Bagai magnet yang kuat, daya tarik Jakarta mampu menyedot perhatian orang dari berbagai kota di Indonesia untuk selalu menyoroti kota ini. Tak hanya menyoroti melalui berita di internet maupun televisi, banyak juga yang menjadikan Jakarta sebagai kota impiannya. Tempat labuhan segala asa.
1 dari 8juta orang itu adalah aku. Setelah lulus kuliah dari sebuah universitas di Semarang, aku lalu mengejar mimpiku untuk hidup di ibukota. Harapanku sederhana, bekerja di majalah fashion, karena kegilaanku terhadap film The Devil Wears Prada, dan karena kefasihanku dalam mengeja Celine, Givenchy, dan Balenciaga daripada membaca jurnal keuangan yang berisi EBIT dan EBITDA.
7 tahun hidup di kota ini membuatku benar-benar jatuh cinta dengan Jakarta. Meski setengah hariku kugunakan untuk mengutuki kemacetan jalanan yang makin parah, tapi saat aku jauh dari Jakarta, ada segenggam rindu yang memaksaku untuk segera kembali ke kamar nyamanku dan menikmati kepenatan di kota yang dipenuhi lampu dan proyek-proyek percepatan pembangunan itu.
Banyak kisah yang ingin aku ceritakan tentang Jakarta, tentang pekerjaan menakjubkan yang membawaku menjelajah berbagai fashion house di kota ini, tentang persahabatan manis penuh drama, juga tentang berbagai patah hati yang aku alami.
Bagiku Jakarta bukan hanya sekedar ibukota, lebih dari itu, Jakarta adalah rumah tempat aku akan selalu kembali, untuk menikmati kopi saat hujan, di tengah kemacetan dan cacian.
