Aku dan gitarku selalu datang ke sebuah taman dekat rumahku.
Hanya untuk bernyanyi sendiri, atau bersama anak-anak kecil yang bermain di sekitar taman.
"Kak, nyanyi lagu perfect dong", kata salah satu anak berumur 9 tahun yang ku tau namanya Atha.
"Emang kamu tau lagunya?", tanyaku.
"Hehe gatau kak, makanya nyanyiin dong"
Aku tertawa lalu bertanya lagi, "Tapi kok kamu tau judulnya?"
Ia menjawab "Disuruh kakak ganteng disebelah sana tadi kak"
Aku kebingungan. Tak ada siapa siapa disana. Hanya ada ibu-ibu komplek yang mendorong kereta bayi dan bercengkrama satu sama lain sambil sesekali melihat kearahku dan tersenyum.
Jadi siapa lelaki itu?
Ah sudahlah, mungkin hanya orang iseng.
Lalu aku bernyanyi untuk mereka. Sampai terlarut dalam lagu itu.
Entah mengapa aku menyanyikannya dengan penuh penjiwaan.
Ya, mungkin hari itu aku sedang mood untuk bernyanyi. Mungkin.
------
Esoknya, aku kembali lagi ke taman itu. Tak lupa dengan membawa gitarku. Seperti biasa, aku bernyanyi bersama anak-anak itu. Mereka terlihat ceria sekali.
Ah, aku jadi ingin kembali ke masa kecil. Dimana aku hanya merasakan sakit karena terjatuh dari sepeda atau tidak dibelikan mainan, bukan karena jatuh cinta.
Tapi tunggu, aku saja tak tau apa itu jatuh cinta. Aku tak bisa mendefinisikan apa itu cinta. Jadi mengapa aku membicarakan cinta? Huft.
"Kak nyanyi lagu yang kemaren dong kak, lagunya bagus", kata seorang anak bernama Raisya
"Kan yang kakak nyanyiin banyak dek"
"Yang kemaren disuruh Atha itu kak"
"Oh, lagu perfect?"
"Iya itu, nyanyiin ya kak"
Aku bernyanyi lagi. Sama seperti kemarin, aku sangat menjiwai lagu itu. Padahal biasanya hanya waktu tertentu saja aku bisa menjiwai lagu dengan penuh penghayatan.
Lalu mataku tertuju pada seorang laki-laki yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ia duduk di bangku taman, bersama dengan kertas dan alat menggambar miliknya. Ia sibuk mencorat-coret kertasnya, yang aku yakini kalau ia sedang menggambar sesuatu.
Dan saat aku sedang berbicara dengan anak kecil yang ada didekatku, ia pergi entah kemana. Aku taktau kemana arahnya pergi.
Ya mungkin aku tak akan pernah bertemu dia lagi.
------
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan, aku tetap setia mendatangi taman itu. Tentunya ditemanin dengan anak-anak kecil itu. Mereka tak pernah bosan mendengarkan ku bernyanyi. Apalagi jika aku menyanyikan lagu 'perfect'.
Walaupun tak ada mereka, aku tetap datang kesana hanya untuk menenangkan pikiran atau sekedar menulis lagu.
Dan ada satu hal pula yang membuatku tetap datang, yaitu seorang lelaki yang setia datang pukul 4 sore dengan membawa kertas dan alat menggambarnya.
Ku pikir ia tak akan pernah datang lagi, tapi ternyata ia selalu datang dan duduk dikursi yang sama pula.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya ia yang tak ku ketahui namanya itu melihatku dengan lekat sambil tersenyum. Manis sekali. Ku umumkan pada kalian mulai hari itu aku menyukainya.
Sekarang, alasan ku untuk datang ke taman ini bertambah satu. Yaitu, melihat ia yang selalu tersenyum ke arahku.
Sampai suatu ketika, lelaki itu tak datang ke taman. Kursi itu kosong. Aku menunggunya sampai jam 6 sore, ia tetap tak datang. Ada perasaan aneh yang menyeruak di dada ku. Hampa.
Tunggu tunggu.
Lah memang aku ini siapanya? Kenal nama nya saja tidak.
Dan hari itu adalah hari dimana ia yang mengisi 95% pikiranku. Semakin aku mencoba untuk tidak memikirkannya, ia malah semakin muncul di pikiranku.
Sebenarnya aku ini kenapa sih?
