"Saat kau datang, kaulah masalah bagi mereka, saat kau pergi, semua berlimpah padaku, namun, saat kita bertemu, beban yang kuemban selama ini mendadak sempurna sirna dari benakku"
***
Johnathan Raka Edison, seorang mahasiswa jurusan antariksa. Ia tumbuh di keluarga berada dengan marga Edison. Nama marganya membuatnya dijuluki 'cucu Thomas Alfa Edison' di kampusnya. Ia yang memiliki pribadi acuh tak begitu mempedulikannya.
Saat ini, mahasiswa berhamburan keluar. Wajah lelah tampak jelas dari tatapan sayu mereka. Maklum saja, ini jam 8 malam. Raka sedang berjalan keluar dari kampusnya. Warna hitam pekat tampak jelas sebagai surai bumi malam ini. Cahaya remang rembulan bersinar seterang mungkin, memberi sedikit penerangan dari langit penuh bintang. Tidak, Raka sama sekali tak ingin melihatnya. Suasana semacam ini, saat mereka berdampingan, Raka benci hal itu. Mereka lebih terlihat sedang mengejek Raka yang seolah terpuruk dalam cekaman mereka. Berpesta dan bercanda dalam kesuksesan bisnis, lagi lagi mencoba mencemooh Raka yang tak bisa melakukan apapun, seperti matahari. Terus menyuruh sumber sinar dunia itu berdiri di belakang layar, berusaha mendorong mereka yang bahkan membencinya. Rasa sesak terasa di dadanya. Tentu saja, ia ikut merasakan rasanya matahari yang seakan harus mendorong mereka dengan peluh dan rasa pamrih mendalam, bahkan sama sekali tak dilirik oleh orang lain. Seolah dirinya tak pantas untuk terlihat. Hanya beberapa orang yang berusaha meliriknya, mencoba peduli terhadap perasaannya. Dan tebak, apa yang mereka lihat? Senyum bahagia seolah tak terjadi apapun.
Namun mentari tak tau
Dibalik sinar redup
Dan keelokan rembulan serta bintang temaram
Tersimpan satu rahasia besar
Yang membuatnya tak terlihat
Ia tak berniat sembunyi,
Namun rembulanlah yang menyembunyikannya
Dari pandangan kerumunan bintang
Yang terus memburunya dalam kegelapan malam
Saat awan mulai mengaburkan pencarian,
Bulan pun perlahan terkikis
Tanpa mentari ketahui
Saat awan itu menghilang,
Sang rembulan harus bersinar terang
Tanpa harus manusia tahu
Bahwa ribuan meteor menghujam raganya
~
Hari ini, hari kelulusan Raka dan kawan kawannya. Sanak saudara berdatangan di hari bahagia ini. Matahari menyinari suasana cerah ini dengan pancarannya. Raka menjadi salah satu mahasiswa teladan dengan nilai tertinggi. Yah, dia memang terlahir di keluarga yang cerdas. Tak ayal ia bisa meraih nilai itu dengan mudahnya. Sang mendiang ayah sudah mewariskan perusahaan ternama untuknya. Pekerjaan sudah tak perlu ia cemaskan.
Raka mencoba menatap matahari, beradu dengan cahaya yang amat menyilaukan. Terlukis seulas senyum di wajahnya, matanya sempat menyipit dan terpejam beberapa kali lantaran terhujam sinar benderang yang seakan berniat membutakannya. Lukisan semu atap biru cerah itu mengingatkannya pada bintang yang tak lagi terhitung jumlahnya. Bulan bersinar seolah dirinya turut menjadi kerumunan bintang, mengecoh anak kecil yang memandangnya pantas bersanding dengan kerlip indah bintang. Bodoh. Ia sudah hendak melupakan mereka. Entah mengapa analogi itu selalu membayanginya. Huh! Andai saja ia bukanlah bagian dari mereka. Seperti matahari yang merupakan bagian dari bintang, hidupnya jauh lebih bahagia.
Tetapi tungku bumi itu tak tau
Bahwa segala cara telah dilakukan rembulan
Demi kebaikannya
Tanpa ia tau bahwa dirinya telah terkikis
Perjuangan yang dirasa lebih berat
Dibanding sang matahari yang sibuk mengutuk diri
Sang rembulan lebih berjasa
Meski semua orang mengerti
Bahwa mentarilah pacaran cahayanya
...
Malam bahagia di keluarga Edison. Wisuda sudah usai sejak sesiangan tadi. Semua menyantap makanannya. Tak terkecuali Raka, alasan malam bahagia itu.
YOU ARE READING
Kumpulan Cerita Oneshoot
Short StoryKumpulan cerita oneshoot (OC verse) Intinya si, ini tuh antara murni pengen buat, atau daripada inspirasinya terbuang percuma. Kalo mau anime verse akun sebelah @suke_aru /promosi Nb : Akun kami dimiliki oleh satu orang yang sama atas dasar gabut bi...
