang hanya seketek nya ini loncat ke meja sebrang, rambutnya yang sedikit acak – acakan tapi terlihat maskulin itu disisir oleh tangannya ke belakang. Karena terakhir kali gue ngecek gue bener – bener sendirian di ruangan ini. Darimana pula datengnya orang ini, okay, gue harus ngecek kakinya. Oh, masih napak.

Dan gue menyesal menolak pertolongannya begitu saja, too shock to think right, pardon me. Karena laki – laki yang namanya sangat misterius itu langsung balik badan dan pergi meninggalkan gue begitu saja. Zzzz, ngga bisa apa nanya 2 kali, kan perempuan maunya digituin (noted, lesson number one!). Yaudahlah, gue terima nasib aja.

"Pake ini aja" membuat gue menoleh lagi. Dan omaigat itu vacuum cleaner yang daritadi gue cari – cari. Apa dia punya kantong doraemon? Oh no, perut nya terlalu rata untuk dipasangi kantong doraemon. Fokus Syera. Gue pernah lihat dia dimana ya. Ah, dia kan yang waktu itu di sebelah Jodi, cokiber (*cowok kita bersama) yang demen banget flirting ke seluruh wanita di perusahaan ini. Too desperate or too extrovert. And there he is the cool guy beside the flirting and noisy man type. Laki - laki macam ini lah yang kadang jarang kita perhatikan tapi sekali diperhatikan susah untuk dilupakan.

Dan lucunya dia insist banget untuk bantuin gue, si pria bukan panitia ini, yang namanya masih nihil gue temukan di otak gue, padahal dari awal dia udah sok ngga peduli gitu. Dasar pria kelakuan sok preman pasar tapi hati hello kitty. Gue jadi mencoba menahan tawa atas pikiran sendiri. Kenalan duluan ngga menurunkan jati diri gue sebagai perempuan kan? Lagian dia juga udah bantuin gue.

Setelah 15 menit dia bantuin gue, lebih tepatnya menyuruh gue duduk saja dengan tampang bossy nya itu, gue yang emang cacing kepanasan type ngga bisa aja gitu duduk diem udah mulai sibuk beres – beresin kursi mengembalikan nya ke tempat semula di ruangan meeting ini, tiba - tiba perut gue berkhianat karena udah ngga diisi dari sesiangan ini, terlalu sibuk ngurusin acara ini sampe lupa untuk makan, berakhir perut ini menjadi jealous dan membalas dendam pada majikannya yang terlalu cuek ini. "Kerukuruuuk"

Ditto menoleh seakan suara barusan adalah suara alarm kebakaran di kantor ini. "Sorry" gue hanya bisa tersenyum bodoh. Kenapa pula harus di ruangan sehening ini si Ms perut konser. Ditto menghela napas lagi. "Wait here" katanya lalu keluar begitu saja.

Emang dasar gue adalah seorang anak yang penurut dari masih di perut Ibu dulu, gue hanya bisa duduk termangu kelaparan menunggu Mr. Giving order without any explanation itu selama 20 menit berlalu. Gue baru inget gue sama sekali ngga punya kontaknya dia. Jadi kalaupun gue harus menghubungi dia, ya cuma bisa lewat hembusan angin malam yang mungkin masuk ke pikiran dia yang entah ada dimana itu bahwa anak kelaparan ini sudah hampir nyemplung ke palung mariana saking ngga tau harus ngapain lagi.

And then he comes, membawa satu plastik yang dari aromanya, ini apaaaa? SATE AYAAAM! Gue curiga sebenernya dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk membantu anak malang ini hari ini. Oh, masih napak. Manse! I almost forgot the most important part of that night, dia bawa plastik hitam itu sambil tersenyum manis. Senyum yang cukup membuat jantung gue sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya. Yap, that kind of smile. :)


Author's Note~

HAI HAI HAAAAI!

Ah senangnya akhirnya bisa klik "new story". Anyway, novel kedua gue ini memang direncanakan bergenre romance banget yang bikin hati gremet gremet tak lupa bumbu komedi receh khas author akan coba ditampilkan disini, semoga ngga terlalu receh yaak. Selamat membaca, semoga menghibur and jangan lupa dikasih vote dan commentnya kakak - kakak pembaca yang baik hati :)

MomentsWhere stories live. Discover now