Part 1

302 29 23
                                        

Derap-derap langkah yang menggema di koridor. Matanya menatap ke sekitar dengan waspada. Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya dan terus melangkah tanpa memperdulikan hawa dingin yang menusuk dan suasana yang mencekam.

Suasana malam di Rakuzan High School memang sangat menakutkan. Jarang sekali ada yang mendatangi sekolah ini ketika waktu menunjukkan lebih dari jam 7 malam. Mereka takut akan rumor yang beredar di sekolah ini. Apalagi, sekolah ini sedang diperbaiki, membuat sekolah ini berbahaya jika didatangi saat malam karena terlalu gelap.

Meski ia mengetahui rumor itu, gadis satu ini tetap mengunjunginya. Yah, bagaimana lagi? Buku PR nya yang tertinggal di kelas padahal hari ini ia mendapatkan PR dari guru killer di sekolah ini dan harus dikumpulkan besok. Mau tak mau ia harus memberanikan dirinya untu mengambil buku itu.

Ia menghela napas lega ketika ia berhasil mengambil bukunya kembali. Lalu dengan hati-hati, ia berjalan menuju pintu keluar di lantai bawah. Lalu ia menggunakan tangga yang letaknya paling dekat dengan pintu keluar itu.

Ting!

Dentingan piano itu mengusik telinganya. Tubuhnya membeku seketika. Dengan langkah berat, ia memberanikan dirinya untuk mencari sumber suara. Suara itu berasal dari pojok ruangan. Lalu ia mendongak dan melihat papan bertuliskan 'Ruang Musik' di atasnya.

Ia menelan ludahnya dengan kasar. Tangannya bergetar hebat. Ia memberanikan dirinya untuk menggeser pintu itu dan melihat siapa ynag membunyikan alat musik tersebut.

Kriett...

"AAAAAHHH!!!!"

.
.
.

"Eh? Jadi rumor itu benar?"

"Kasihan sekali, anak kelas satu itu yang melihatnya?"

"Iya, benar. Padahal baru masuk tapi ia sudah diteror seperti itu..."

Desas-desus dari rumor itu menyebar dengan cepat. Hingga ketua OSIS dari sekolah ini, Akashi Seijuro juga ikut mendengarnya.

"Huh..." ia memijat kepalanya yang pening karena banyaknya masalah yang ada di sekolah ini.

"Sei-chan, kau belum beristirahat sejak tadi. Aku yakin kau juga begadang kemarin untuk menyelesaikan proposal itu." Ujar Mibuchi Reo, teman se-timnya sekaligus kakak kelasnya.

"Aku baik-baik saja, Reo. Hanya saja sepertinya masalah baru muncul lagi." Balas Akashi sambil menghela napas.

"Apa itu tentang hantu yang bermain piano di ruang musik pada malam hari?" tanya Mayuzumi Chihiro yang mendengarkan percakapan mereka.

"Itu benar. Aku akan menanyakannya pada anak kelassatu yang mengaku melihatnya itu. Kalian pergilah ke ruang OSIS duluan, nanti aku menyusul." Akashi meraih jersey-nya dan menyampirkannya ke pundaknya. Lalu ia berjalan meninggalkan teman se-timnya yang khawatir akan keadaannya.

Akashi berjalan menyusuri koridor, lalu langkahnya berhenti di depan sebuah kelas yang ternyata adalah kelas 1-3. Semua gadis yang mengaguminya berbisik-bisik tentangnya dan semua siswa laki-laki menatapnya heran.

"A-ano... ada perlu apa senpai kemari?" tanya seorang gadis ynag berasal dari kelas tersebut.

"Oh, permisi. Kalau boleh tau, siapa gadis yang mengaku melihat hantu kemarin malam?" tanya Akashi dengan nada lembut, membuat gadis itu bersemu.

"A-ah, senpai mencari Misuzu-chan, ya? A-akan kupanggilkan sebentar." Lalu gadis itu berlari kecil, menghampiri seorang gadis yang tengah berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Sedangkan Akashi mendudukkan dirinya di sebuah bangku yang tak jauh dari kelas itu.

Gift [Akashi X Reader]Des histoires addictives. Découvrez maintenant